Alasan Utama Mengapa Tubuh Merasa Gelisah Setelah Minum Kopi Harian

Kamis, 20 Agustus 2026 | 04:13:31 WIB
Ilustrasi Kopi.

JAKARTA - Bagi sebagian orang, mengonsumsi kopi merupakan rutinitas harian untuk mengawali pagi. Kandungan kafein di dalamnya dipercaya sanggup meningkatkan kewaspadaan sekaligus membuat tubuh terasa lebih berenergi.

Akan tetapi, respons tubuh setiap individu tidak selalu sama. Ada orang yang justru merasakan cemas, gugup, jantung berdebar kencang, hingga sulit fokus setelah minum kopi.

Kafein merupakan zat stimulan yang bekerja langsung pada sistem saraf pusat. Senyawa ini mampu mendongkrak kewaspadaan dan menjaga tubuh tetap terjaga saat beraktivitas.

Dikutip dari Verywell Mind, efek kafein turut memengaruhi sistem saraf simpatik, yaitu bagian sistem saraf otonom yang mengatur respons tubuh terhadap ancaman atau kondisi stres (fight or flight).

Ketika mekanisme ini aktif, tubuh akan mengalami lonjakan detak jantung, laju pernapasan yang lebih cepat, kenaikan tekanan darah, dan ketegangan pada otot.

Bagi individu yang sensitif terhadap kafein, reaksi fisik tersebut sering kali terapisah tipis dari gejala kecemasan.

Rasa gelisah setelah mengonsumsi kopi tidak serta-merta menandakan seseorang mengidap gangguan kecemasan. Sebab, beberapa efek stimulan kafein memang menyerupai indikator cemas, seperti tubuh gemetar, sulit tenang, hingga insomnia.

Kondisi tersebut terkadang membingungkan seseorang untuk membedakan antara kecemasan murni atau sekadar dampak stimulan kafein. Reaksi tubuh pun dipengaruhi oleh metabolisme, berat badan, genetika, serta dosis kafein yang dikonsumsi.

Bagi mereka yang pada dasarnya memiliki kecemasan, asupan kafein berlebih dapat memperburuk kondisi mental tersebut.

Riset dalam Verywell Mind mengungkapkan bahwa konsumsi kafein setara lima cangkir kopi berpotensi memicu serangan panik pada penderita gangguan panik, sekaligus meningkatkan kecemasan pada orang dewasa tanpa riwayat gangguan mental.

Artinya, kafein tidak secara otomatis memicu gangguan kecemasan pada semua orang. Namun, pada individu yang rentan, efeknya bisa terasa jauh lebih berat.

Dampak kopi terhadap kecemasan juga berkaitan erat dengan gangguan waktu tidur. Kafein dapat menurunkan kualitas tidur apabila dikonsumsi berlebihan atau terlalu dekat dengan jam istirahat malam.

Padahal, kurang tidur menurunkan stabilitas emosional dan menyulitkan seseorang mengelola stres. Situasi ini kerap menjebak seseorang dalam lingkaran setan: minum kopi karena lelah, tetapi kafein merusak tidur, yang lalu memicu ketegangan pada hari berikutnya.

Oleh karena itu, memperhatikan jam konsumsi kopi tidak kalah penting dibandingkan sekadar menghitung jumlah cangkirnya.

Menurut Food and Drug Administration (FDA), batas aman konsumsi kafein bagi orang dewasa umumnya berada di kisaran 400 miligram per hari, atau setara empat hingga lima cangkir kopi.

Kendati demikian, ambang batas tersebut tidak berlaku sama bagi semua orang. Individu sensitif tetap bisa mengalami keluhan seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, hingga tremor meski hanya mengonsumsi dalam jumlah kecil.

Jika Anda kerap merasa cemas setelah minum kopi, mulailah mengevaluasi jumlah asupan kafein harian dan kurangi secara bertahap guna menghindari gejala withdrawal.

Opsi kopi rendah kafein (decaf) atau minuman herbal bisa menjadi alternatif. Selain kopi, perhatikan juga kandungan kafein pada produk lain seperti teh, cokelat, minuman bersoda, serta obat-obatan tertentu.

Apabila rasa cemas, panik, dan jantung berdebar terus berlanjut hingga mengganggu fokus harian, segera konsultasikan kondisi tersebut ke dokter atau ahli kesehatan mental.

Terkini