Cukupkah Masker Kain Lindungi Pernapasan dari Hujan Abu Vulkanik

Selasa, 08 September 2026 | 05:00:32 WIB
Ilustrasi Memakai Masker.

JAKARTA - Erupsi Gunung Anak Krakatau membuat masyarakat di wilayah Jawa bagian barat dan Sumatra bagian selatan perlu mewaspadai paparan abu vulkanik di udara.

Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas luar ruangan atau mengenakan masker khusus guna menekan jumlah partikel abu yang terhirup ke saluran pernapasan.

Berdasarkan panduan U.S. Geological Survey (USGS), penggunaan bahan kain seperti buff, bandana, kerudung, maupun sapu tangan dinilai kurang efektif menyaring abu vulkanik.

Bahan-bahan tersebut memiliki celah longgar dan tidak dapat menutup wajah dengan rapat, bahkan membasahi masker kain pun tidak meningkatkan daya filtrasinya.

Kendati demikian, penggunaan masker kain tetap jauh lebih baik daripada tidak menutup hidung dan mulut sama sekali saat terpapar abu.

Namun, masker kain tidak boleh dianggap sebagai pelindung terbaik karena abu vulkanik mengandung pecahan batuan, mineral, dan kaca mikroskopis yang berbahaya bagi paru-paru.

Guna memberikan perlindungan maksimal, masyarakat terutama penderita gangguan pernapasan disarankan menggunakan masker berstandar industri seperti N95.

Masker N95 dirancang rapat di wajah dan mampu menyaring sedikitnya 95 persen partikel di udara, sesuai rekomendasi CDC untuk aktivitas outdoor saat erupsi.

Selain N95, jenis masker lain yang setara seperti KN95, FFP2, dan P2 juga dapat menjadi pilihan alternatif selama terpasang tanpa celah udara.

Pastikan masker menutupi area hidung, mulut, hingga dagu secara presisi agar perlindungan terhadap saluran pernapasan berjalan optimal.

Terkini