Muktamar NU Digelar Agustus 2026, Bahas Kepentingan Bangsa

Selasa, 14 Juli 2026 | 22:23:31 WIB
Muktamar NU Digelar Agustus 2026, Bahas Kepentingan Bangsa.

JAKARTA - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf memastikan bahwa Muktamar Ke-35 NU telah siap dilaksanakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur pada tanggal 27 hingga 31 Agustus 2026.

“Insyaa Allah persiapan sudah dilakukan dengan baik,” ujar Gus Yahya saat konferensi pers di Gedung PBNU, Jakarta, Selasa.

Gus Yahya menuturkan penetapan tempat Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas telah memberikan rasa tenteram tersendiri bagi kalangan warga NU. Hal itu dikarenakan pesantren tersebut didirikan oleh salah seorang perintis NU yang juga merupakan figur ulama spiritual NU, yakni KH Abdul Wahab Chasbulllah.

“Sehingga Insyaa Allah dengan berkah daripada pesantren Tambakberas ini, Insysa Allah kita bisa mengharapkan muktamar yang lancar yang harmonis dan mengharapkan hasil-hasil yang sungguh membawa manfaat maslahah berkah bagi khususnya warga Nahdlatul Ulama, tapi tentu saja juga bagi bangsa yang kita cintai ini dan bagi kemanusiaan seluruhnya,” katanya.

Ia menggarisbawahi bahwa draf materi yang disiapkan untuk diperdebatkan dalam muktamar mengarah pada kemaslahatan bangsa serta kebaikan umat manusia global, yang di antaranya memuat rancangan peta jalan (roadmap) 25 tahun NU ke depan serta prinsip keulamaan.

Pihak PBNU pun bakal menyodorkan usulan guna mengkaji lebih dalam tentang nilai-nilai keulamaan. Poin usulan itu menjadi bagian dari kerangka pemikiran program penataan pesantren sebagai taktik terstruktur yang diaplikasikan oleh PBNU.

Di samping itu, Gus Yahya turut memaparkan pokok pembahasan mengenai perluasan program metode kaderisasi, tata kelola digital, hingga penguatan terobosan di sektor ekonomi.

Pada momentum tersebut, Gus Yahya mengutarakan terdapat progres mendasar yang sukses diraih sepanjang masa kepengurusan kali ini, yakni lewat implementasi sistem manajemen digital mulai dari struktur pusat hingga kepengurusan tingkat kecamatan atau majelis wakil cabang (MWC).

“Saya sudah dapat gambaran bahwa apabila dikembangkan dengan strategi tepat terkoneksi dalam sistem digital, daya jangkau kepada warga akan semakin efektif,” katanya.

Mekanisme digital ini, berlandaskan pandangannya, sanggup menyatukan kekuatan internal NU dengan optimal. Langkah ini dinilai akan turut menyokong keterpaduan bangsa secara makro mengingat persebaran warga NU berada di seantero pelosok Indonesia.

Halaman :

Terkini