Strategi Efisiensi PTBA dalam Mengejar Target Produksi Batu Bara

Strategi Efisiensi PTBA dalam Mengejar Target Produksi Batu Bara
Pekerja meninjau tambang batu bara milik PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

JAKARTA — PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) membidik produksi batu bara sebanyak 49,55 juta ton pada tahun ini seiring dengan peningkatan penjualan ekspor.

Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan menjelaskan bahwa perseroan telah memasuki periode operasional yang jauh lebih kondusif sehingga dapat memacu pemulihan produksi sekaligus memperkuat kinerja penjualan ekspor.

“Memasuki periode dengan kondisi operasional yang lebih kondusif, perseroan berhasil mendorong pemulihan kinerja produksi sekaligus memperkuat kinerja penjualan ekspor, baik secara kuartalan maupun tahunan,” kata Bambang dalam keterangan resmi, Selasa (1/9/2026).

Dia menyampaikan PTBA turut mengoptimalkan peluang pasar di tengah momentum kenaikan harga batu bara dunia lewat penerapan strategi penjualan yang adaptif, dibarengi dengan program efisiensi guna menjaga disiplin biaya operasional.

Sepanjang 2026, PTBA menetapkan target produksi batu bara mencapai 49,55 juta ton dengan target penjualan sebesar 49,51 juta ton. Sementara itu, volume angkutan ditargetkan sebanyak 41 juta ton dengan stripping ratio 5,63 kali.

Target ini menjadi tantangan tersendiri bagi PTBA lantaran realisasi produksi pada semester I 2026 masih mengalami penurunan secara tahunan.

Berdasarkan laporan kinerja perseroan, produksi batu bara PTBA di semester I 2026 terhitung sebesar 19,45 juta ton, atau menyusut 10 persen dari periode sama di tahun lalu yang mencapai 21,73 juta ton.

Sementara itu, volume penjualan tercatat 21,10 juta ton, turun 2 persen secara tahunan dari 21,62 juta ton. Penjualan pasar domestik turun 9 persen menjadi 10,77 juta ton, namun penjualan ekspor tumbuh 5 persen menjadi 10,33 juta ton.

Dari aspek pengangkutan, PTBA membukukan volume 18,15 juta ton pada semester I 2026, atau turun 6 persen dibanding 19,27 juta ton pada semester I 2025. Di sisi lain, angka stripping ratio membaik dari 6,17 kali menjadi 5,26 kali.

Walau volume produksi dan penjualan sempat terkoreksi secara tahunan, kinerja operasional PTBA mulai memperlihatkan tren positif di kuartal II 2026. Angka produksi melonjak 94 persen secara kuartalan, sedangkan penjualan naik 8 persen secara kuartalan.

Rata-rata harga jual atau average selling price (ASP) turut mengalami kenaikan sebesar 14 persen secara kuartalan dan 10 persen secara tahunan.

Dari segi keuangan, PTBA mengantongi pendapatan usaha Rp22,03 triliun pada semester I 2026, naik 8 persen dari Rp20,45 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan pendapatan tersebut selaras dengan penurunan beban pokok pendapatan sebesar 2 persen menjadi Rp17,78 triliun, sehingga laba kotor melesat 89 persen menjadi Rp4,25 triliun.

Laba usaha PTBA melonjak 209 persen menjadi Rp2,82 triliun dari Rp914,64 miliar. Sementara laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menembus Rp2,65 triliun, melambung 218 persen dari Rp833,04 miliar pada semester I 2025.

Perseroan turut membukukan EBITDA sebesar Rp4,27 triliun, naik 94 persen secara tahunan dari Rp2,20 triliun. Margin laba bersih dan EBITDA masing-masing tercatat di angka 12 persen dan 19 persen.

Dari sisi investasi, belanja modal PTBA per 30 Juni 2026 terserap Rp1,09 triliun, atau sekitar 30 persen dari total target tahunan Rp3,64 triliun. Porsi terbesar alokasi anggaran ini disalurkan untuk pengembangan angkutan batu bara rute Tanjung Enim–Kramasan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index