Laba bersih yang diraih PT Timah pada paruh pertama tahun ini setara 169% dari target setahun penuh. Direktur Strategi Korporasi dan Pengembangan Usaha PT Timah, Harry Budi Sidharta, mengungkapkan ada dua faktor utama di balik kinerja ini.
"Pertama, kenaikan penjualan logam timah 10.984 ton atau 185% dibanding 2025. Kenaikan penjualan logam didukung oleh perolehan bijih timah melalui penguatan tata kelola timah yang semakin baik," jelas Harry kepada CNBC Indonesia, Senin (10/8/2026).
Faktor kedua datang dari eksternal. Harga rata-rata logam timah hingga Juni 2026 tercatat di level US$ 49.700 per ton. Angka ini 41% lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga tahun lalu, sebuah berkah bagi emiten pelat merah di tengah tingginya permintaan global.
Aset dan Ekuitas Ikut Menguat
Perbaikan kinerja operasional berdampak langsung ke fundamental keuangan perusahaan. Nilai aset PT Timah meningkat 21% menjadi Rp16,45 triliun, dibandingkan posisi akhir tahun 2025 yang sebesar Rp13,64 triliun.
Ekuitas perseroan juga naik 25% menjadi Rp10,55 triliun dari sebelumnya Rp8,41 triliun. Dari sisi profitabilitas, laba usaha semester I-2026 tercatat Rp3,48 triliun, berbalik tajam dari periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp0,38 triliun. EBITDA pun meroket 363% menjadi Rp3,90 triliun.
Produksi bijih timah ikut mencatatkan pertumbuhan pesat, mencapai 12.232 ton Sn atau naik 75% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini didorong optimalisasi produktivitas dan penambahan unit operasi, termasuk Kapal Isap Produksi (KIP), Ponton Isap Produksi (PIP), serta tambang darat kemitraan.
Fokus Eksplorasi dan Target Akhir Tahun
Meski kinerja semester pertama sudah moncer, manajemen tidak berpuas diri. Harry menyebut perseroan akan mengusahakan penambangan primer sebagai sumber bijih timah utama ke depan.
Langkah ini ditempuh melalui ekstensifikasi dan intensifikasi eksplorasi untuk menjaga pasokan bijih, sekaligus mengelola mineral ikutan timah. Dengan strategi tersebut, PT Timah optimistis target produksi dan penjualan logam hingga 25.000 ton pada akhir tahun dapat tercapai.
Capaian ini menegaskan posisi PT Timah sebagai pemain kunci di industri pertambangan nasional, sekaligus menjadi barometer bagi sektor komoditas yang tengah berada di siklus harga tinggi.