Penyebab Harga Telur dan Ayam Naik, Mendag Singgung Program MBG

Selasa, 18 Agustus 2026 | 22:25:32 WIB
Pedagang menata telur ayam di salah satu pasar [FOTO: NET].

JAKARTA — Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengungkapkan lonjakan harga telur dan daging ayam salah satunya terdorong oleh penyerapan komoditas tersebut untuk kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memaparkan bahwa rerata harga nasional telur saat ini berada di kisaran Rp26.000 per kilogram. Banderol tersebut dinilainya masih mendekati Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan sebesar Rp30.000 per kilogram, sekalipun terdapat beberapa wilayah yang mencatatkan patokan harga lebih tinggi.

“Telur itu sekarang harga rata-rata nasional itu Rp26.000 [per kilogram]. Memang ada yang tinggi, kemarin kami cek di SP2KP [Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok] di Papua Pegunungan, Papua Pegunungan itu kan memang distribusinya tidak semudah dengan tempat yang lain. Jadi kecenderungan [harga] masih tinggi walaupun kami terus berusaha untuk mensuplai dari daerah yang surplus. Tapi sebenarnya rata-rata nasionalnya itu masih mendekati HET,” kata Budi saat ditemui di Kantor Kemendag, Jakarta Pusat, Senin (17/8/2026).

Sementara itu, rata-rata harga daging ayam secara nasional kini menginjak Rp38.000 per kilogram, atau masih bertengger di bawah HET Rp40.000 per kilogram. Meski begitu, Budi tak menampik bahwa grafik harga daging ayam mengalami pergerakan naik dari yang semula berada di rentang Rp34.000–Rp36.000 per kilogram.

Menurut penjelasannya, kenaikan harga daging ayam salah satunya terakselerasi pasca bergulirnya kebijakan penyerapan pasokan telur dan daging ayam untuk mendukung program MBG.

“Memang naik dari sebelum itu Rp34.000–Rp36.000 [per kilogram], harga ayam sekarang Rp36.000 [per kilogram] ini sebenarnya setelah kemarin ada kebijakan dari MBG, penyerapan MBG untuk telur dan daging ayam, sehingga normal karena kemarin kebijakannya itu harus membeli sesuai harga acuan yang ada. Jadi tidak boleh juga MBG membeli harga yang rendah, tetapi harus sesuai dengan harga acuan,” terangnya.

Budi menilai kebijakan tersebut berimbas positif lantaran stok komoditas yang tadinya dilepas murah kini terserap oleh program pemerintah. Langkah penyerapan ini turut berfungsi menopang ketahanan harga di tingkat pedagang.

“Sehingga harga yang tadinya murah, sekarang menjadi terserap oleh MBG. Jadi ini saya kira bagus sekali karena semua berjalan bersama. Jadi kalau ada kenaikan memang kenaikan dari rendah naik, tetapi masih mendekati. Kecuali daerah tertentu yang saya sampaikan tadi misalnya kayak Papua Pegunungan itu, itu memang tinggi jauh di atas HET,” tuturnya.

Pasokan Telur dan Ayam ke NTT

Kemendag turut memberi jaminan bahwa dinamika harga pangan tidak bakal mengganggu kelancaran alokasi pasokan ke wilayah terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT). Budi menegaskan instansinya memantau ketat alur distribusi bahan pokok di NTT agar pasokan tidak terkendala. Pemerintah juga menggalang koordinasi dengan wilayah penyuplai, seperti Nusa Tenggara Barat (NTB) dan daerah di Pulau Jawa.

“Kami terus koordinasi dengan di sebelahnya seperti NTB ataupun juga dari Jawa karena dari Jawa ini kan banyak pasokan telur. Jawa Timur banyak pasokan telur,” ujarnya.

Di samping itu, pemerintah mendorong skema business matching lintas daerah untuk menghubungkan wilayah yang kekurangan pasokan dan mengalami kenaikan harga dengan kawasan penyangga yang surplus.

“Ketika daerah-daerah lain itu harganya naik kami membuat namanya business matching antarwilayah. Jadi mau nggak mau kami fasilitasi dengan dinas dan pelaku usahanya agar ketemu antara supplier dan pembeli yang ada di wilayah timur yang harganya mahal, seperti yang di Jawa Timur di Blitar kan suplainya banyak,” jelasnya.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi guncangan gempa bumi bermagnitudo 7,7 terjadi pada 15 Agustus 2026 pukul 04.58.24 WIB. Pusat gempa berlokasi di 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada kedalaman 15 kilometer dengan koordinat 8,41° LS–121,39° BT. Peringatan tsunami sempat diaktifkan sebelum akhirnya BMKG mengumumkan potensi tersebut resmi berakhir.

BMKG menyampaikan gempa M7,7 yang melanda NTT pada Sabtu subuh tersebut bersumber dari aktivitas sesar naik busur belakang Flores.

“Ini adalah mekanisme gempa yang diakibatkan oleh sesar naik busur belakang Flores,” kata Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu.

Wijayanto menambahkan bahwa karakteristik sesar tersebut mampu membangkitkan gempa dengan potensi magnitudo maksimal mencapai 7,8 hingga 7,9.

“Gempa magnitudo 7,7 di belakang busur Flores ini ada potensi gempa dengan maksimum 7,8 - 7,9. Hari ini sudah rilis 7,7,” ujarnya.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih merampungkan proses pendataan dampak korban dan kerusakan bangunan akibat bencana di NTT tersebut. Berdasarkan catatan sementara per Minggu (16/8/2026) pukul 16.00 WIB, terdata 53 orang meninggal dunia serta 137 orang mengalami luka-luka. BNPB juga mencatat kerusakan pada 1.543 rumah kategori berat, 328 rusak sedang, dan 532 rusak ringan, serta fasilitas umum mencakup 87 unit fasilitas pendidikan, 50 rumah ibadah, dan 76 gedung perkantoran.

Terkini