Pentingnya Transformasi Pariwisata Berkelanjutan di Indonesia

Pentingnya Transformasi Pariwisata Berkelanjutan di Indonesia
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana saat sambutan secara virtual pada acara Sustainable Tourism Development Forum (STDev Forum) seri kelima, Kamis (27/8/2026).

JAKARTA - Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menegaskan pentingnya pembangunan sektor pariwisata yang wajib memastikan manfaatnya bagi masyarakat, melestarikan lingkungan, serta mendongkrak kualitas pengalaman bagi para wisatawan.

Pernyataan tersebut disampaikan langsung untuk mempertegas komitmen pemerintah dalam mengembangkan potensi wisata nasional secara menyeluruh dan berimbang.

"Indonesia memiliki kekayaan alam, budaya, dan keragaman destinasi yang menjadi kekuatan besar pariwisata nasional. Karena itu, pembangunan pariwisata tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan, tetapi harus memastikan manfaat bagi masyarakat, menjaga lingkungan, dan meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan," kata Widiyanti dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.

Widiyanti menilai pendekatan pariwisata berkelanjutan yang terukur, berbasis data, serta berorientasi pada penguatan kapasitas lokasi wisata perlu dijadikan pedoman utama dalam pengembangan pariwisata nasional.

Dirinya menekankan bahwa sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, komunitas warga, hingga mitra pembangunan menjadi hal yang kian krusial.

Oleh sebab itu, Kementerian Pariwisata berkolaborasi dengan Indonesia Sustainable Tourism Council (ISTC) menggelar Sustainable Tourism Development Forum (STDev Forum) seri kelima bertema “Pariwisata Berkualitas sebagai Wujud Kedaulatan: Dari Tantangan Menuju Aksi Kolaborasi” sebagai wadah kerja sama lintas pihak demi menguatkan penerapan pariwisata berkualitas di Tanah Air.

Ajang tersebut menjelma menjadi ruang vital bagi para pemangku kepentingan untuk membedah pembangunan pariwisata Indonesia yang tidak sekadar berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, melainkan juga keberlanjutan lingkungan, sosial, dan budaya.

Kegiatan ini menghadirkan jajaran akademisi serta praktisi untuk mendiskusikan transformasi tata kelola pariwisata menuju pembangunan yang semakin bermutu.

“ISTC memiliki peran strategis dalam menjaga standar, memperkuat kapasitas, serta mengonsolidasikan penerapan pariwisata berkelanjutan di tingkat nasional. STDev Forum seri kelima ini menjadi ruang untuk memperkuat jejaring, berbagi praktik baik, dan menghasilkan solusi konkret bagi pariwisata Indonesia,” katanya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Pariwisata Universitas Pelita Harapan (UPH) yang juga menjabat Ketua Umum HILDIKTIPARI, Diena Mutiara Lemy, memaparkan bahwa pariwisata Indonesia perlu beralih dari pola mass tourism yang bersifat ekstraktif menuju ekosistem pariwisata yang lebih adaptif.

Menurut penilaiannya, tekanan terhadap daya dukung lingkungan atau carrying capacity sudah mulai tampak di sejumlah wilayah wisata unggulan.

“Penting untuk ditegaskan bahwa mass tourism bukanlah sesuatu yang sepenuhnya negatif. Mass tourism merupakan salah satu bentuk pariwisata yang memungkinkan keterjangkauan bagi banyak kalangan. Jadi, mass tourism tidak harus dihapus, melainkan perlu direkonstruksi, terutama pada aspek ekstraktifnya,” ucap Diena.

Diena mengambil contoh Bali sebagai salah satu destinasi utama yang tengah menghadapi beraneka tantangan, mulai dari lonjakan kunjungan, alih fungsi lahan, hingga kemacetan lalu lintas.

Pelbagai langkah penanganan sebetulnya telah dijalankan, namun menurutnya masih kerap bergerak secara sektoral sehingga memerlukan keterpaduan yang jauh lebih kokoh.

Diena lantas menyodorkan kerangka ALCIS sebagai salah satu opsi pendekatan guna mengelola ekosistem pariwisata secara terpadu.

Kerangka kerja tersebut mencakup lima pilar utama, yaitu attractiveness yang memprioritaskan mutu pengalaman ketimbang sebatas jumlah daya tarik, serta localness yang berfokus pada penguatan warga lokal supaya rantai nilai pariwisata tetap memberi dampak positif bagi masyarakat.

Selanjutnya yaitu competitiveness guna membentuk daya saing bernilai tambah yang sanggup menghadirkan kunjungan berkualitas, inclusiveness untuk menjamin pariwisata dapat dijangkau serta memberi manfaat bagi seluruh strata masyarakat, hingga sustainability sebagai fondasi utama yang mengikat seluruh pilar tersebut.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index