Kimia Farma Cetak Laba Rp54,07 Miliar Berkat Transformasi Bisnis

Rabu, 05 Agustus 2026 | 03:31:02 WIB
Salah satu apotek kimia farma milik PT Kimia Farma Tbk.

JAKARTA - PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) berhasil membalikkan kinerja keuangan ke zona positif pada semester I/2026. BUMN farmasi tersebut membukukan laba bersih unaudited sebesar Rp54,07 miliar, berbalik dari posisi rugi bersih Rp135,61 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan publikasi laporan keuangan semester I/2026, Kimia Farma mengantongi penjualan neto mencapai Rp4,70 triliun, atau tumbuh 7,6 persen secara tahunan (year on year/YoY) dibanding perolehan semester I/2025 yang senilai Rp4,36 triliun.

Dari sisi operasional, perseroan mencatatkan lonjakan laba usaha hingga 111,3 persen menjadi Rp152,21 miliar, melonjak signifikan dibanding Rp72,01 miliar pada rentang yang sama tahun lalu.

Direktur Utama KAEF Djagad Prakasa Dwialam mengutarakan bahwa pemulihan kinerja ini menjadi sinyal positif atas agenda transformasi bisnis yang tengah dijalankan perusahaan.

Menurutnya, dukungan dan arahan Danantara terus memperkokoh pilar bisnis melalui optimalisasi portofolio, efisiensi operasional, penguatan lini produksi, serta perbaikan tata kelola.

"Kinerja positif pada Semester I/2026 menunjukkan bahwa proses transformasi berjalan ke arah yang lebih sehat dan terukur,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (5/8/2026).

Peningkatan profitabilitas Kimia Farma tak sekadar digerakkan oleh pertumbuhan penjualan, tetapi juga bersumber dari keberhasilan perseroan memacu efisiensi operasional.

Capaian tersebut tecermin dari rasio beban usaha terhadap penjualan yang berhasil ditekan menjadi 33,2 persen pada semester I/2026, membaik dari posisi 34,2 persen pada semester I/2025.

Kendati sukses menorehkan perbaikan kinerja, perseroan tidak menampik bahwasanya tantangan eksternal masih membayangi sepanjang kuartal II/2026.

Eskalasi geopolitik di wilayah Timur Tengah turut memicu kenaikan harga bahan baku beserta bahan kemasan yang sebagian besar masih bergantung pada jalur impor. Kondisi ini memberi tekanan pada beban produksi dan rantai pasok industri farmasi nasional.

Menyikapi risiko tersebut, Kimia Farma mengeksekusi beragam langkah mitigasi, mulai dari efisiensi lanjutan, pengetatan kontrol biaya, hingga penyesuaian harga secara selektif pada beberapa item produk.

Djagad melanjutkan, kondisi bisnis yang makin sehat ini memberikan ruang gerak lebih luas bagi perseroan untuk menopang ketersediaan obat nasional, meningkatkan mutu layanan kesehatan, serta mensukseskan program prioritas pemerintah.

Perseroan bakal memaksimalkan fasilitas pabrik di Jakarta dan Banjaran sebagai basis utama produksi untuk sekitar 50 produk unggulan, termasuk jajaran obat esensial seperti Amlodipine, Codeine, Morfina, dan Abacavir guna mendukung kemandirian industri bahan baku obat (BBO) nasional.

Pada sektor hulu, Kimia Farma memperkuat peran dua anak usahanya, yaitu Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP) dan PT Sinkona Indonesia Lestari (SIL) dalam pengembangan bahan baku obat lokal.

Saat ini, KFSP telah mengamankan 19 bahan baku obat yang mengantongi sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari BPOM, dengan 18 di antaranya telah meraih sertifikasi halal dari BPJPH. Perseroan juga memacu lokalisasi produk prioritas yang sebelumnya bergantung pada impor.

Penguatan jaringan hulu ini disokong oleh ekosistem layanan kesehatan yang terintegrasi di sektor hilir. Hingga Juni 2026, Kimia Farma mengoperasikan lebih dari 1.000 jaringan apotek, 350 klinik, serta 60 laboratorium di seluruh Indonesia.

Pada paruh kedua tahun ini, perseroan membidik pemulihan kinerja secara berkelanjutan sekaligus memperkuat kontribusi pada sistem kesehatan nasional.

“Fokus kami tetap pada penguatan bisnis yang sehat, ketersediaan obat, peningkatan layanan kesehatan, serta dukungan terhadap program prioritas nasional,” ujarnya.

Terkini