JAKARTA - Riset paling gres yang dipublikasikan dalam JAMA Internal Medicine membeberkan dua jenis profesi yang mengantongi risiko tertinggi meninggal dunia akibat penyakit kanker yang dipicu oleh paparan radiasi.
Merujuk data New York Post, Rabu (19/8), riset tersebut memanfaatkan basis data nasional di Amerika Serikat yang menghimpun lebih dari 12 juta lembar sertifikat kematian dengan keterangan jenis pekerjaan.
Tim peneliti menelaah rasio kematian yang diakibatkan oleh bermacam varian kanker terkait pemaparan radiasi, seperti leukemia, limfoma, multiple myeloma, kanker kulit, payudara, tiroid, prostat, hingga sistem saraf pusat.
Dari total melampaui 500 kategori pekerjaan, pramugari menduduki posisi teratas dalam persentase kematian akibat kanker terkait radiasi, disusul oleh pilot di peringkat kedua.
Pada kedua profesi ini, probabilitas meninggal akibat aneka tipe kanker imbas radiasi terpantau melampaui rata-rata normal. Sebaliknya, kedua kelompok pekerja tersebut tidak mencatatkan kenaikan angka kematian di atas batas wajar untuk kategori kanker yang tidak bersinggungan dengan radiasi.
Menurut ulasan penulis riset Catherine Olsen dan Ken Karipidis, temuan ini memperkuat dugaan bahwa "paparan radiasi akibat pekerjaan, bukan gaya hidup atau faktor sosial ekonomi, menjadi penyebab meningkatnya risiko tersebut".
Para ilmuwan menguraikan bahwa pramugari mengantongi peluang sekitar 50 persen lebih tinggi meninggal akibat kanker radiasi jika dibandingkan populasi pekerja umum. Sementara itu, kelompok pilot mencatatkan angka peluang sekitar 36 persen lebih tinggi.
Penulis utama riset, Dr. Vishal Patel dari Harvard Medical School menjelaskan jika ditinjau dari estimasi risiko absolut, kisaran 6,9 persen kasus kematian pramugari dipicu oleh kanker jenis tersebut, atau setara 1 dari 14 kematian. Pada profesi pilot, angkanya menyentuh 6,7 persen.
Sedangkan pada demografi pekerja secara umum, rasionya berada di kisaran 5 persen.
Meski demikian, para peneliti menggarisbawahi beberapa keterbatasan dalam riset ini, termasuk ketiadaan data riil mengenai dosis pemaparan radiasi yang diterima tiap-tiap pramugari maupun pilot sepanjang bertugas di udara atau dari sumber lain.
Mereka pun belum memasukkan kalkulasi variabel kesehatan lain yang inheren pada profesi tersebut, mengingat keparahan kanker dapat terakselerasi akibat disrupsi jam biologis tubuh yang dipicu oleh jet lag serta pola kerja yang tak menentu. Di samping itu, ada potensi ketidakakuratan dalam pencatatan profesi pada beberapa sertifikat kematian.
Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (Federal Aviation Administration/FAA) telah mengonfirmasi bahwa awak pesawat memang terpapar radiasi pengion. Namun demikian, otoritas AS belum menetapkan ambang batas dosis radiasi tingkat federal ataupun mewajibkan pemantauan pemaparan tersebut secara berkala, menurut pemaparan tim penulis riset.
"Kami tidak dapat mengelola paparan yang kami pilih untuk tidak diukur," kata Patel melalui email.
Sara Nelson, pimpinan serikat pekerja Association of Flight Attendants-CWA yang menaungi sekitar 55.000 pramugari, menegaskan bahwa laporan riset ini kian memperjelas bahwasanya paparan radiasi patut diantisipasi secara serius, persis seperti yang disuarakan serikat pekerja selama bertahun-tahun.
"Risikonya sudah diketahui, tetapi awak pesawat tidak mendapatkan edukasi atau informasi yang memadai. Dan tidak ada yang bertanggung jawab,” ujar Nelson.
Olsen dan Karipidis menyarankan agar pemeriksaan kesehatan kulit tahunan seyogianya dipertimbangkan bagi seluruh personel yang bekerja di penerbangan ketinggian tinggi. Pekerja perempuan pada sektor ini juga diimbau mempertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan mamografi lebih dini atau dengan frekuensi lebih berkala.
Dalam lingkup ini, radiasi kosmik bertolak dari luar angkasa. Cuma porsi kecil dari radiasi ini yang sanggup menembus permukaan Bumi, namun tingkat paparannya jauh lebih tinggi bagi individu yang terbang di elevasi tinggi.
Sejumlah kajian berskala lebih kecil sebelumnya memang menunjukkan indikasi terbatas bahwa paparan tersebut berkorelasi dengan peningkatan tingkat kematian akibat kanker pada orang yang intens terbang, terutama pilot dan pramugari.