Memahami Dampak Mata Juling Bagi Penglihatan dan Langkah Penanganan

Memahami Dampak Mata Juling Bagi Penglihatan dan Langkah Penanganan
Ilustrasi Mata juling.

JAKARTA - Secara biologis, indra penglihatan manusia didesain layaknya sepasang kamera yang bekerja secara paralel. Saat posisi kedua bola mata sejajar, otak mampu mengintegrasikan dua tangkapan visual dari sudut berbeda menjadi satu gambar yang utuh.

Namun, mekanisme penerimaan gambar ini bakal langsung terganggu apabila seseorang mengidap strabismus atau mata juling. Arah pandang yang tidak simetris membuat sinyal gambar ke otak menjadi kontradiktif, sehingga mengacaukan persepsi kedalaman visual penderitanya.

"Mata itu sebetulnya adalah jalur utama informasi sehari-hari. 83 persen masuknya lewat mata. Dan waktu kami bicara mata, bukan cuma (menggunakan) satu (mata). Harus dua-duanya," kata Direktur Pengembangan dan Pendidikan JEC Eye Hospitals and Clinics, Prof. Dr. Tjahjono D. Gondhowiardjo, Sp.M (K).

Proses penyatuan informasi visual dari mata kanan dan kiri sangat krusial bagi tubuh dalam menerjemahkan ruang. Apabila gerak otot mata tidak sinkron, penderita akan kesulitan mengukur estimasi jarak dan ruang secara presisi.

"Karena kalau dua mata melihat, itu ada perbedaan antara mata kanan dengan mata kiri. Perbedaan itu sebetulnya membuat kami bisa melihat jarak, membedakan tiga dimensi," terang dr. Tjahjono.

Anatomi mata sejajar ini sejatinya dapat diamati pada susunan fisik hewan pemangsa. Kelompok predator dibekali posisi mata di bagian depan wajah guna memfokuskan sasaran secara tajam, berlawanan dengan hewan buruan yang matanya terletak di samping demi memperluas sudut pandang.

"Hewan yang memang sebagai pemangsa, dia membutuhkan dua matanya yang bagus tajam penglihatannya," terang Wakil Ketua Indonesian Pediatric Ophthalmogy and Strabismus Society (INAPOSS), Dr. dr. Lely Retno Wulandari, Sp.M (K).

"Kalau dua-dua di depan, dia memiliki kemampuan untuk menganalisa jarak. Jadi dia enggak akan miss," imbuh Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus JEC Eye Hospitals and Clinics tersebut.

Kondisi strabismus yang dibiarkan tanpa penanganan dapat memicu ketimpangan ketajaman visual karena otak menerima sinyal yang membingungkan. Sebagai bentuk adaptasi, sistem saraf otak secara perlahan akan mengabaikan masukan visual dari mata yang melenceng dan berfokus hanya pada mata yang dominan.

"Kalau misalnya salah satu mata juling, tentunya agak jadi lebih jarang dipakai, atau mungkin sama sekali tidak dipakai mata tersebut. Akibatnya apa? Mata malas ya, atau ambliopia," ujar Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) wilayah DKI Jakarta, dr. Julie Dewi Barliana, Sp.M., Subsp.P.O.S., Biomed.

Kurangnya pemahaman mengenai keterkaitan gangguan refraksi dengan posisi bola mata kerap memicu keterlambatan penanganan medis. Otot mata akan bekerja ekstra keras untuk menemukan titik fokus jika kelainan minus atau plus berukuran tinggi tidak segera dikoreksi dengan kacamata yang tepat.

"Kalau ukuran kacamatanya minus besar, itu bisa juling ke arah luar. Kalau plus besar bisa juling ke arah dalam," urai dr. Lely. Oleh sebab itu, koreksi medis harus dilakukan sedini mungkin agar otak tidak terus-menerus memblokir sinyal penglihatan dari mata yang mengalami kelainan.

Prosedur pembedahan otot mata menjadi langkah untuk mengembalikan kelurusan posisi bola mata sekaligus memulihkan kemampuan mengukur jarak. Pada bayi yang terlahir dengan strabismus, intervensi medis sangat krusial dilakukan pada masa keemasan pertumbuhan agar kemampuan penglihatan binokuler dapat terbentuk sempurna.

"Bila sebelum enam bulan (sudah ketahuan), kami harus melakukan operasi sebelum usia dua tahun," ungkap Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus, serta Ketua Layanan Pediatric Ophthalmology & Strabismus JEC Eye Hospitals and Clinics, dr. Gusti Suardana, Sp.M (K).

"Kami anggap bahwa perkembangan penglihatan binokuler, perkembangan yang untuk mempersatukan mata kiri dan mata kanan, itu terjadi pada usia di bawah dua tahun. Oleh karena itu kami lakukan secepatnya," tambah dr. Gusti.

Sementara itu pada pasien dewasa, kondisi strabismus yang timbul secara mendadak akibat komplikasi penyakit lain umumnya menimbulkan rasa tidak nyaman yang cukup mengganggu.

"Mengurangi double vision. Jadi kalau orang yang sudah pernah mempunyai penglihatan dua mata, kemudian tiba-tiba dia juling, penglihatannya jadi dua," kata dr. Gusti.

Melalui intervensi bedah, jaringan otot penggerak bola mata dikembalikan ke posisi idealnya sehingga otak dapat merangkai kembali bayangan visual secara utuh dan akurat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index