IDAI Ingatkan Risiko Stunting Dapat Dideteksi Dini Lewat Grafik WHO

Selasa, 04 Agustus 2026 | 05:12:02 WIB
Ilustrasi Kader PKK mengukur tinggi balita di Posyandu.

JAKARTA - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau bahwa potensi risiko stunting sanggup dideteksi sejak dini lewat pengawasan tumbuh kembang anak secara berkala memakai kurva pertumbuhan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Melalui langkah pemantauan tersebut, upaya intervensi medis dapat segera diterapkan sebelum hambatan pertumbuhan berkembang menjadi semakin parah.

Dokter Spesialis Anak sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI Dr. dr. I Gusti Ayu Trisna Windiani, Sp.A., Subsp. T.K.P.S.(K) menjelaskan, pemantauan pertumbuhan merupakan proses berkesinambungan yang mencakup pengukuran, pencatatan, pemetaan, hingga analisis hasil berat badan, tinggi badan, serta ukuran lingkar kepala.

"Dengan melakukan pemantauan, kami bisa menemukan risiko penyimpangan pertumbuhan. Kami bisa menilai arah pertumbuhan anak dari waktu ke waktu, bukan hanya sekali ukur," kata Trisna pada seminar daring IDAI, Selasa.

Menurutnya, kurun dua tahun awal kehidupan merupakan fase paling vital lantaran mematok mutu tumbuh kembang buah hati. Pada rentang usia dua tahun, perkembangan otak telah menembus angka sekitar 80 persen, lalu naik menjadi 85 persen saat menginjak tiga tahun, dan menyentuh angka 95 persen di usia enam tahun.

Oleh sebab itu, indikasi kelainan pertumbuhan mesti dikenali sedini mungkin agar tindakan medis, pemenuhan gizi, stimulasi, maupun proses rujukan dapat segera direalisasikan sesuai kebutuhan anak.

Trisna menerangkan bahwa petunjuk awal munculnya gangguan pertumbuhan ditandai oleh melambatnya pertambahan berat badan atau weight faltering. Gejala tersebut dapat menjadi pemicu awal tertahannya pertumbuhan fisik linear yang memperbesar risiko stunting jika tidak ditangani segera.

"Awalnya memang underweight dulu. Weight faltering dulu," ujarnya.

Ia menekankan bahwa kondisi stunting tidak muncul secara mendadak. Hambatan ini pada umumnya diawali oleh tersendatnya kenaikan berat badan hingga akhirnya melorot ke bawah ambang normal atau underweight.

Jika berlanjut menjadi defisit gizi berat tanpa penanganan memadai, laju pertumbuhan tinggi badan anak akan terganggu hingga berujung stunting, yakni kondisi kala tinggi badan menurut usia berada di bawah minus dua standar deviasi.

Lebih lanjut, Trisna mengingatkan bahwa evaluasi fisik anak tidak cukup dikerjakan satu kali saja, melainkan harus mencermati arah tren dari waktu ke waktu. Para orang tua dapat memanfaatkan kurva pertumbuhan standar WHO yang tercantum pada Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) guna memantau perkembangan fisik secara konsisten.

"Lakukan pemantauan pertumbuhan ini secara rutin dan berkala, sehingga kami bisa melakukan deteksi terhadap potensi masalah kesehatan maupun pertumbuhan, dan melakukan pencegahan maupun intervensi," kata Trisna.

Adapun kurva pertumbuhan standar WHO merupakan instrumen grafik rujukan global demi mengawal tumbuh kembang anak usia 0 hingga 5 tahun berbasis indikator berat badan, tinggi badan, serta indeks massa tubuh. Grafik ini menggunakan parameter Z-score guna menentukan apakah kondisi gizi anak tergolong normal, kurang, atau justru berlebih.

Terkini