Pertamina Energy Terminal Resmi Merger ke Patra Niaga, Efektif 1 September 2026

Kamis, 03 September 2026 | 09:24:00 WIB

DAILYENERGI.COM — PT Pertamina (Persero) menuntaskan proses penggabungan PT Pertamina Energy Terminal ke PT Pertamina Patra Niaga melalui penandatanganan akta merger di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta. Langkah ini merupakan kelanjutan dari restrukturisasi bisnis hilir yang sudah dimulai sejak awal 2026.

Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra bersama Direktur Utama Pertamina Energy Terminal Bayu Prostiyono. Selain akta merger, turut ditandatangani akta perubahan anggaran dasar PPN di hadapan Notaris Jose Dima.

Konteks Restrukturisasi: Dari Kilang hingga Kapal Tanker

Pertamina Energy Terminal sebenarnya bukan entitas pertama yang dilebur ke Pertamina Patra Niaga. Sebelumnya, pada 1 Februari 2026, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) dan 10 perusahaan anak PT Pertamina International Shipping (PIS) juga telah bergabung ke PPN. Armada kapal captive milik PIS turut dialihkan dalam tahap pertama tersebut.

Dengan pola ini, Pertamina Patra Niaga kini merangkap sebagai perusahaan penerima penggabungan (surviving entity) yang menaungi tiga lini bisnis sekaligus: kilang, logistik, dan pemasaran.

Komitmen Pelayanan Energi di Tengah Transformasi

Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menegaskan bahwa merger ini bukan sekadar pemenuhan aspek hukum. Ia menyebut restrukturisasi harus berujung pada pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat dari Sabang sampai Merauke.

"Apa yang kita tandatangani hari ini adalah komitmen bersama untuk membangun bisnis hilir yang tidak hanya terintegrasi secara struktural, tetapi juga andal, kompetitif, dan berkeadilan," ujar Simon dalam sambutannya.

Simon mengingatkan bahwa di tengah proses transformasi, operasional bisnis hilir tidak boleh terganggu. Menurutnya, pelayanan energi kepada masyarakat tetap menjadi tugas utama seluruh insan Pertamina Group.

Integrasi sebagai Bagian Amanat Danantara

Simon menempatkan penggabungan ini dalam kerangka transformasi BUMN yang diamanatkan Danantara, yakni menjadikan BUMN yang adaptif, lincah, dan kompetitif. Ia meminta seluruh jajaran menjaga konsistensi arah, memperkuat tata kelola, serta memastikan kejelasan peran di Subholding Hilir.

"Teruslah mengoptimalkan rantai nilai, efisiensi biaya, dan sinergi operasional, sehingga Pertamina benar-benar menjadi perusahaan energi yang fokus, kuat, dan bermartabat," tegasnya.

Setelah tanggal efektif merger, Pertamina akan memfokuskan langkah pada penataan proses dan organisasi di Subholding Hilir. Optimalisasi rantai nilai, penghematan biaya operasi, dan sinergi operasional menjadi prioritas utama.

Acara penandatanganan ini turut dihadiri jajaran direksi Holding, Subholding, dan anak perusahaan terkait. Melalui transformasi ini, Pertamina menargetkan penguatan integrasi dan daya saing bisnis hilir nasional sekaligus mendukung ketahanan energi Indonesia.

Terkini