Waspadai Gejala Diabetes Jika Anak Sering Merasa Haus dan Juga Lapar

Jumat, 07 Agustus 2026 | 02:30:02 WIB
Ilustrasi Gejala Diabetes Pada Anak

JAKARTA - Ketika anak menderita sakit, orangtua dituntut untuk cermat mendeteksi setiap perubahan fisik maupun perilaku anak demi mengidentifikasi potensi penyakit sejak dini dan membawanya ke dokter bila diperlukan.

Langkah kewaspadaan yang sama juga wajib diterapkan dalam mendeteksi ancaman penyakit diabetes pada anak.

Ketua Perkumpulan Edukator Diabetes Indonesia (PEDI) dr. Ida Ayu Made Kshanti, Sp.PD-KEMD membeberkan bahwa secara umum diabetes pada kelompok anak terbagi ke dalam dua klasifikasi besar, yakni diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2.

"Kalau tipe 1 itu adalah diabetes yang memang sejak bayi mungkin ya, karena satu dan lain hal tubuhnya tidak bisa memproduksi insulin," papar dr. Ida Ayu dalam diskusi media Kalbe bertajuk "End-to-End Diabetes Ecosystem Support: Dari Pencegahan hingga Manajemen Jangka Panjang" pada Selasa (04/08).

Sementara itu, diabetes tipe 2 umumnya terjadi tatkala organ tubuh sejatinya masih sanggup menghasilkan insulin, namun tingkat sensitivitas atau respons tubuh terhadap insulin tersebut sudah merosot.

“Hal (faktor) yang paling sering adalah karena kelebihan berat badan atau obesitas dan itu sekarang mulai banyak pada pasien anak-anak,” tutur dr. Ida.

Apa saja gejala diabetes pada anak?

Sering haus dan buang air kecil.

Salah satu indikasi yang paling kerap muncul menurut dr. Ida adalah anak mendadak menjadi lebih gampang merasa haus serta lebih sering buang air kecil.

"Gula darah yang tinggi menyebabkan pasien itu selalu berkemih. Respons tubuh adalah kalau berkemih, begitu berkurang sedikit cairan, maka sinyal haus akan datang," ungkap dr. Ida.

Pergeseran kebiasaan ini terkadang terkesan sepele.

Misalnya, anak yang mulanya tidak pernah terbangun di malam hari tiba-tiba jadi beberapa kali pergi ke kamar mandi atau lebih cepat menghabiskan air di botol minumnya.

Makan lebih banyak dari biasanya.

Gejala lain yang terbilang khas yakni melonjaknya nafsu makan secara signifikan.

"Perubahan perilaku anak misalnya dalam hal makan harus sudah diperhatikan," sebut dr. Ida.

Orangtua kerap mengira anak yang berbadan gemuk dan lahap menyantap makanan sebagai indikator positif dari pola makan yang sehat.

Akan tetapi, bila pola konsumsi berubah drastis, terlebih bila dibarengi masalah obesitas serta riwayat diabetes dalam keluarga, kondisi tersebut sangat patut diwaspadai.

Berat badan turun atau mudah lelah.

Sewaktu anak mengonsumsi makanan dalam porsi lebih banyak tetapi orangtua justru mendapati berat badannya merosot tanpa dipicu aktivitas berintensitas tinggi seperti olahraga, hal itu bisa menjadi sinyal adanya serangan diabetes.

Di samping itu, gejala juga sanggup berupa munculnya rasa lelah berlebih.

Contohnya, anak terlihat lebih cepat letih, lemas, atau tidak bersemangat seperti biasanya.

"Kok sekarang beda? Itu sebenarnya sinyal tubuh. Jadi kalau ada sedikit aja perubahan dari yang biasanya tidak pernah kami rasakan, kemudian apalagi kalau kami menyadari kami punya faktor risiko, carilah penjelasannya," ujar dr. Ida.

Bagaimana penanganannya?

Skema penanganan diabetes pada pasien anak sangat bergantung pada varian jenis diabetes yang diidapnya.

Pada kasus diabetes tipe 1, asupan insulin berperan sebagai terapi utama dan wajib diberikan sepanjang hayat.

Anak diharuskan mendapat suntikan insulin tiap kali mengonsumsi asupan makanan, atau dalam situasi tertentu menggunakan alat insulin pump.

"Kalau tipe satu, pasti insulin sudah harga mati. Jadi, insulin harus diberikan setiap ada asupan makan," jelas dr. Ida.

Selain pemberian terapi medis, faktor edukasi juga memegang andil krusial.

Para orangtua perlu menguasai cara menghitung kebutuhan kalori harian, menentukan takaran dosis insulin, hingga tanggap membaca perubahan kondisi kesehatan anak.

Sementara pada kasus diabetes tipe 2, perbaikan pola hidup menjadi langkah awal penanganan.

Indeks berat badan wajib dikendalikan, pola konsumsi diperbaiki, serta intensitas aktivitas fisik ditingkatkan.

Pada kondisi khusus, dokter juga dapat meresepkan obat pendukung yang disesuaikan dengan kriteria umur dan kondisi anak.

dr. Ida pun menekankan bahwa konsistensi perubahan gaya hidup pada anak ini wajib dieksekusi secara berkelanjutan, bukan sekadar respons sesaat.

"Harus sustainable, jadi enggak sekali-dua kali aja, atau sebulan-dua bulan,” pungkasnya.

Terkini