SÁNCHEZ DIDESAK MUNDUR IMBAS KRISIS MIGRAN DI CEUTA

Kamis, 03 September 2026 | 05:38:00 WIB

DAILYENERGI.COM — Unjuk rasa yang digerakkan Partai Populer (PP) dan Vox sejak awal pekan mencapai puncaknya pada Rabu. Aksi terbesar berlangsung di Madrid dan diikuti lebih dari 50.000 orang berdasarkan catatan pemerintah, dengan tuntutan agar Sánchez mundur.

Protes di Puluhan Kota, Fokus pada Ceuta

Rally digelar di kota-kota yang diperintah atau memiliki basis kuat PP dan Vox. Di Madrid, Ketua PP Alberto Núñez Feijóo tampil di depan massa dan menyebut kota Spanyol telah diserbu serta diduduki tanpa respons yang layak dari pemerintah pusat.

“Sebuah kota Spanyol telah diserang, diduduki, dan sayangnya ini terjadi dengan sepengetahuan Pemerintah Spanyol,” kata Feijóo.

Demonstrasi juga berlangsung di Ceuta sendiri. Penduduk setempat meneriakkan “Ceuta tidak dijual, Ceuta harus dipertahankan”. Seorang guru berusia 45 tahun, David Hernandez, menilai respons pemerintah terlambat dan menunjukkan pengabaian tugas.

“Kami tidak bisa menjadi warga kelas dua, dan perbatasan kami tidak boleh dikesampingkan,” ujarnya kepada Reuters.

Pemerintah Versus Oposisi: Saling Tuduh

Pemimpin Vox, Santiago Abascal, menyebut Sánchez “melayani rezim Maroko seperti antek”. Tuduhan itu muncul setelah lebih dari 7.200 migran menyeberang dari Maroko ke Ceuta pada 30-31 Juli lalu. Meski sebagian besar telah kembali, sekitar 5.000 orang masih berada di kamp-kamp darurat, jalanan, serta pantai.

Pemerintah Spanyol membantah lalai. Para pejabat justru menuduh partai sayap kanan memanfaatkan krisis untuk kepentingan politik. Sánchez sebelumnya menegaskan Maroko tidak bertanggung jawab atas arus migrasi, dan menyebut geng penyelundup serta informasi menyesatkan di media sosial sebagai pemicu.

Situasi makin rumit setelah media Spanyol memberitakan laporan kepolisian nasional yang menunjukkan keterlibatan aparat Maroko. Dokumen yang diserahkan ke pengadilan nasional itu menyebut penjaga perbatasan Maroko “sangat permisif” dan jumlah personelnya jauh lebih sedikit dari biasanya. Laporan itu mengutip pengakuan migran tentang sikap pasif aparat saat penyeberangan massal berlangsung. Akan tetapi, laporan tersebut tidak secara tegas menuduh Maroko berada di balik peristiwa itu.

Diplomasi Perbatasan yang Lama Membeku

Ketegangan kali ini berakar pada sengketa teritori yang panjang. Maroko selama bertahun-tahun mengklaim Ceuta dan kota otonom Melilla, dua kantong Spanyol di pesisir Afrika utara yang kerap menjadi titik rawan dalam hubungan bilateral.

Situasi kian dipicu oleh konten media sosial. Situs pemeriksa fakta Spanyol, Maldita, melaporkan bahwa pesan yang mendorong warga Maroko menyeberang beredar sebelum 30 Juli. Pesan itu muncul setelah Mahkamah Agung Spanyol mengeluarkan putusan pada Juni yang dianggap memicu harapan berlebihan.

Walikota Ceuta menyebut sedikitnya 100 orang tewas saat mencoba berenang mengelilingi pagar perbatasan untuk masuk ke wilayah Spanyol. Hingga kini, protes hampir setiap hari terus berlanjut di berbagai kota, menjadikan krisis migran ini ujian politik paling berat bagi pemerintahan Sánchez dalam beberapa bulan terakhir.

Terkini