Rahasia Es Cendol Elizabeth Bertahan 5 Dekade di Kota Bandung

Jumat, 07 Agustus 2026 | 02:50:32 WIB
Es Cendol Elizabeth [FOTO: NET].

JAKARTA - Es Cendol Elizabeth mengokohkan keberadaannya sebagai ikon kuliner legendaris di Kota Bandung yang sanggup bertahan melintasi berbagai generasi. Sejak diawali H. Rohman pada 1972, olahan minuman penyegar ini konsisten mempertahankan keaslian rasa yang menjadi daya pikat utama bagi para penikmatnya.

Roda perjalanan usaha Es Cendol Elizabeth diawali dari skala mikro. Pada masa itu, H. Rohman menjajakan dagangannya memakai gerobak dorong keliling. Nur Hidayah, putri kedua H. Rohman, menceritakan kembali liku-liku perjuangan sang ayah dalam meletakkan batu pertama usaha tersebut.

"Bapak dulu sudah merintis berjualan es cendol sejak tahun 1972. Saat itu bapak masih menggunakan gerobak keliling," kata Nur Hidayah.

Beranjak ke era 1980-an, H. Rohman sering kali mangkal di pelataran rumah Eli, pemilik Toko Tas Elizabeth di Jalan Otto Iskandardinata, Bandung. Hubungan karib di antara keduanya menjadi cikal bakal hadirnya sebutan Es Cendol Elizabeth.

Nur menerangkan bahwa Eli acap kali menitipkan produk tas reject kepada H. Rohman untuk dijajakan. Malahan, Eli turut membantu mencatat rekap pesanan lantaran keterbatasan baca-tulis H. Rohman kala itu. Lantaran nota pesanan sering ditulis menggunakan bon Toko Tas Elizabeth, Eli memberi saran agar usaha jual es cendol tersebut memakai merek Elizabeth.

"Inilah asal usul nama Cendol Elizabeth," ujar Nur.

Ekspansi dan Inovasi

Tingkat kepopuleran sajian ini kian melejit hingga pada 1998 gerai utama Es Cendol Elizabeth resmi dibuka di Jalan Inhoftank No. 64, Bandung. Kini, lini usaha tersebut kian berkembang dengan sokongan tiga cabang utama di Inhoftank, Majalaya, serta Tasikmalaya.

Di samping memelihara konsep tradisional, pihak manajemen mulai menjalankan inovasi varian produk lewat Es Cendol Queen Elizabeth yang dijajakan pada sejumlah pusat perbelanjaan. Varian ini membidik pangsa pasar modern melalui modifikasi racikan bahan baku.

"Kami menjual Cendol Queen Elizabeth khusus per porsi alias cup, kuah santannya diganti dengan susu," ungkapnya.

Keberhasilan Es Cendol Elizabeth eksis selama lebih dari lima dekade tidak terlepas dari komitmen dalam merawat mutu produk. Nur menegaskan, di tengah sengitnya persaingan industri kuliner saat ini, konsistensi racikan rasa tetap dijadikan prioritas utama.

"Dari awal berdiri sampai sekarang, kami selalu mempertahankan kualitas rasa yang tidak berubah," tuturnya.

Saat ini, Es Cendol Elizabeth menyajikan beragam opsi varian dengan patokan harga yang terjangkau. Porsi es cendol original dilepas Rp7.000 per gelas, sementara pilihan rasa nangka serta alpukat masing-masing dilego Rp10.000 dan Rp12.000 per cup. Selain sajian minuman, gerai pusat juga menjajakan aneka menu makanan, seperti es goyobod, batagor kering, hingga baso tahu dalam rentang harga Rp20.000 sampai Rp30.000.

Terkini