Selain Visi, Ini 5 Hal yang Wajib Dibahas Sebelum Menikah

Selain Visi, Ini 5 Hal yang Wajib Dibahas Sebelum Menikah
Ilustrasi pasangan [FOTO: NET].

JAKARTA - Saat jalinan asmara melangkah menuju jenjang pernikahan, topik perbincangan antarpasangan umumnya bakal kian mendalam. Topik yang dibahas tidak lagi sebatas makanan favorit, tujuan liburan, atau aktivitas rutin harian. Terdapat agenda yang jauh lebih esensial untuk didiskusikan, seperti urusan finansial, karier, pengasuhan anak, hingga pemilihan domisili.

Hal ini teramat krusial lantaran pernikahan bukan sekadar mengukur besarnya ikatan cinta, melainkan bagaimana dua insan merancang kehidupan bersama. Melansir Psychology Today, psikolog Mark Travers, PhD, menerangkan bahwa kesamaan arah dan prinsip hidup menjadi indikator penting bahwa pasangan memiliki potensi mengarungi hubungan jangka panjang.

Lantas, apa saja poin utama yang semestinya dibahas sebelum pasangan memutuskan mengikat janji suci?

Hal Ini Perlu Dibicarakan Sebelum Menikah

1. Visi tentang masa depan Pertanyaan mengenai masa depan mungkin terdengar mendasar, tetapi jawabannya sanggup menentukan banyak keputusan dalam mahligai rumah tangga. Pasangan dapat mendiskusikan keinginan untuk menikah, memiliki anak, menetap di kota tertentu, atau kesiapan berpindah tempat tinggal akibat urusan pekerjaan.

Menurut Travers, urusan seperti pernikahan, relokasi tempat tinggal, hingga rencana memiliki momongan menjadi bagian dari visi masa depan yang perlu dipetakan saat mengukur keselarasan pasangan. Pasangan tidak dituntut memiliki rencana yang persis sama. Akan tetapi, bilamana arah tujuan keduanya sangat bertentangan, titik temu kompromi akan kian sulit dicapai.

2. Pandangan tentang keuangan Finansial merupakan elemen yang tak terpisahkan dari dinamika rumah tangga. Oleh sebab itu, mendiskusikan aspek keuangan sebelum menikah dapat membantu masing-masing pihak memahami kebiasaan dan harapan pasangan.

Pembahasan tidak perlu langsung menyentuh angka-angka rumit, melainkan bisa diawali dari hal sederhana. Misalnya, bagaimana pandangan pasangan mengenai kebiasaan menabung, menyikapi utang, membeli barang bernilai tinggi, membagi porsi pengeluaran, hingga alokasi bantuan untuk keluarga masing-masing.

3. Keinginan memiliki anak dan pola pengasuhan Kesepakatan mengenai anak merupakan poin krusial yang sebaiknya tidak ditunda pembahasannya sampai pascamenikah. Pasangan perlu menyelaraskan apakah keduanya ingin memiliki anak, bagaimana gambaran kehidupan keluarga setelah hadirnya buah hati, serta pembagian peran dalam pengasuhan.

Diskusi juga dapat dikembangkan ke aspek yang lebih mendetail, seperti siapa yang akan lebih banyak mendampingi tumbuh kembang anak, pembagian tugas domestik rumah tangga, hingga kesiapan menghadapi kondisi apabila salah satu pihak harus mengurangi porsi pekerjaan.

4. Hubungan dengan keluarga besar Pernikahan memang bertujuan membangun unit keluarga baru, namun dalam banyak situasi, interaksi dengan keluarga besar tetap membayangi kehidupan rumah tangga. Maka dari itu, pasangan perlu membicarakan seberapa dekat jarak hunian yang diinginkan dari orang tua, intensitas berkunjung, hingga mekanisme pemberian dukungan saat orang tua atau sanak keluarga membutuhkan bantuan.

5. Cara menghadapi konflik Pasangan yang memiliki banyak kesamaan sekalipun pasti akan menjumpai silang pendapat. Oleh karena itu, hal krusial lainnya bukan sekadar pada materi yang diperdebatkan, melainkan bagaimana respons pasangan saat perselisihan muncul.

Travers menggarisbawahi konsep repair attempts, yaitu upaya untuk meredakan tensi konflik dan membangun kembali komunikasi setelah terjadi ketegangan. Bentuknya bisa sangat sederhana, seperti menyampaikan permohonan maaf, menata nada bicara, meminta jeda waktu untuk menenangkan diri, menunjukkan simpati, atau mengajak pasangan mengulang perbincangan secara lebih kepala dingin.

Riset John Gottman dan sejawatnya yang terbit dalam Journal of Family Psychotherapy pada 2015 turut menguatkan pentingnya langkah perbaikan dalam mengelola perselisihan pasangan. Tindakan tersebut terbukti ampuh menekan emosi negatif dan memulihkan ikatan positif selama perselisihan berlangsung.

Dengan demikian, pasangan tidak perlu memburu hubungan yang sepenuhnya steril dari pertengkaran. Poin yang jauh lebih berharga adalah memastikan kedua belah pihak memiliki metode yang sehat dalam menyikapi perbedaan dan membenahi hubungan setelahnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index