DAILYENERGI.COM — Pernyataan itu disampaikan Rachmat dalam agenda Indonesia Sustainable Energy Week (ISEW) 2026 di Jakarta, Selasa. Forum tahunan hasil kerja sama Indonesia-Jerman ini menjadi panggung bagi pemerintah untuk menegaskan bahwa transisi energi bukan sekadar target penurunan emisi, melainkan alat pembangunan ekonomi baru.
Rachmat menegaskan tiga syarat yang harus dipenuhi. Pertama, setiap kebijakan energi utama wajib memiliki jalur proyek yang jelas. Kedua, setiap proyek tersebut harus punya jalur pembiayaan yang konkret. Ketiga, setiap investasi yang masuk harus berkontribusi langsung terhadap prioritas pembangunan nasional.
Tiga Syarat yang Ditegaskan Bappenas
"Setiap kebijakan energi utama harus memiliki jalur proyek yang jelas. Setiap jalur proyek harus memiliki jalur pembiayaan, dan setiap investasi harus berkontribusi langsung terhadap prioritas pembangunan nasional kita," ujar Rachmat Pambudy dalam keterangan resminya.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah mulai mengevaluasi efektivitas program transisi energi yang selama ini berjalan. Sebelumnya, kerja sama internasional di bidang ini lebih banyak berhenti pada tahap kajian, bantuan teknis, dan dialog kebijakan.
Rachmat mengakui pola tersebut sudah berjalan cukup lama. Bentuknya berupa penguatan kebijakan, peningkatan kapasitas kelembagaan, serta dialog antar pemangku kepentingan. Namun, menurutnya, semua itu belum cukup untuk mendorong perubahan yang terlihat di lapangan.
Kerja Sama RI-Jerman Beranjak ke Proyek Nyata
Untuk itu, pemerintah mendorong generasi berikutnya dari kerja sama Indonesia-Jerman agar bergeser orientasinya.
"Kerja sama generasi berikutnya antara Indonesia dan Jerman harus bergerak dari pengetahuan menuju investasi, dari studi menuju proyek, serta dari dialog kebijakan menuju implementasi di lapangan," kata Menteri PPN.
Jerman sendiri memberi respons positif. Federal Minister for Economic Cooperation and Development Jerman Reem Alabali Radovan menyampaikan komitmen pemerintahannya untuk terus mendukung pengembangan investasi yang berorientasi pada kelestarian lingkungan.
Dukungan itu diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam menarik pendanaan hijau, sekaligus membuka peluang bagi perusahaan Jerman untuk masuk ke proyek-proyek energi bersih di dalam negeri.
Transisi Energi Sebagai Mesin Ekonomi Baru
Rachmat memandang transisi energi memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar upaya menekan emisi karbon. Ia menilai momentum ini bisa dimanfaatkan untuk mendorong industrialisasi dalam negeri.
"Transisi energi tidak hanya menjadi bagian dari upaya menurunkan emisi, tetapi juga dapat menjadi mesin baru industrialisasi, memperkuat ketahanan energi, menciptakan peluang ekonomi baru di seluruh penjuru Indonesia," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa seluruh proses ini berujung pada satu target besar: transformasi Indonesia menuju 2045 yang lebih cepat, tangguh, inklusif, dan berkelanjutan. Dengan kata lain, keberhasilan transisi energi kini diukur dari seberapa besar kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, bukan hanya dari angka bauran energi terbarukan semata.