DAILYENERGI.COM — Bitcoin hanya turun 1,5 persen sepanjang September, bulan yang secara historis paling lemah bagi mata uang kripto ini. Kinerja tersebut membuat Bitcoin tetap di jalur menuju kenaikan kuartalan pertama dalam setahun, meski suku bunga naik, harga minyak melonjak, dan dolar AS menguat. Harga Bitcoin kini berada di sekitar USD 78.000, hampir kembali ke posisi sebelum The Fed menaikkan suku bunga.
The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pekan ini, kenaikan pertama dalam lebih dari tiga tahun. Bank of Japan juga menaikkan suku bunga acuannya ke level tertinggi dalam 31 tahun. Bank of England memilih menahan suku bunga.
Di sisi regulasi, RUU Clarity Act gagal meraih 60 suara yang dibutuhkan untuk maju di Senat pada Selasa. Hanya 49 senator yang mendukung. Bitcoin sempat turun di bawah USD 74.887 sebelum cepat stabil kembali.
Mengapa Bitcoin Tidak Ambruk Meski Berita Buruk Menumpuk
Reaksi pasar yang relatif terkendali menunjukkan pelaku pasar sudah memperhitungkan risiko kegagalan RUU tersebut. Mitchell Askew, kepala Blockware Intelligence di Blockware, menilai respons Bitcoin terhadap dua berita buruk sekaligus justru menjadi sinyal positif.
"Yang menonjol bagi saya adalah Bitcoin hampir tidak bergerak sama sekali sebagai respons terhadap dua berita yang secara objektif buruk. Kenaikan 25 basis poin dan gagalnya CLARITY Act disahkan adalah dua headline yang, di lingkungan pasar yang berbeda, akan mengirim harga turun signifikan. Namun, yang kami dapatkan praktis tidak ada," kata Askew dalam sebuah email.
Askew menjelaskan bahwa ketika berita buruk berhenti memengaruhi harga, itu tanda penjual sudah kelelahan. Semua pihak yang ingin menjual Bitcoin berdasarkan peristiwa semacam ini sudah menjualnya. Mereka tidak lagi punya koin untuk dijual.
"Itu tanda yang sangat positif untuk jangka menengah hingga panjang, dan itulah yang biasanya Anda lihat di tahap akhir proses pembentukan dasar harga," ujarnya.
Tekanan dari Pasar Energi dan Dolar AS
Pasar energi menambah tekanan awal pekan ini. Minyak mentah West Texas Intermediate naik di atas USD 106 per barel pada Selasa, level tertinggi dalam lima bulan, seiring ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang belum mereda.
Indeks Dolar AS, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, juga menembus level 100. Itu level tertinggi dalam lebih dari sebulan. Dolar yang kuat dapat memperketat kondisi keuangan dan membebani aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Sygnum Bank menilai kenaikan suku bunga dan imbal hasil obligasi tidak selalu bersifat bearish. Fabian Dori, kepala investasi di Sygnum, menyebut kenaikan imbal hasil yang disertai penguatan Bitcoin dan emas bisa jadi cerminan risiko debasement dan risiko counterparty sovereign.
"Itu bukan jalan satu arah. Anda melihat imbal hasil naik, dan pada saat yang sama Bitcoin dan emas berkinerja lebih baik. Jika kenaikan suku bunga adalah indikasi risiko debasement dan risiko counterparty sovereign, maka bagi aset penyimpan nilai itu justru pendorong positif," kata Dori dalam email.
Jalan Regulasi Masih Terbuka
Kegagalan Clarity Act di Senat tidak menutup seluruh jalur regulasi. Pada Kamis, industri kripto mendapat perkembangan kebijakan yang lebih menggembirakan ketika SEC mengumumkan pengecualian inovasi untuk platform sekuritas yang ditokenisasi.
Kebijakan itu memungkinkan platform yang memenuhi syarat memfasilitasi perdagangan saham secara onchain dengan kondisi tertentu. Joel Kruger, strategi pasar di LMAX Group, menilai kegagalan legislasi hanya menunda kerangka statutori.
"Kegagalan memajukan legislasi menunda kerangka statutori, tetapi tidak mencegah SEC dan CFTC terus memberikan panduan berdasarkan kewenangan yang ada, sehingga jalur regulasi penting tetap terbuka," kata Kruger.
Ekspektasi Suku Bunga dan Prospek Kuartal
Pasar memperkirakan tiga kenaikan lanjutan sebesar seperempat poin hingga April 2027. Itu akan membawa suku bunga federal funds ke kisaran 4,50 persen hingga 4,75 persen. Sebagian pihak khawatir kenaikan lanjutan The Fed dan imbal hasil Treasury akan menekan aset digital.
Dori tidak sepenuhnya setuju bahwa suku bunga harus turun agar aset digital bisa berkinerja lebih baik. Ia menegaskan hal itu dalam emailnya.
Setelah melonjak 25 persen pada Agustus hingga sekitar USD 81.000, Bitcoin diperkirakan akan melepas sebagian besar kenaikan itu. September secara historis membukukan rata-rata kerugian sekitar 3 persen sejak 2013. Nyatanya, bulan ini Bitcoin hanya turun 1,5 persen.
Dengan waktu kurang dari dua pekan tersisa, Bitcoin masih naik sekitar 32 persen sepanjang kuartal ini. Itu menempatkannya pada jalur penutupan kuartalan positif pertama sejak kuartal ketiga 2025.
Bagi para bull, satu-satunya faktor yang mengkhawatirkan adalah faktor musiman yang kurang mendukung. Namun, ketahanan harga di atas USD 77.000 di tengah kemunduran legislatif, kenaikan harga minyak, pengetatan moneter, dan penguatan dolar menjadi sinyal bahwa jalur dengan hambatan paling kecil tampak mengarah ke atas.
"Jika pasar telah sekuat ini ketika arus berita menantang, bahkan perbaikan moderat dalam kondisi makro, geopolitik, atau regulasi bisa menjadi katalis untuk kenaikan besar berikutnya," kata Kruger.