Jangan Asal Lakukan Self-Diagnose pada Anak Lewat Medsos

Selasa, 11 Agustus 2026 | 04:45:31 WIB
Pesan Psikolog agar Orangtua Tidak Asal Diagnosis Anak dari Medsos [FOTO: NET].

JAKARTA - Media sosial dewasa ini telah bertransformasi menjadi salah satu rujukan utama bagi para orangtua manakala mereka berupaya menggali informasi seputar pola tumbuh kembang serta tabiat anak. Beraneka ragam konten yang mengupas isu neurodivergensi, mulai dari spektrum autisme, gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD), hingga problem perkembangan penunjang lainnya, sangat gampang dijumpai lewat platform populer seperti Instagram dan TikTok.

 Paparan informasi tersebut sekilas memang terkesan membantu orangtua dalam mendeteksi gejala-gejala tertentu pada buah hati mereka.

Kendati demikian, terlalu intens mengandalkan asupan informasi dari linimasa media sosial justru berpotensi menggiring orangtua untuk mengambil kesimpulan secara gegabah mengenai kondisi kesehatan mental maupun fisik anak. Psikolog lulusan Universitas Gadjah Mada, Erna Yulianti, S.Psi., M.Psi., Psikolog, secara khusus mewanti-wanti para orangtua agar menghindari tindakan self-diagnose atau mendiagnosis penyakit secara mandiri yang semata-mata disandarkan pada informasi bebas dari internet serta media sosial.

"Jika terlalu banyak mendapatkan informasi, dikhawatirkan informasi-informasi yang kami serap dengan sendirinya itu menjadi self-diagnose, jika dibiarkan itu akan berbahaya bagi kami," ujar Erna dikutip dari ANTARA, Selasa (11/8/2026).

Menurut pandangan Erna, di era digital ini arus informasi terkait kesehatan serta eskalasi tumbuh kembang anak tidak lagi eksklusif bersumber dari laman web resmi, melainkan kian masif berseliweran di berbagai kanal media sosial. Kehadiran para pembuat konten (influencer) di beragam platform digital membuat arus informasi tersebut semakin gampang dicerna sehingga secara tidak langsung mampu membentuk persepsi orangtua dalam menilai kondisi anak.

Orangtua perlu cek sumber informasi

Erna menekankan perlunya tingkat kehati-hatian dan kecermatan ekstra bagi orangtua manakala menjumpai konten bertema neurodivergensi anak di media sosial. Sebelum menelan mentah-mentah atau langsung mengaplikasikan kiat-kiat di dalamnya, ada baiknya orangtua menelusuri latar belakang figur penyampainya—apakah individu tersebut memang mengantongi kompetensi resmi di bidang yang dikupas—serta memverifikasi dari mana asal-usul referensi informasinya.

"Misalnya dia membahas suatu topik yang sangat sensitif, apakah dia sudah dalam bidangnya, kemudian dari mana dia mengutip sumber itu?" kata Erna.

Lebih lanjut ia menjelaskan, konten yang memiliki kredibilitas tinggi umumnya selalu mencantumkan rujukan atau landasan sumber yang jelas. Melalui langkah verifikasi sederhana ini, para orangtua bisa lebih mudah memilah antara informasi yang berdiri di atas basis sains valid dengan pandangan yang belum tentu relevan bagi realitas kondisi si buah hati. Pasalnya, kemunculan perangai atau pola perilaku spesifik pada diri anak tidak serta-merta merepresentasikan adanya indikasi gangguan neurodivergen tertentu.

Proses asesmen yang komprehensif terhadap tumbuh kembang anak menuntut pertimbangan dari multiaspek yang harus dieksekusi secara menyeluruh.

Jangan jadikan AI sebagai alat diagnosis

Di samping menyoroti fenomena media sosial, Erna turut memberikan peringatan keras agar orangtua tidak memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) sebagai instrumen untuk mendiagnosis kondisi anak. Kecepatan dan kemudahan akses informasi yang ditawarkan teknologi AI memang sekilas terasa membantu orangtua dalam memahami suatu bahasan tertentu.

Akan tetapi, output jawaban yang disajikan sistem AI sama sekali tidak mungkin bisa menggantikan proses pemeriksaan klinis serta penilaian objektif dari tenaga medis profesional. Erna memaparkan bahwa AI pada hakikatnya hanyalah produk rekayasa teknologi buatan manusia yang beroperasi dengan cara merangkum sekumpulan data tersedia berdasarkan stimulus pertanyaan pengguna. Oleh sebab itu, orangtua sangat tidak dianjurkan menjadikan hasil telaah AI sebagai landasan utama untuk memastikan apakah buah hati mereka mengidap kondisi medis tertentu.

Apabila para orangtua dirundung kecemasan seputar fase tumbuh kembang maupun tabiat anak, langkah paling bijak yang harus ditempuh adalah melakukan konsultasi langsung kepada pihak profesional. Ayah dan bunda dapat mendiskusikan kondisi riil anak secara mendalam dengan dokter spesialis anak, psikolog klinis, ataupun tenaga medis berkompeten lainnya demi memperoleh diagnosis akurat serta rekomendasi penanganan yang tepat.

Manfaatkan waktu konsultasi dengan profesional

Erna turut berpesan agar orangtua memaksimalkan durasi sesi konsultasi sebaik mungkin, terutamanya jika sebelumnya mereka telah terlanjur dicekoki beragam informasi simpang siur dari media sosial. Orangtua dapat membawa serta daftar pertanyaan yang tebersit usai menyimak konten digital guna dikonfirmasi langsung kepada dokter atau psikolog yang bersangkutan.

Dengan cara demikian, ayah dan bunda tidak perlu repot-repot menerka-nerka sendiri apakah informasi yang bersumber dari media sosial benar-benar sinkron dengan kondisi objektif buah hati.

Sesi konsultasi langsung juga terbukti ampuh membimbing orangtua dalam memahami rangkaian tahapan antisipatif yang wajib diambil sekaligus cara memantau tumbuh kembang anak secara tepat sesuai eskalasi kebutuhannya.

"Orangtua harus memaksimalkan waktu konsultasi dan banyak bertanya untuk mengonfirmasi tiap informasi yang sudah didapatkan dari media sosial sebelumnya," ujar Erna.

Melalui pola pendekatan yang bijak ini, media sosial bisa terus diposisikan secara proporsional sebagai medium pemantik pengetahuan awal semata, alih-alih difungsikan sebagai substitusi dari diagnosis dan konsultasi profesional medis.

Terkini