Ketahui 4 Tanda Masalah Komitmen Dalam Hubungan Menurut Penjelasan Ahli

Senin, 14 September 2026 | 22:30:32 WIB
Ilustrasi Masalah Komitmen Hubungan.

JAKARTA — Hambatan komitmen dalam sebuah jalinan asmara tidak selalu mengindikasikan bahwa seseorang enggan mempunyai pendamping hidup. Ada kalanya seseorang sejatinya mendambakan ikatan yang erat dan hubungan yang serius, tetapi mendadak merasa cemas sewaktu hubungan tersebut mulai mengarah pada jenjang yang lebih terikat.

Terapis pasangan berlisensi di Florida, Nari Jeter, LMFT menerangkan bahwa seseorang sangat mungkin menyayangi pasangannya sekaligus menyimpan kekhawatiran terhadap ikatan komitmen.

“Masalah komitmen tidak selalu berasal dari keengganan untuk menjalin hubungan. Kamu bisa peduli kepada seseorang dan ingin bersamanya, tetapi pada saat yang sama juga merasa lumpuh karena gagasan tentang komitmen,” ujar Jeter, seperti dilansit SELF Magazine, Senin (14/9/2026).

Menurut penjelasan Jeter, kecemasan tersebut umumnya berakar dari ketakutan akan kehilangan kemandirian, kekhawatiran terperangkap dalam hubungan, trauma terluka di masa lalu, masalah kepercayaan, rasa percaya diri yang rendah, hingga pola keterikatan psikologis.

Terapis pasangan berlisensi di Connecticut, Erica Thrall, LMFT menjelaskan bahwa individu dengan kendala komitmen kerap merasa tidak nyaman sewaktu pembicaraan mulai menyentuh rencana masa depan, sekalipun hubungan sedang berjalan harmonis. Rencana jangka panjang hingga kejelasan status hubungan dapat memicu kecemasan atau keinginan untuk menghindar.

Sebagai contoh, sewaktu pasangan mengajak menyusun agenda liburan beberapa bulan ke depan, individu tersebut justru memberikan jawaban mengambang seperti "lihat nanti saja." Penetapan status resmi juga dapat memberi tekanan tersendiri karena adanya kekhawatiran kehilangan kebebasan atau rasa takut terperangkap.

Komitmen tidak sekadar ditandai oleh status hubungan, melainkan juga lewat tindakan untuk menyatukan kehidupan sehari-hari. Thrall mengungkapkan bahwa hambatan komitmen kerap mengemuka saat pasangan mulai merencanakan pembagian beban finansial, tinggal di bawah satu atap, atau saling memperkenalkan kepada keluarga dekat.

Fase ini membuat konsekuensi hubungan terasa kian besar. Seseorang mungkin merasa ruang gerak pribadinya makin menyempit serta merasa risikonya bertambah besar apabila hubungan tersebut gagal di tengah jalan. Dampaknya, mereka cenderung menunda keputusan atau sengaja menjaga jarak pada area kehidupan tertentu.

Saat hubungan mulai menapak ke tahap yang lebih mendalam, rasa cemas kerap mendorong seseorang untuk sengaja mencari-cari alasan guna menyudahinya. Jeter menggambarkan pola tersebut sebagai tindakan menyabotase diri sendiri.

“Hal ini terutama saya lihat pada klien yang sejak lama menginginkan hubungan dan ketika akhirnya mendapatkannya, mereka mulai panik dan berpikir, ‘Ya ampun, saya bisa terluka karena saya sangat peduli kepada orang ini,’” terang Jeter.

Seseorang mungkin mendadak menarik diri usai pasangan mengutarakan perasaan cinta atau menjadikan kebiasaan sepele pasangan sebagai pertimbangan untuk berpisah. Secara logika defensif, mengakhiri hubungan lebih awal dianggap sebagai cara aman untuk menghindari potensi patah hati di kemudian hari.

Rasa ragu juga kerap mewujud dalam bentuk kebiasaan membayangkan berbagai kemungkinan lain di luar hubungan. Ketika jalinan asmara sedang harmonis, seseorang justru sibuk mempertanyakan apakah ada sosok lain yang lebih ideal atau apakah pilihan pasangannya saat ini sudah tepat.

Jeter menilai bahwa pola pikir tersebut memicu seseorang untuk terus membandingkan pasangannya dengan mantan kekasih atau orang lain. Kendati pola ini dianggap sebagai perisai diri dari rasa kecewa, terlalu fokus mencari jalan keluar justru merusak kenikmatan dari keintiman yang telah dibangun bersama.

Terkini