DAILYENERGI.COM — Sebanyak 34 dari 37 negara dalam survei Pew Research Center menilai kecerdasan buatan akan mengurangi jumlah lapangan kerja, bukan menambahnya. Amerika Serikat masuk tiga besar paling pesimistis dengan 71 persen responden memperkirakan AI memangkas pekerjaan dalam 20 tahun ke depan.
Hanya Korea Selatan dan Australia yang mencatat angka lebih tinggi, keduanya di posisi 76 persen. Artinya, kekhawatiran terhadap AI tidak lagi soal teknologi itu sendiri, melainkan soal siapa yang kehilangan pekerjaan dan seberapa cepat.
Negara Miskin Justru Lebih Optimistis
Dari median 37 negara, 46 persen responden memperkirakan lapangan kerja berkurang, 13 persen menilai tidak ada perubahan berarti, dan hanya 9 persen yang yakin AI justru menciptakan lebih banyak pekerjaan. Sisanya, 25 persen, mengaku belum yakin.
Pola menarik muncul di negara-negara berpendapatan rendah. Nigeria menjadi satu-satunya negara yang mayoritas respondennya percaya AI akan membuka lebih banyak lapangan kerja, dengan 26 persen menjawab demikian meski selisihnya tipis dari 27 persen yang menjawab sebaliknya.
Di Thailand dan Filipina, lebih banyak responden memilih opsi "tidak yakin" dibanding negara-negara kaya. Perbedaan ini diduga mencerminkan kekhawatiran yang lebih besar di negara maju bahwa AI akan mengambil pekerjaan kantoran atau white-collar.
Kekhawatiran di AS Makin Tajam dalam Dua Tahun
Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang pernah disurvei Pew untuk pertanyaan serupa sebelumnya. Dalam dua tahun terakhir, proporsi responden AS yang yakin AI akan mengurangi lapangan kerja naik 7 poin persentase.
Artinya, ketakutan itu tidak mereda seiring teknologi semakin dikenal. Justru sebaliknya, semakin banyak orang memahami AI, semakin besar kekhawatiran mereka terhadap dampaknya di dunia kerja.
Di sejumlah negara, kelompok usia 18 hingga 34 tahun menjadi yang paling cemas soal kehilangan pekerjaan akibat AI. Di AS, lonjakan kekhawatiran terbesar juga terjadi pada kelompok demografi ini.
Pendidikan dan Pendapatan Pengaruhi Cara Pandang
Di banyak negara berpendapatan menengah yang disurvei, responden dengan tingkat kekayaan dan pendidikan lebih tinggi cenderung memperkirakan AI akan mengurangi jumlah pekerjaan. Sebaliknya, kelompok berpendapatan rendah dan berpendidikan lebih rendah lebih banyak menyatakan ketidakpastian.
Temuan lain yang mencolok: semakin tinggi kesadaran seseorang terhadap AI, semakin besar pula kekhawatirannya terhadap dampak teknologi ini pada lapangan kerja.
Beberapa eksekutif industri mengklaim AI akan mempersempit jurang antara si kaya dan si miskin. Namun lebih banyak responden yang meyakini hal sebaliknya, terutama di negara-negara kaya.
Antara Cemas dan Antusias
Dari 37 negara, median 37 persen responden menyatakan lebih cemas ketimbang antusias terhadap AI, sementara 41 persen merasa cemas dan antusias dalam porsi yang sama. Israel menjadi satu-satunya negara di mana lebih banyak responden yang utamanya antusias dibanding yang cemas.
Kekhawatiran itu punya dasar. Survei Mercer menemukan 99 persen eksekutif yang disurvei memperkirakan AI akan berujung pada pemutusan hubungan kerja dalam dua tahun.
Meta sempat memangkas 10 persen tenaga kerjanya sebelum membatalkan rencana gelombang kedua di tengah hasil AI yang mengecewakan dan resistensi karyawan. Beberapa perusahaan lain bahkan mulai merekrut kembali pekerja yang sempat digantikan AI setelah otomatisasi gagal memberi hasil sesuai harapan.