Kemenperin Dorong Produk Artisan Agro Tembus Pasar Global di 2026

Kemenperin Dorong Produk Artisan Agro Tembus Pasar Global di 2026
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza.

JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) fokus memperkuat pengembangan produk artisan agro unggulan nasional guna menangkap peluang pasar global yang terus bertumbuh, khususnya di sektor makanan dan minuman.

Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza saat membuka Pameran dan Business Matching Specialty Indonesia 2026 di Jakarta, Senin, memaparkan beberapa sektor prospektif untuk dikembangkan, seperti olahan kakao, teh, kopi, hortikultura, susu, cerutu, hingga produk fermentasi berbasis lokal.

Pada industri kakao, Indonesia saat ini menempati posisi produsen olahan kakao terbesar keempat di dunia serta produsen biji kakao terbesar ketujuh.

Di sisi lain, komoditas kopi nasional memegang peran strategis dengan posisi Indonesia sebagai produsen kopi terbesar keempat dunia, di mana nilai ekspor kopi olahan menembus 692 juta dolar AS atau tumbuh 4,36 persen pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.

Terkait industri teh, Wamenperin menerangkan pasar ekstrak teh global melonjak dari 3,6 juta dolar AS pada 2019 menjadi 5,6 juta dolar AS pada 2025. Di samping itu, nilai pasar suplemen teh hijau diperkirakan menembus 909,9 juta dolar AS pada 2025 dan diproyeksikan merangkak naik menuju 1,33 miliar dolar AS pada 2033.

Untuk sektor hortikultura, Indonesia menyimpan potensi melimpah yang ditopang oleh pasokan buah dan sayuran nasional. Capaian ekspor produk hortikultura pada 2025 menyentuh angka 544,8 juta dolar AS, dengan nanas olahan sebagai penyumbang utama.

Industri pengolahan susu turut dinilai menyimpan prospek cerah, terutama pada varian bernilai tambah seperti keju dan gelato seiring maraknya pertumbuhan sektor kuliner, hotel, restoran, hingga kafe.

Sementara itu, industri hasil tembakau (IHT) tetap menjadi salah satu pilar manufaktur strategis berbasis sumber daya lokal. Kinerja ekspor IHT yang terus bertumbuh menempatkan Indonesia sebagai eksportir IHT terbesar keenam secara global.

Faisol juga menggarisbawahi potensi produk fermentasi berbasis lokal yang perlu terus didorong menjadi ekosistem industri nasional. Menurut data Fortune Business Insights, nilai pasar pangan fermentasi dunia pada 2025 telah menyentuh 788,33 juta dolar AS dan diproyeksi melambung hingga 1,24 miliar dolar AS pada 2034.

"Oleh karena itu, produk olahan fermentasi berbasis lokal berpotensi untuk dikembangkan sebagai sub sektor industri yang mampu menciptakan nilai tambah dan menghasilkan produk yang berdaya saing," katanya.

Lebih lanjut Faisol menjelaskan, ceruk pasar makanan dan minuman artisan global memiliki tren sangat positif. Pada 2025, estimasi nilai pasar tersebut berada di angka 332 miliar dolar AS dan diproyeksikan melejit hingga 627,3 miliar dolar AS pada 2032 dengan laju pertumbuhan tahunan (CAGR) mencapai 9,5 persen.

"Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya preferensi konsumen terhadap produk yang memiliki kualitas premium, cita rasa autentik, identitas asal yang kuat, serta diproduksi secara berkelanjutan. Kondisi ini membuka peluang yang besar bagi produk artisan Indonesia untuk memperkuat pasar domestik sekaligus meningkatkan daya saing di pasar internasional," ucapnya lagi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index