Anak Titipan Daycare Lebih Berprestasi namun Berisiko Emosional

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:20:31 WIB
Ilustrasi Anak Daycare.

JAKARTA - Penelitian terbaru di Singapura mengungkapkan bahwa anak yang mendapatkan pengasuhan pihak lain, seperti dititipkan di lokasi daycare, cenderung menampilkan prestasi akademik lebih unggul saat memasuki usia prasekolah. Meski demikian, ada tantangan tersendiri yang wajib dihadapi para orang tua.

Berdasarkan temuan yang sama, anak yang kerap dititipkan dalam kurun 18 bulan pertama usianya memiliki kecenderungan lebih tinggi menghadapi masalah perilaku serta emosional.

Mengutip laporan The Independent Singapore News, riset ini merupakan bentuk kerja sama antara Institute for Human Development and Potential (IDP) di bawah Agency for Science, Technology and Research (A*STAR) bersama Yong Loo Lin School of Medicine dari National University of Singapore. Hasil penelitian tersebut resmi dipublikasikan dalam jurnal internasional Child Development edisi Juni 2026.

Cakupan riset ini menyasar pola pengasuhan non-orang tua di area penitipan anak seperti daycare, hingga pengasuhan domestik oleh pihak kerabat atau asisten rumah tangga.

Proses analisis data melibatkan sebanyak 2.580 anak beserta keluarga mereka. Pengumpulan data dilakukan melalui dua tahap survei pada kurun waktu 2018-2019 dan tahun 2021.

Para peneliti mengemukakan bahwa anak-anak yang mendapatkan pengasuhan selain orang tua kandung pada 18 bulan awal kehidupannya menguasai kemampuan membaca serta matematika lebih unggul saat memasuki jenjang prasekolah. Capaian ini tercatat melebihi anak yang diasuh penuh oleh orang tua mereka.

Akan tetapi, keunggulan akademik tersebut diiringi tantangan baru bagi orang tua terkait dengan kendala perilaku dan tingkat kematangan emosi anak. Anak yang diasuh non-orang tua memperlihatkan perilaku eksternalisasi seperti hiperaktif dan tindakan tidak pantas, serta perilaku internalisasi berupa rasa cemas dan kecenderungan menarik diri dari pergaulan sosial.

Hasil studi turut menyoroti kondisi psikologis para orang tua. Mereka yang mempercayakan pengasuhan bayi kepada pihak lain cenderung mencatatkan tingkat stres pengasuhan lebih tinggi saat anak memasuki usia prasekolah.

Di samping itu, para orang tua lebih sering menerapkan pola kedisiplinan yang bersifat hukuman, seperti melontarkan amarah, memberikan sanksi fisik, hingga mencabut hak maupun privilese anak.

Peneliti mengindikasikan bahwa temuan ini memperlihatkan sebagian orang tua kerap mengalami kesulitan menghadapi tuntutan pengasuhan. Kondisi tersebut berpotensi memicu tingkat stres yang memengaruhi respons mereka terhadap dinamika perilaku harian anak.

Lonjakan stres pada orang tua serta kerasnya metode pendisiplinan berbanding lurus dengan peningkatan risiko timbulnya kendala perilaku pada anak.

Riset ini turut mendapati pola lain berkaitan dengan momen serta durasi pengasuhan oleh pihak lain. Anak yang baru mendapatkan pengasuhan non-orang tua setelah berusia 18 bulan lebih rentan mengalami kendala perilaku internalisasi.

Sementara itu, anak yang diasuh oleh pihak luar dalam jangka waktu lebih panjang memiliki kecenderungan lebih besar menunjukkan gangguan perilaku eksternalisasi.

Terkini