ABM Investama Catat Laba Naik 42 Persen Berkat Produksi Batu Bara

Jumat, 07 Agustus 2026 | 00:30:01 WIB
PT ABM Investama Tbk.

JAKARTA - PT ABM Investama Tbk. (ABMM) berhasil mencatatkan performa bisnis yang tetap tangguh sepanjang semester I 2026 di tengah dinamika industri pertambangan serta lonjakan harga bahan bakar akibat gejolak geopolitik global.

Peningkatan volume produksi batu bara, terutama yang bersumber dari area tambang di Aceh, menjadi penopang utama pertumbuhan profitabilitas perseroan.

Berdasarkan rilis laporan keuangan konsolidasian per 30 Juni 2026, entitas bersematan kode saham ABMM ini membukukan pendapatan senilai US$506,2 juta atau setara Rp9,06 triliun (berpatokan pada kurs JISDOR Rp17.899 per dolar AS).

Capaian omzet tersebut sejatinya melandai tipis 0,1 persen dari perolehan periode yang sama pada tahun sebelumnya yakni sebesar US$506,9 juta.

Kendati pergerakan pendapatan relatif mendatar, ABM sukses meraup laba bersih mencapai US$39,9 juta atau sekitar Rp714,17 miliar, yang berarti melonjak 41,9 persen secara tahunan (year on year/YoY).

Di lain sisi, perolehan EBITDA disesuaikan (LTM) terangkat 6,4 persen YoY hingga menyentuh angka US$346,9 juta.

Direktur ABM Investama Hans Manoe menyampaikan bahwa peningkatan profitabilitas pada paruh pertama tahun ini diraih berkat keberhasilan memacu produksi tambang batu bara sekaligus menstabilkan lini bisnis kontraktor pertambangan.

"Perseroan berhasil mencatatkan peningkatan profitabilitas pada periode ini yang didorong oleh keberhasilan peningkatan produksi operasi tambang batu bara dan stabilisasi bisnis kontraktor pertambangan," ujarnya dalam keterangan resminya yang dikutip, Jumat (7/8/2026).

Dia menambahkan bahwa di tengah kondisi industri yang dibayangi beragam tantangan, pergerakan harga batu bara yang masih kondusif memberikan peluang bagi perseroan untuk mengoptimalkan keunggulan operasional.

Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, volume pengerjaan coal getting perseroan terangkat 14,2 persen YoY menuju 17,9 juta ton, yang utamanya disokong peningkatan produksi di lokasi proyek Kalimantan Selatan.

Sebaliknya, capaian pengerjaan overburden removal terkikis 12,6 persen YoY menjadi 98,0 juta bcm pada kurun semester I 2026.

"Operasi pertambangan batu bara perseroan di Aceh terus mengalami peningkatan produksi yang menghasilkan kenaikan volume penjualan secara kuartalan, sehingga berkontribusi terhadap peningkatan profitabilitas di berbagai unit usaha dalam rantai nilai pertambangan," imbuhnya.

Di luar sektor penggalian tambang, bidang usaha logistik turut mengantongi torehan positif.

Salah satu entitas anak ABM berhasil memperoleh kontrak jasa logistik jangka panjang dari konsumen kategori A-list, yang diproyeksikan bakal memperkokoh ketahanan operasional dan diversifikasi lini pendapatan.

Menatap periode semester II 2026, manajemen ABM memprediksi tren kenaikan produksi dari area tambang Aceh akan terus berlanjut.

Perseroan juga tengah merampungkan pengurusan izin aset tambang batu bara baru milik PT Piranti Jaya Utama di Kalimantan Tengah yang ditargetkan beres pada penghujung tahun ini.

Ke depan, pengoperasian aset anyar tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan basis produksi sekaligus menguatkan integrasi rantai nilai pertambangan perseroan.

Pada saat bersamaan, ABM konsisten melanjutkan taktik diversifikasi secara cermat lewat ekspansi bisnis non-batu bara yang masih memiliki keterkaitan dengan lini bisnis inti, termasuk memperlebar portofolio layanan logistik.

"Kami tetap fokus memperkuat ekosistem bisnis melalui perolehan kontrak-kontrak strategis pada segmen logistik, dengan tetap memperhatikan kepatuhan terhadap dinamika regulasi dan menjalankan strategi secara disiplin guna mendukung pertumbuhan berkelanjutan," terangnya.

Terkini