Penelitian Jelaskan Penyebab Percakapan Langsung Terasa Terhubung

Rabu, 05 Agustus 2026 | 06:46:08 WIB
Ilustrasi dua orang mengobrol.

JAKARTA - Sebuah riset yang dipublikasikan dalam jurnal Social Cognitive and Affective Neuroscience mengungkapkan bahwa percakapan yang sanggup membuat dua orang merasa dekat tidak cuma dipengaruhi oleh topik bahasan, melainkan juga oleh keselarasan aktivitas otak saat keduanya saling berinteraksi.

Menyadur laporan Psychology Today pada Selasa (4/8), penelitian yang digarap oleh tim peneliti University of California, Los Angeles (UCLA) tersebut melibatkan 70 pasang partisipan yang sebelumnya belum pernah saling kenal.

Sepanjang sesi mengobrol, setiap peserta mengenakan perangkat pemindai otak functional near-infrared spectroscopy (fNIRS) guna memantau dinamika aliran darah di permukaan otak secara bersamaan. Separuh kelompok diminta berdiskusi seputar topik kasual, seperti cuaca, acara televisi favorit, atau pilihan destinasi antara pantai dan gunung. Sementara itu, kelompok sisanya diberi topik yang lebih mendalam, seperti menggambarkan definisi hari yang sempurna, pengalaman menangis di hadapan orang lain, hingga impian yang belum terwujud.

Pasca sesi dialog berakhir, seluruh peserta diminta memberikan penilaian mengenai seberapa dekat rasa keterhubungan yang mereka rasakan dengan lawan bicara masing-masing.

Hasil riset mengindikasikan bahwa perbincangan yang lebih personal cenderung memicu ikatan emosional yang lebih kuat ketimbang obrolan ringan. Akan tetapi, rekaman data otak menunjukkan faktor utama pencetus rasa keterikatan tersebut adalah terjadinya sinkronisasi pada default mode network (DMN), yakni area jaringan otak yang bertugas memahami orang lain, memaknai interaksi sosial, serta menerjemahkan isi pikiran seseorang.

Para peneliti mendapati bahwa tingkat keselarasan paling kuat bermuara pada area right temporoparietal junction, bagian otak yang mengontrol kemampuan melihat sebuah kondisi dari sudut pandang lawan bicara. Semakin padu aktivitas di area tersebut, makin besar pula peluang kedua individu merasakan ikatan setelah berbincang.

Walau demikian, riset ini turut membuktikan bahwa tema perbincangan bukanlah satu-satunya variabel penentu. Sekitar 28 persen pasangan peserta melaporkan tingkat kedekatan yang tidak sejalan dengan kategori topik yang ditugaskan. Sebagian pasangan yang hanya membahas topik kasual tetap mampu merasakan keterikatan, sedangkan beberapa peserta yang mendapat tema mendalam justru gagal membangun kedekatan.

Menurut pandangan peneliti, pertanyaan yang sifatnya personal memang dapat membuka peluang terciptanya rasa terhubung, namun bukan penentu mutlak. Hal yang terpenting adalah apakah kedua pihak mampu menyelaraskan alur berpikir, menangkap sudut pandang, serta membangun pemahaman bersama selama percakapan berlangsung.

Terkini