Kinerja SIDO Diprediksi Turun 10 Persen Dampak Normalisasi Stok

Rabu, 09 September 2026 | 01:10:31 WIB
Ilustrasi produk-produk jamu herbal Sido Muncul.

JAKARTA — Produsen jamu Tolak Angin, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) memprediksi akan mengalami penurunan performa usaha pada tahun ini. Proyeksi ini menyusul capaian hasil keuangan perseroan yang cenderung melesu sepanjang paruh pertama 2026.

Direktur Keuangan sekaligus Corporate Secretary Sido Muncul, Budiyanto, membeberkan bahwa jajaran manajemen memperkirakan adanya penyusutan performa sekitar 10 persen secara tahunan hingga akhir tahun.

”Diperkirakan pendapatan SIDO untuk tahun 2026 akan turun 10% dibandingkan penjualan FY2025. Hal ini terutama disebabkan oleh kuartal I dan kuartal II, saat terjadi normalisasi persediaan secara disengaja ke distributor yang mengalami kelebihan stok,” katanya dalam Public Expose Live 2026, Rabu (9/9/2026).

Sebagai informasi, Sido Muncul secara gencar melakukan penyesuaian volume persediaan produknya di tingkat jaringan distributor sepanjang semester I/2026. Kondisi ini yang lantas menyebabkan angka penjualan sell-in atau pengiriman dari pabrik menuju distributor mengalami pengetatan.

Pasalnya, jumlah persediaan barang yang melebihi batas bakal mempersempit ruang penyimpanan bagi lini produk baru perseroan. Oleh sebab itu, tindakan penataan ini diambil demi mengembalikan pasokan barang ke tingkat yang lebih ideal.

Proses penyesuaian pasokan tersebut resmi dirampungkan oleh pihak perseroan pada Mei 2026. Memasuki kuartal ketiga dan keempat, Sido Muncul kini berfokus menggenjot kembali angka penjualan agar dapat pulih ke posisi normal.

”Untuk kuartal III dan IV, prioritas kami adalah untuk memulihkan penjualan melalui penjualan Tolak Angin yang sudah lebih sehat di distributor, antara lain meningkatkan end consumer demand. Tarikan end consumer akan menarik level distributor, dan penjualan pabrik,” katanya.

Di samping itu, Sido Muncul berencana mendorong laju pertumbuhan di sisa tahun ini lewat peluncuran jajaran produk anyar, ekspansi ke pasar ekspor baru, serta memastikan realisasi sell-out tecermin secara langsung pada penjualan sell-in perseroan.

Dampak penataan pasokan barang ini membuat Sido Muncul hanya membukukan total pendapatan Rp1,46 triliun. Angka realisasi tersebut menunjukkan penurunan sebesar 19,80 persen year-on-year (YoY) jika dibandingkan dengan capaian sebelumnya yang berada di level Rp1,82 triliun.

Performa lini produk jamu herbal serta suplemen menjadi divisi yang terdampak paling dalam, di mana hanya sanggup mengantongi omzet sebesar Rp638,85 miliar selama periode Januari—Juni 2026, merosot dari posisi Rp1,07 triliun pada kurun yang sama di 2025.

Alhasil, perolehan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih Sido Muncul tertekan hingga 44,43 persen YoY menjadi Rp333,65 miliar per Juni 2026, dari angka sebelumnya Rp600,46 miliar pada periode yang sama 2025.

Terkini