JAKARTA - Masalah dermatitis atopik atau eksim memang tidak dapat disembuhkan total, tetapi para spesialis kulit menegaskan bahwa penyesuaian gaya hidup sehari-hari mampu membantu meredakan serta mengendalikan gejalanya secara efektif.
Eksim merupakan gangguan peradangan kulit yang kerap memicu kondisi kering serta gatal, terang dokter spesialis kulit bersertifikat, Mariano Busso, M.D., F.A.A.D., yang menjalankan praktik di Beverly Hills dan Miami, Amerika Serikat.
"Kondisi kronis yang meluas ini memengaruhi sebagian besar populasi dunia," katanya, dengan penelitian menunjukkan bahwa hingga 10 persen orang akan mengalami suatu bentuk eksim di suatu titik dalam hidupnya.
Meskipun tergolong umum, gangguan ini menimbulkan ketidaknyamanan yang cukup tinggi. Busso menjelaskan, eksim dapat mengganggu kualitas tidur, memicu tekanan emosional, hingga mengganggu kelancaran aktivitas harian.
Dermatitis atopik sendiri merupakan bentuk peradangan kulit kronis yang mengakibatkan lapisan kulit kehilangan kemampuan untuk mempertahankan kelembapan alaminya.
Gejala eksim dapat muncul dan mereda bergantung pada paparan lingkungan serta pola hidup. Ketika timbul serangan, penderita dermatitis atopik akan mendapati bercak pada kulit yang tidak menular, disertai rasa gatal, pembengkakan, bintil melepuh, bahkan keluarnya cairan.
"Bercak ini bisa muncul di mana saja pada tubuh, dan tingkat keparahannya bisa dari ringan hingga berat," kata Busso.
Bercak tersebut umumnya berwarna kemerahan, namun dapat pula tampak kecokelatan, keabu-abuan, atau keunguan menyesuaikan dengan warna kulit penderita. Fase saat penderita terbebas dari serangan kekambuhan dikenal sebagai masa remisi.
"Eksim tidak bisa ditularkan lewat kontak kulit, kontak seksual, atau cara lainnya," kata Busso.
Hingga saat ini, faktor utama pemicu dermatitis atopik belum diketahui secara pasti. Para pakar berpendapat bahwa kondisi ini tidak dipicu oleh satu faktor tunggal, melainkan gabungan dari aspek genetik, lingkungan, serta kondisi biologis. Pada beberapa situasi, kelainan ini diperkirakan berhubungan dengan mutasi genetik yang diturunkan.
"Penyebab paling umum adalah mutasi pada gen FLG (Filaggrin), yang bertanggung jawab memproduksi zat bernama natural moisturizing factor," jelas dokter spesialis alergi dan imunologi bersertifikat, Martin Smith, M.D., praktisi di Cleveland Clinic.
Apabila fungsi gen tersebut terganggu, produksi kelembapan alami pada kulit akan berkurang drastis sehingga memicu kondisi kulit kering. Di sisi lain, individu yang memiliki riwayat keluarga penderita eksim, demam alergi, maupun asma berisiko lebih tinggi mengidap dermatitis atopik.
"Jika seorang anak memiliki satu orang tua dengan salah satu kondisi tersebut, risikonya tiga kali lebih tinggi mengalami eksim. Sementara jika kedua orang tua memiliki eksim, alergi, atau asma, risikonya menjadi lima kali lebih tinggi," ujarnya.
Kendati demikian, tidak semua orang dengan variasi genetik tersebut secara otomatis akan mengalami gejala kekambuhan. Gangguan ini memerlukan pemicu dari luar, seperti penurunan suhu udara, pergantian musim, paparan alergen, atau pemicu biologis seperti tingkat stres tinggi, penurunan daya tahan tubuh, dan makanan yang memicu peradangan.
"Gaya hidup seseorang benar-benar bisa memengaruhi intensitas dan frekuensi kekambuhan dermatitis atopik," kata Busso.
Berbagai faktor harian mulai dari pola makan, tingkat kegiatan fisik, kebiasaan menjaga kebersihan, tingkat stres, hingga pemilihan produk perawatan kulit dapat memperburuk atau justru meredakan kondisi peradangan tersebut.
Oleh sebab itu, melakukan modifikasi pada aspek-aspek tersebut bukan sekadar anjuran, melainkan bagian inti dari manajemen perawatan bagi para penderita eksim.
Meskipun sebagian penderita tetap memerlukan penanganan medis khusus seperti penggunaan krim nonsteroid topikal atau terapi obat oral JAK inhibitor, penderita lainnya dapat merasakan perbaikan yang nyata hanya dengan menerapkan perubahan pola hidup berikut.
1. Menyesuaikan Jenis Olahraga yang Sesuai
Sebagian penderita eksim kerap menganggap olahraga sebagai pemicu munculnya gejala. Namun, kendala sebenarnya bukan terletak pada aktivitas fisiknya, melainkan pada produksi keringat.
"Olahraga meningkatkan suhu tubuh internal," jelas dokter spesialis penyakit dalam bersertifikat, Zion Ko Lamm, M.D.
Peningkatan suhu ini mendorong tubuh mengeluarkan keringat ke permukaan kulit demi memberikan efek sejuk saat penguapan terjadi.
Walaupun penting untuk menjaga kestabilan suhu tubuh, proses penguapan ini dapat mengikis lapisan minyak alami pada benteng pertahanan kulit (skin barrier), yang kemudian memicu rasa kering dan gatal semakin parah.
Meski demikian, menghentikan aktivitas olahraga sepenuhnya bukanlah langkah yang tepat, sebab kurang bergerak justru dapat memicu kekambuhan melalui mekanisme lain.
"Olahraga sangat efektif mengurangi stres, yang sendirinya bisa memicu kekambuhan eksim," kata Smith.
Langkah terbaik adalah mengontrol volume keringat saat beraktivitas serta segera mengganti pakaian yang basah setelah selesai berolahraga.
Jika memilih olahraga renang, sangat disarankan untuk langsung membilas tubuh dengan air bersih.
"Residu klorin bisa memicu kekambuhan eksim," jelas Smith.
2. Memakai Pakaian Olahraga yang Memiliki Sirkulasi Udara Baik
Saat berlatih beban di area pusat kebugaran, berjalan-jalan bersama hewan peliharaan, maupun mendaki alam terbuka, pastikan untuk mengenakan pakaian berpori (breathable).
Sangat disarankan menghindari bahan nilon maupun poliester karena dapat terperangkap keringat dan menaikkan suhu tubuh sehingga memicu keringat berlebih.
Sebagai alternatif, gunakan pakaian berbahan serat alami seperti serat bambu atau wol merino.
Di samping pemilihan bahan, Smith turut menganjurkan agar menghindari pakaian yang terlalu ketat guna meminimalkan gesekan antara kain dan kulit yang berpotensi memperparah iritasi.
3. Menahan Diri untuk Tidak Menggaruk
"Menggaruk area gatal justru bisa membuat rasa gatal menyebar ke bagian tubuh lain," kata Smith.
Proses menggaruk merangsang pelepasan pelepasan zat kimia bernama interleukin 31, yang dikenal sebagai faktor pemicu gatal, ke dalam aliran darah.
"Zat kimia ini kemudian mengikat ujung saraf pada kulit, bahkan di lokasi yang berbeda dari titik gatal awal, sehingga menyebabkan rasa gatal lebih lanjut," jelasnya.
Selain itu, tindakan menggaruk dapat merusak pertahanan kulit (skin barrier) secara bertahap, yang pada akhirnya memperberat tingkat peradangan, terang Busso.
4. Memanfaatkan Kompres Dingin atau Krim Penenang
Terdapat berbagai cara untuk meredakan sensasi gatal sebelum timbul dorongan untuk menggaruk. Pada tingkat gatal yang ringan, Smith menyarankan penggunaan kompres kain basah dingin atau kantong es selama 5 hingga 10 menit.
Suhu dingin mampu memberikan efek kebas sementara pada area yang bermasalah sekaligus mengurangi pembengkakan serta peradangan, tuturnya.
Penderita juga dapat mengaplikasikan salep atau krim khusus pereda gatal.
"Krim bebas resep yang mengandung hidrokortison 1 persen bisa membantu," kata Smith.
Walaupun penggunaan jangka pendek tergolong membantu, apabila pemakaian dilakukan terus-menerus setiap hari, Busso menyarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter untuk memperoleh solusi penanganan medis lain.
5. Mengaplikasikan Pelembap Secara Teratur
Bagi penderita gangguan kulit ini, pelembap merupakan kebutuhan utama. Krim yang tepat berfungsi mengunci kadar air di dalam lapisan kulit untuk menggantikan penurunan pasokan natural moisturizing factor.
Dalam memilih pelembap, utamakan produk yang mengandungkan ceramide, asam lemak, gliserin, panthenol, serta asam hialuronat. Kombinasi kandungan tersebut efektif menjaga kelembapan sekaligus memperbaiki benteng pertahanan kulit.
"Aplikasikan pelembap ini setiap kali selesai mencuci tangan, serta segera setelah mandi," kata Smith.
Bagi penderita eksim, tidak ada batasan frekuensi dalam mengoleskan pelembap.
6. Melakukan Konsultasi dengan Ahli Gizi
Mengingat eksim merupakan penyakit berbasis peradangan, penerapan pola makan antiinflamasi dapat memberikan dampak positif bagi sebagian penderita, menurut Busso.
Karena pemicu peradangan pada setiap individu berbeda-beda, konsultasi dengan tenaga medis serta ahli gizi sangat dianjurkan sebelum melakukan penyesuaian menu makanan secara ekstrem.
Beberapa jenis makanan yang umum menjadi pemicu timbulnya dermatitis atopik meliputi susu sapi, produk olahan daging, olahan gandum, kedelai, telur, minuman berkarbonasi manis, krimer non-diari, hingga olahan kacang tanah serta kacang pohon.
Selain menghindari makanan pemicu, para pakar menganjurkan penambahan asupan bahan makanan antiperadangan guna menurunkan beban inflamasi dalam tubuh.
Asupan yang disarankan meliputi buah-buahan segar, sayuran, minyak zaitun, serta biji-bijian utuh.
"Asam lemak omega-3, yang banyak ditemukan pada ikan seperti salmon, makarel, dan sarden, juga bersifat antiperadangan," kata Smith.
7. Mengelola Tingkat Stres dengan Baik
Selain dikenal memberikan dampak buruk bagi kesehatan umum, tekanan stres juga membawa pengaruh negatif bagi penderita eksim.
Saat seseorang mengalami stres berat, produksi hormon kortisol akan meningkat pesat. Kadar kortisol berlebih berpotensi mengganggu kerja sistem kekebalan tubuh.
"Kondisi ini bisa membuat tubuh lebih rentan terhadap pemicu peradangan, sekaligus melemahkan skin barrier," kata Smith.
Di samping itu, kondisi stres berkepanjangan kerap membuat seseorang abai terhadap perawatan diri serta kebersihan tubuh, yang pada akhirnya memperburuk peradangan eksim.
8. Memperbaiki Rutinitas Kebersihan Diri
Terdapat beberapa langkah penyesuaian sederhana pada kebiasaan mandi serta mencuci yang dapat meminimalkan risiko timbulnya kekambuhan.
Langkah awal dapat dilakukan dengan memeriksa komposisi bahan pada produk sabun mandi, detergen, sampo, kondisioner, serta pelembap guna memastikan tidak ada kandungan yang memicu iritasi.
Bahan kimia yang sering memicu peradangan eksim antara lain sulfat, cocamidopropyl betaine, bahan pewangi buatan, lanolin, propylene glycol, serta etanol. Gunakan produk bebas pewangi (fragrance-free) sebagai alternatif.
"Kalau harus memakai parfum atau cologne, semprotkan ke pakaian, bukan langsung ke kulit, agar tidak memicu kekambuhan," kata Smith.
Disarankan pula untuk tidak mandi menggunakan air yang terlalu panas serta membatasi durasi mandi maksimal 10 menit saja. Air panas dapat meluruhkan lapisan minyak alami kulit sehingga memicu kerusakan jaringan dan meningkatkan risiko kekambuhan.