Abu Vulkanik Anak Krakatau Capai Jabodetabek, Kemenkes Minta Waspada

Senin, 07 September 2026 | 19:01:02 WIB
Warga menggunakan masker saat beraktivitas pada Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta [FOTO: NET].

JAKARTA - Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang meluas hingga wilayah Jabodetabek dan sekitarnya meningkatkan potensi gangguan kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan proteksi diri saat terpaksa beraktivitas di luar ruangan.

Gunung Anak Krakatau saat ini berstatus Siaga III. Abu vulkanik dari aktivitas erupsi telah menjangkau sejumlah daerah Jabodetabek dan Jawa Barat sehingga warga diminta meningkatkan kewaspadaan atas paparan debu.

Dampaknya tidak cuma menyerang saluran pernapasan. Kemenkes mencatat paparan abu vulkanik juga sanggup memicu iritasi mata serta kulit. Abu yang terhirup berisiko menimbulkan batuk, sesak napas, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hingga kambuhnya asma dan iritasi tenggorokan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta publik tetap tenang serta membatasi kegiatan luar ruangan di area terdampak. Menurut penjelasannya, terdapat tiga bagian tubuh yang perlu dijaga ketat, yakni pernapasan, mata, dan kulit.

“Kami pesankan kepada masyarakat agar tidak panik. Agar tidak panik, dan titip ada 3 hal yang mesti kami jaga bersama. Yang pertama dari sisi kesehatan, abu vulkanik ini ada 3 dampaknya yang harus kami jaga. Pertama adalah ke pernafasan, kedua adalah ke mata, dan yang ketiga adalah ke kulit," ungkapnya, Minggu (6/9/2026).

Demi memproteksi saluran pernapasan, warga di kawasan terdampak diminta memperbanyak kegiatan di dalam rumah. Bila terpaksa keluar, penggunaan masker menjadi perlindungan utama.

Kemenkes pun menyiagakan perlengkapan medis guna menangani gangguan pernapasan imbas abu. Budi menyebut nebulizer dan oksigen konsentrator sudah ditempatkan di fasilitas kesehatan.

Ancaman berikutnya mengintai kesehatan mata. Partikel abu berpotensi masuk dan menimbulkan iritasi sehingga masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah disarankan memakai kacamata. Bila abu terlanjur masuk ke mata, warga dilarang menguceknya. Mata perlu dibasuh memakai air dan jika keluhan berlanjut dapat diperiksakan ke puskesmas.

“Kalau ternyata sudah debunya masuk, pastikan jangan dikucek-kucek. Bersihkan pakai air, dan segera ke puskesmas," kata Budi.

Kemenkes juga menyediakan pasokan obat tetes mata di puskesmas untuk menangani iritasi akibat abu. Sementara pada organ kulit, masyarakat diminta membersihkan badan dengan cermat usai kembali ke rumah. Abu yang menempel tidak disarankan digosok keras lantaran ada kemungkinan mengandung partikel tajam.

“Kalau sudah kena, setiap ke rumah, pastikan dibersihkan dengan air. Pastikan dibersihkan dengan air dengan hati-hati. Karena mungkin saja ada beberapa partikelnya yang tajam," lanjutnya.

Jika timbul rasa gatal atau gangguan lainnya, masyarakat bisa langsung mendatangi puskesmas. Kemenkes pun menyiapkan salep kulit guna mengatasi dampak paparan.

Di tengah paparan yang kian meluas, Kemenkes mengaktifkan Health Emergency Operating Center di seluruh daerah terdampak. Langkah ini diambil guna memantau kondisi kesehatan warga sekaligus mempercepat koordinasi penanganan.

“Kementerian Kesehatan sudah mulai mengaktifkan semua Health Emergency Operating Center. Di seluruh kawasan yang terdampak," imbuh Budi.

Kemenkes turut menerbitkan surat edaran sebagai petunjuk bagi tenaga kesehatan di kabupaten dan kota terdampak. Koordinasi rutin lewat rapat daring akan digelar antara Health Emergency Center Kemenkes dan dinas kesehatan daerah.

Proteksi masyarakat juga menjadi fokus perhatian di lapangan. Dokter Tirta Mandira mengingatkan warga Jabodetabek dan Jawa Barat untuk meningkatkan proteksi, khususnya saat harus beraktivitas di luar ruangan. Menurut Tirta, walau lapisan abu tampak tipis, penggunaan masker tetap wajib lantaran paparan berulang dapat mengganggu saluran pernapasan.

“Yang pertama adalah kalian kalau kemana-mana aktivitas outdoor, walaupun abunya tipis, itu harus memakai masker," ujarnya.

Ia juga mengingatkan publik agar tidak menyapu abu vulkanik secara langsung sebab bisa membuat partikel kembali beterbangan.

“Kalau mau bersihin abu yang ada di rumah, di halaman, jangan disapu beneran, itu tambah terbang, tambah sesak nafas dan batuk-batuk. Disiram pakai air ya, disiram pakai air," tambahnya.

Mengenai paparan pada wajah, Tirta menyarankan warga membersihkannya dengan produk pembersih wajah dan menghindari menggosok kulit secara langsung. Aktivitas olahraga luar ruangan pun disarankan dialihkan sementara ke dalam ruangan.

“Buat teman-teman yang hobi berolahraga outdoor, diganti dulu di indoor ya. Daripada anda beresiko terhirup abu vulkanik semakin banyak," imbuhnya.

Kewaspadaan menjadi vital sebab dampak abu vulkanik tak cuma memicu gangguan kesehatan. Sebaran abu turut membatasi jarak pandang serta mengganggu moda transportasi dan ragam kegiatan luar ruangan.

Kemenkes saat ini menempatkan perlindungan pernapasan, mata, dan kulit sebagai fokus prioritas penanganan masyarakat di kawasan terdampak. Warga yang mendapati gangguan kesehatan usai terpapar abu diminta segera berobat ke puskesmas.

Budi kembali meminta warga meminimalkan paparan dengan tetap berada di rumah apabila tidak ada keperluan mendesak.

“Kalau bisa jangan keluar rumah saja. Tapi kalau keluar rumah, pakai masker. Kalau mata, mesti pakai kacamata. Kalau kulit, begitu pulang langsung dibersihkan. Kalau ternyata sudah sakit, ya segera ke puskesmas," lanjut Budi.

Kemenkes memastikan fasilitas kesehatan di kawasan terdampak telah disiapkan untuk menangani keluhan terkait paparan abu vulkanik.

“Sekali lagi, jangan panik. Stay at home and stay healthy," tutupnya.

Terkini