Porsi Paylater Ditargetkan Tembus 30 Persen OJK Ingatkan Risiko Kredit

Kamis, 10 September 2026 | 02:14:32 WIB
Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berharap lini pembiayaan buy now pay later (BNPL) atau paylater dapat mengambil porsi yang jauh lebih besar dalam peta industri pembiayaan nasional.

OJK bahkan mematok target kontribusi pembiayaan paylater mampu melesat hingga 30 persen dari posisi saat ini yang masih berada di kisaran 2,4 persen.

Kepala Pengawas Lembaga Pembiayaan OJK Moch Riezky F Purnomo menyampaikan bahwa produk paylater semakin diminati dan diterima secara luas oleh masyarakat.

Berdasarkan kompilasi data Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), penyaluran pembiayaan paylater oleh perusahaan pembiayaan menembus angka Rp13,62 triliun pada Juli 2026 atau tumbuh 54,65 persen secara tahunan.

"BNPL sangat diterima masyarakat," kata Riezky dalam Peluncurkan Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo di Jakarta, Kamis (10/9/2026).

Walau mencatatkan pertumbuhan signifikan, porsi pembiayaan paylater terhadap total industri pembiayaan masih berada di level 2,4 persen.

Menurut Riezky, angka tersebut masih relatif kecil sehingga ruang untuk berekspansi serta berkembang masih terbuka sangat lebar.

"Cuma bakinya 2,4 persen. Ini masih sangat kecil. Harapannya bisa 30 persen," ujarnya.

Pertumbuhan tersebut juga sejalan dengan lonjakan jumlah pengguna, di mana Riezky mencatat jumlah rekening paylater telah menembus 26,64 juta atau bertambah sekitar 9,3 juta rekening.

Kendati demikian, ekspansi pembiayaan dan peningkatan basis pengguna wajib dibarengi dengan manajemen risiko yang kuat agar konsumen tetap mampu menuntaskan kewajibannya.

"Kami berharap peningkatan jumlah dikelola risikonya dengan baik," kata Riezky.

Ia turut mengimbau para pelaku usaha pembiayaan paylater untuk terus meningkatkan penyaluran dana dengan tetap berpegang teguh pada prinsip kehati-hatian.

"Kami berharap perusahaan BNPL meningkatkan pembiayaannya," ujar Riezky.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno menegaskan bahwa pesatnya pertumbuhan paylater perlu diimbangi dengan edukasi berkelanjutan kepada masyarakat.

Suwandi menilai industri pembiayaan saat ini cenderung lebih selektif dan berhati-hati dalam menyalurkan kredit guna mengantisipasi risiko gagal bayar.

Perubahan tingkat kehati-hatian ini tecermin dari rasio persetujuan kredit, di mana dari 10 permohonan yang masuk kini rata-rata hanya lima yang disetujui, melandai dari sebelumnya yang mencapai delapan.

"Saat ini tidak berani kasih kredit. Dulu 10 yang ngaju disetujui 8, sekarang hanya 5," kata Suwandi.

Fenomena tersebut menunjukkan komitmen industri dalam menerapkan asas kehati-hatian, sehingga Suwandi mendorong para penyedia paylater aktif mengedukasi konsumen agar fasilitas pinjaman tidak menumpuk menjadi beban utang.

"Mari edukasi konsumen," kata Suwandi.

Di lain sisi, catatan data OJK menunjukkan indikator risiko paylater pada perusahaan pembiayaan masih memerlukan perhatian, dengan rasio non-performing financing (NPF) gross tercatat sebesar 3,03 persen pada Juli 2026.

Terkini