Deretan 5 Mitos Gerhana Matahari di Eropa dari Yunani Kuno hingga Viking

Selasa, 11 Agustus 2026 | 01:59:01 WIB
Ilustrasi Gerhana Matahari.

JAKARTA — Fenomena gerhana matahari yang berlangsung besok, 12 Agustus 2026, menjadi peristiwa langka yang kembali menyedot perhatian publik global.

Peristiwa langit ini menandai gerhana matahari total pertama di benua Eropa sejak 1999 atau 27 tahun silam. Lintasan gerhana total ini membentang melewati Greenland, Islandia, Samudra Atlantik, sampai area utara Spanyol.

Pesona gerhana matahari memang memesona secara visual, sekaligus memantik rasa takut dan takjub sejak era purbakala. Tak heran jika pelbagai peradaban melahirkan kisah, mitologi, hingga tradisi di seputar gerhana.

Sampai sekarang, mitos gerhana matahari di Eropa kerap diperbincangkan karena memotret ikhtiar manusia purba memahami fenomena alam. Berikut lima mitos tersohor yang menarik dicermati:

Gerhana dianggap tanda kemarahan para dewa di Yunani Kuno Dalam peradaban Yunani Kuno, peristiwa gerhana matahari kerap ditafsirkan sebagai firasat buruk. Masyarakat kala itu meyakini bahwa jajaran dewa sedang murka kepada manusia.

Menukil BBC Sky at Night Magazine, istilah "eclipse" dipercaya berasal dari kosakata Yunani yang bermakna "ditinggalkan", seolah sang surya pergi meninggalkan bumi beserta penghuninya.

Cara pandang ini memperlihatkan betapa dominannya doktrin kepercayaan terhadap gejala alam di masa lampau. Salah satu literatur kuno bahkan mencatat gerhana matahari pernah mewarnai tahun 647 SM.

Bangsa Viking percaya matahari dan bulan dikejar serigala Mitos gerhana matahari di Eropa yang tak kalah masyhur berasal dari bangsa Viking di kawasan Skandinavia, wilayah yang kini melingkupi Norwegia, Denmark, serta Swedia.

Menurut mitologi lokal, dua serigala raksasa bernama Skoll dan Hati tiada henti memburu matahari dan bulan di angkasa. Gerhana pun terjadi tatkala kedua binatang buas itu berhasil mendekati buruannya. Untuk mengusir keduanya, warga Viking akan membuat gaduh agar serigala menjauh.

Di Italia, bunga yang ditanam saat gerhana dipercaya lebih indah Tidak semua mitos gerhana matahari di Eropa berkonotasi buruk atau diasosiasikan dengan petaka. Di Italia, gerhana justru dipandang membawa keberkahan.

Menukil The Weather Network, masyarakat Italia memegang kepercayaan unik bahwa bibit yang ditanam sewaktu gerhana matahari bakal memekarkan bunga dengan warna lebih cerah dan memesona.

Gerhana dikaitkan dengan kematian Kaisar Louis di Prancis Pada era abad pertengahan, gerhana matahari sempat menebar ketakutan meluas di Prancis. Salah satu riwayat termasyhur yakni wafatnya Kaisar Louis, putra Charlemagne, usai menyaksikan fenomena gerhana pada 5 Mei 840.

Kisah menyebutkan sang kaisar sedemikian terguncang melihat langit mendadak gelap selama lima menit hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir lantaran ketakutan.

Stonehenge diduga punya kaitan dengan prediksi gerhana Di Inggris, situs kuno Stonehenge kerap dihubungkan dengan kapabilitas manusia purba dalam membaca gerak-gerik benda langit. Sejumlah sejarawan dan astronom meyakini para pembangunnya telah memahami siklus Bulan dan Matahari.

Konstruksi batu raksasa itu disinyalir tidak cuma berfungsi sebagai monumen peringatan, melainkan juga wahana pemantauan astronomi sederhana. Sejumlah peneliti bahkan meyakini Stonehenge sanggup membantu memprediksi kemunculan gerhana.

Demikian deretan mitos gerhana matahari di belahan Eropa. Fenomena ini selalu menyulut decak kagum sekaligus rasa cemas. Kendati sains modern telah menguak tabir penyebab gerhana, mitos lama tetap bernilai sebagai bagian dari warisan kebudayaan.

Menjelang hadirnya gerhana matahari besok, riwayat-riwayat sejarah ini mengingatkan kami bahwa manusia sejak era purba senantiasa berikhtiar memahami rahasia langit melalui pendekatan yang selaras dengan zamannya.

Terkini