Kemarau Panjang Memicu Kenaikan Harga Cabai dan Sayuran di Pasar

Kamis, 10 September 2026 | 01:06:01 WIB
Pedagang sedang memilah Cabai rawit.

JAKARTA - Banderol bahan pokok, terutama cabai beserta aneka sayur-mayur di Pasar Rejowinangun, Magelang, melambung tinggi secara signifikan sepanjang beberapa pekan belakangan.

Eskalasi harga ini terdorong oleh fenomena gagal panen yang menekan ketersediaan barang di tingkat petani sebagai imbas dari musim kemarau panjang.

Berdasarkan pengamatan serta keterangan para pedagang area pasar, lonjakan paling tajam berhembus pada komoditas cabai.

Produk cabai yang semula dipatok pada kisaran Rp30.000 sampai Rp40.000 per kilogram, saat ini melesat hingga menyentuh kisaran Rp65.000 hingga Rp75.000 per kilogram dalam kurun satu hingga dua pekan terakhir.

Fahrul, seorang pedagang di Pasar Rejowinangun, memaparkan bahwa pemicu utama kenaikan harga ini bersumber dari minimnya pasokan barang langsung dari produsen.

Kondisi cuaca ekstrem serta kemarau berkepanjangan memicu kerusakan tanaman hingga berakhir pada kegagalan panen di wilayah penyuplai.

“Penyebab utamanya karena stok barang dari petani memang tidak ada. Peminatnya banyak, tetapi barangnya kosong akibat kemarau dan gagal panen,” ujar Fahrul pada Rabu (9/9).

Tidak sebatas cabai, harga kelompok sayur-mayur turut terkerek naik sekitar Rp3.000 hingga Rp5.000 dari kisaran normalnya.

Komoditas sawi hijau (caisim) serta kol yang umumnya dilepas pada harga Rp3.000 sampai Rp5.000 per kilogram, kini merangkak ke angka Rp8.000 hingga Rp10.000 per kilogram.

Jumini yang bekerja sebagai pedagang sayur turut membeberkan bahwa lonjakan harga ini berimbas langsung terhadap daya beli warga.

Ia menuturkan bahwa aktivitas transaksi di pasar cenderung lebih lengang dibanding biasanya, khususnya saat memasuki jam siang.

“Jualannya sepi, jualnya mahal belinya juga mahal, jualnya jadi engga stabil. Masyarakat kaget karena harga cabai naik. Banyak pembeli yang akhirnya mengurangi jumlah beliannya, jadi beli cuma sedikit-sedikit,” ungkap Jumini.

Kendati sejumlah pembeli memahami kendala distribusi tersebut, jajaran pedagang tetap mengeluhkan kemerosotan omzet yang terbilang tajam.

Para pedagang terjebak pada situasi rumit lantaran wajib menebus pasokan dari pengepul dengan tarif mahal, sedangkan laju penjualan ke tingkat konsumen bergerak lamban.

Menghadapi ketidakpastian kondisi pasar, pedagang maupun konsumen menaruh harapan besar agar cuaca segera membaik demi memulihkan distribusi pasokan cabai dan sayur.

“Harapannya ya semoga cepat turun hujan, supaya petani bisa mulai tanam dan produksi lagi. Kalau pasokan lancar, harga bisa kembali stabil,” tutup Fahrul dengan penuh harap.

Terkini