Danantara Genjot Investasi Material Maju Nasional

Selasa, 11 Agustus 2026 | 01:20:01 WIB
Ilustrasi - Pekerja berdiri di area pabrik baterai kendaraan listrik PT Hyundai LG Industry (HLI) [FOTO: NET].

JAKARTA - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mengarahkan fokus pada transfer teknologi, pengembangan bersama, serta pelibatan perguruan tinggi dan lembaga riset dalam penanaman modal material maju guna meningkatkan kapabilitas sektor industri serta teknologi nasional.

Managing Director Industrialization Danantara Ardy Muawin menyatakan bahwa strategi investasi tidak sekadar memperhitungkan aspek biaya dan durasi, melainkan juga dampak positifnya terhadap pertumbuhan industri domestik.

“Konsep kami dalam mengajak mitra investasi bukan hanya soal biaya dan waktu, tapi juga industrial development. Kami ingin ada transfer teknologi, co-development, hingga keterlibatan universitas dan lembaga riset seperti BRIN,” ujar Ardy dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa (11/8/2026).

Menurut dia, penguasaan material maju krusial agar Indonesia bertransformasi dari negara yang sekadar mengandalkan limpahan sumber daya alam menjadi kawasan dengan daya saing industri serta teknologi yang jauh lebih tangguh.

Pengembangan material maju tersebut berjalan beriringan dengan tren peningkatan investasi hilirisasi di Tanah Air.

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi hilirisasi menyentuh angka Rp300,1 triliun sepanjang semester I-2026, atau setara dengan 29,7 persen dari total keseluruhan investasi nasional sebesar Rp1.010,6 triliun.

Pada kuartal II-2026 sendiri, realisasi penanaman modal hilirisasi membukukan angka Rp152,7 triliun. Komoditas bauksit menduduki porsi terbesar dengan nilai Rp40,1 triliun, diikuti nikel senilai Rp29,4 triliun, tembaga sebesar Rp16,7 triliun, besi serta baja senilai Rp13,2 triliun, dan pasir silika sebesar Rp4 triliun.

Dari sisi potensi, Indonesia dinilai memiliki cadangan sumber daya yang amat masif untuk mendukung sektor tersebut. Badan Geologi Kementerian ESDM, dengan mengacu pada data United States Geological Survey (USGS), melaporkan bahwa Indonesia memegang cadangan nikel terbesar di muka bumi dengan penguasaan lebih dari 40 persen dari total cadangan global.

CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani memaparkan bahwa komoditas seperti nikel, bauksit, tembaga, timah, serta unsur tanah jarang merupakan komponen esensial bagi kemajuan teknologi modern, meliputi baterai kendaraan listrik, semikonduktor, sektor pertahanan, hingga penyediaan energi bersih.

Dalam pandangan Rosan, pengelolaan hasil mineral mesti melangkah lebih jauh melampaui fase ekstraksi mentah menuju penciptaan material serta produk teknologi dengan nilai ekonomis yang jauh lebih tinggi di dalam negeri.

Kami sepakat bahwa sudah saatnya Indonesia naik kelas dalam rantai nilai material maju,” ujar Rosan.

Ia menambahkan, arah kebijakan investasi Danantara tidak hanya dipatok demi mendulang keuntungan ekonomi semata, melainkan juga untuk memperkuat ketahanan industri nasional, membuka lapangan kerja bermutu, serta mengawal pembangunan yang berkelanjutan.

“Ini sudah menjadi komitmen Danantara agar investasi menciptakan nilai bagi bangsa,” ucapnya.

Salah satu langkah konkrit yang telah direalisasikan adalah penandatanganan nota kesepahaman kerja sama pengembangan material maju dan hilirisasi mineral kritis di antara PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID, PT Len Industri (Persero), PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, serta PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) (Persero).

Inisiatif kolaboratif tersebut diproyeksikan untuk mengoptimalkan suplai serta penyerapan mineral kritis bagi kebutuhan industri strategis nasional, sekaligus merintis pengembangan teknologi mandiri guna membangun ekosistem material maju domestik.

Pakar teknologi sekaligus Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Ilham Akbar Habibie berpandangan bahwa penguasaan teknologi wajib berjalan beriringan dengan peningkatan mutu sumber daya manusia (SDM) agar Indonesia mampu mandiri secara teknologi.

“Pembangunan teknologi harus berjalan beriringan dengan pengembangan kualitas SDM. Dengan SDM semakin kuat, Indonesia akan memiliki kemampuan untuk mengembangkan teknologi secara mandiri dan tidak terus bergantung pada produk maupun pengetahuan dari negara lain,” ujar Ilham.

Lebih lanjut, ia menggarisbawahi bahwa limpahan kekayaan alam saja tidak memadai untuk mendongkrak status suatu bangsa menjadi negara maju tanpa ditopang oleh keahlian dalam mengaplikasikan, melembagakan, serta menguasai teknologi.

“Industri pada akhirnya sangat bergantung pada kemampuan suatu negara untuk menerapkan, melembagakan, dan menguasai teknologi. Kalau kami tidak bisa menerapkan, melembagakan, menguasai teknologi, kami tidak akan menjadi negara maju,” ungkapnya.

Dirinya menyimpulkan bahwa pergeseran paradigma dari ekonomi berbasis eksploitasi mentah menuju sektor industri teknologi mutlak diperlukan agar kekayaan mineral mampu mendatangkan nilai tambah optimal, memperkokoh kemandirian bangsa, dan menghadirkan kemakmuran yang merata bagi publik.

Terkini