Waspada Obesitas pada Anak Bisa Picu Gangguan Mata Astigmatisme

Waspada Obesitas pada Anak Bisa Picu Gangguan Mata Astigmatisme
Ilustrasi Obesitas Anak.

JAKARTA - Kelebihan berat badan pada anak selama ini lebih kerap dihubungkan dengan masalah sistem metabolisme tubuh dan kesehatan jantung.

Namun, sebuah studi terbaru justru menemukan adanya keterkaitan antara kondisi kelebihan berat badan serta obesitas pada usia anak-anak dengan naiknya risiko gangguan astigmatisme.

Apa Itu Astigmatisme?

Astigmatisme atau yang lazim dikenal sebagai mata silinder merupakan gangguan penglihatan akibat adanya kelainan pada tingkat kelengkungan kornea maupun lensa mata.

Disadur dari Alodokter, gangguan ini sanggup membuat jarak pandang seseorang menjadi tampak kabur atau tidak fokus, baik kala menatap objek dari jarak dekat maupun jauh.

Berdasarkan letak munculnya kelainan, astigmatisme terbagi menjadi dua kelompok utama, yakni astigmatisme lentikular serta astigmatisme korneal.

Astigmatisme lentikular terjadi akibat adanya kelainan kelengkungan pada lensa mata, sedangkan astigmatisme korneal dipicu oleh kelainan pada area kornea.

Pada anak-anak, gejalanya kerap ditunjukkan melalui kebiasaan menyipitkan mata, mata yang mudah merasa lelah, rasa sakit kepala, hingga kesulitan melihat objek secara jernih.

Lantas, bagaimana hubungan antara gangguan penglihatan tersebut dengan kondisi berat badan anak?

Penelitian Melibatkan Lebih dari 22.000 Anak

Melansir laporan Optometry Advisor, riset yang dimuat dalam Canadian Journal of Ophthalmology menganalisis data sebanyak 22.130 anak berusia 6 sampai 10 tahun dari Maccabi Healthcare Services di Israel.

Data riset tersebut dihimpun dari hasil pemeriksaan refraksi rentang 2012 hingga 2022, lalu anak-anak dikelompokkan menurut kategori status berat badan masing-masing.

Tim peneliti memantau perkembangan kesehatan mereka dalam durasi rata-rata 62,9 bulan untuk mendeteksi potensi kemunculan astigmatisme.

Dalam riset ini, penentuan status berat badan diukur memanfaatkan kalkulasi Indeks Massa Tubuh (IMT) yang telah disesuaikan menurut variabel umur dan jenis kelamin.

Risiko Astigmatisme Meningkat Seiring Berat Badan

Hasil riset memperlihatkan, astigmatisme tingkat rendah hingga sedang ditemukan pada 30,7 persen anak berkategori berat badan kurang.

Sementara itu, tercatat 29,8 persen pada anak berat badan normal, 32,1 persen pada anak kelebihan berat badan, dan 35,1 persen pada kelompok anak obesitas.

Adapun pada kasus astigmatisme tingkat tinggi, proporsinya masing-masing berada di angka 0,7 persen, 1,1 persen, 1,6 persen, dan 2,0 persen untuk tiap kelompok tersebut.

Penelusuran lebih mendalam menunjukkan anak berbobot lebih memiliki peluang lebih tinggi terserang astigmatisme dibanding anak berkategori normal, dan keterkaitannya kian kuat pada anak obesitas.

Kendati demikian, temuan riset ini sebatas memperlihatkan adanya indikasi hubungan, bukan membuktikan secara langsung bahwa kelebihan berat badan menjadi penyebab tunggal astigmatisme.

Peneliti Sarankan Pemeriksaan Mata Lebih Diperhatikan

Kekuatan hubungan tersebut tampak dari kalkulasi tim peneliti mengenai besarnya sumbangsih kelebihan berat badan dan obesitas terhadap kasus astigmatisme pada populasi studi.

"Kelebihan berat badan dan obesitas menyumbang 4,3 persen dari kasus astigmatisme ringan hingga sedang dan 13,4 persen dari kasus astigmatisme berat," tulis tim peneliti.

Hal ini menandakan, porsi kasus astigmatisme dalam kelompok riset berkaitan dengan status berat badan, walau hasil ini tidak secara otomatis menunjukkan pola hubungan sebab-akibat.

Atas dasar itu, peneliti menyarankan skrinning mata sejak dini serta pemantauan intensif dapat membantu mendeteksi gangguan penglihatan pada anak ber-IMT tinggi.

"Mengingat prevalensi astigmatisme yang lebih tinggi di antara anak-anak dengan BMI tinggi, tindak lanjut oftalmologi yang lebih intensif pada kelompok ini dapat mendukung deteksi dan koreksi dini kelainan refraksi," jelas tim peneliti.

Dengan demikian, para orang tua tidak perlu serta-merta mengasumsikan anak berkategori berat badan berlebih pasti menderita astigmatisme.

Namun, pengujian kondisi mata secara teratur tetap krusial, utamanya jika anak mulai mengeluh pandangannya buram, sering menyipitkan mata, atau kesulitan memandang objek secara jelas.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index