Pendapatan DOID Tembus Rp12,40 Triliun dan Rugi Bersih Turun di 2026

Minggu, 02 Agustus 2026 | 23:47:01 WIB
Ilustrasi Karyawan BUMA Internasional Grup.

JAKARTA — PT BUMA Internasional Grup Tbk. (DOID) membukukan pendapatan konsolidasian sebesar US$693 juta atau setara Rp12,40 triliun (kurs JISDOR per 30 Juni 2026 Rp17.899 per dolar AS) pada semester I/2026.

Berdasarkan laporan keuangan akhir Juni 2026, capaian tersebut mengalami koreksi sebesar 5 persen (year on year/YoY).

Penurunan dipicu berakhirnya sejumlah kontrak operasional tambang, seperti di situs Binungan (Berau Coal), IBP (Resource Alam Indonesia), dan Burton (Bowen Coking Coal).

Meski top line terkoreksi, perseroan mampu membukukan pertumbuhan EBITDA sebesar 8 persen (YoY) dari US$64 juta menjadi US$69 juta.

Hal ini mencerminkan keberhasilan efisiensi operasional dan perbaikan margin bisnis.

Sementara itu, rugi bersih perseroan juga mengalami penyusutan 37 persen menjadi US$50 juta atau dari posisi US$80 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Selain pemulihan EBITDA, kemampuan perseroan dalam memangkas rugi bersih tersebut juga ditopang oleh sejumlah faktor non-operasional.

Di antaranya, keuntungan US$12 juta dari penjualan aset lahan milik Atlantic Carbon Group, Inc. (ACG), penurunan beban depresiasi dan amortisasi senilai US$19,3 juta, serta kenaikan keuntungan selisih kurs bersih sebesar US$11 juta.

Direktur BUMA International Group Iwan Fuad Salim menyampaikan bahwa perbaikan bottom line perseroan tecermin dari efisiensi yang telah dijalankan secara berkesinambungan sejak tahun lalu.

“Peningkatan EBITDA, perbaikan margin, dan penguatan arus kas bebas menunjukkan bahwa berbagai langkah yang telah kami jalankan selama setahun terakhir di seluruh area operasional, optimalisasi tenaga kerja, dan pemeliharaan, telah memberikan hasil,” ujar Iwan, dikutip pada Minggu (2/8/2026).

Dari sisi operasional, perseroan mencatatkan penurunan volume pengupasan lapisan tanah penutup sebesar 11 persen (YoY) menjadi 186 juta BCM, serta produksi batu bara yang turun 16 persen (YoY) menjadi 32 juta ton sepanjang semester I/2026.

Kendati demikian, langkah efisiensi berhasil menekan biaya tenaga kerja per BCM sebesar 7 persen (YoY).

Konsumsi bahan bakar per BCM juga turun 7 persen (YoY) seiring perbaikan kualitas jalan angkut dan keandalan armada tambang.

Keberhasilan menekan rugi bersih turut memperkuat posisi arus kas perseroan.

DOID membukukan arus kas bebas positif sebesar US$39 juta pada semester I/2026, melonjak dari posisi US$5 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Peningkatan arus kas ditopang oleh pemangkasan belanja modal atau capex hingga 67 persen (YoY) menjadi US$37 juta dari sebelumnya US$111 juta.

Iwan menyatakan bahwa perseroan akan terus mempertahankan efisiensi biaya dan disiplin alokasi modal untuk menjaga stabilitas kinerja hingga akhir tahun.

“Memasuki semester kedua, prioritas kami melanjutkan momentum operasional ini, menjaga disiplin biaya dan modal, serta mengelola eksposur harga bahan bakar seiring upaya kami memperkuat perolehan arus kas,” pungkasnya

Terkini