Pembatasan Gula di 1.000 Hari Pertama Turunkan Risiko Kanker Kami

Pembatasan Gula di 1.000 Hari Pertama Turunkan Risiko Kanker Kami
Ilustrasi Bayi.

JAKARTA - Asupan gula sejak berada dalam kandungan hingga anak genap berusia dua tahun ternyata memberikan dampak yang sangat besar bagi kondisi kesehatan pada masa tua.

Membatasi konsumsi makanan manis sejak usia dini terbukti secara ilmiah membantu menekan risiko berbagai penyakit berbahaya, sekaligus memperlambat proses penuaan sel di dalam tubuh.

Hal tersebut dipaparkan oleh Associate Professor of Economics di University of Cambridge, Weilong Zhang, disadur pada Selasa (1/9/2026).

"Studi baru yang saya dan rekan-rekan lakukan menunjukkan bahwa orang yang mendapat paparan gula lebih sedikit di awal kehidupannya memiliki kemungkinan jauh lebih rendah mengidap berbagai jenis kanker di kemudian hari," ujar dia.

Menurut Zhang, kelompok orang ini juga memperlihatkan tanda penuaan biologis yang tergolong lebih lambat dan berhasil membangun pola makan yang jauh lebih sehat sewaktu mereka beranjak dewasa.

Menguji dampak nutrisi semacam ini secara langsung bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Para peneliti tentu tidak mungkin bereksperimen dengan memberikan asupan gula berlebih pada bayi, lalu menunggu hingga 70 tahun untuk mencatat efek sampingnya.

Oleh sebab itu, tim peneliti memanfaatkan momen sejarah penjatahan gula di Inggris pasca-Perang Dunia II. Saat kebijakan ketat ini resmi berakhir pada September 1953, konsumsi gula masyarakat langsung melonjak pesat hingga hampir dua kali lipat.

"Ini berarti anak-anak yang lahir pada waktu yang berdekatan memiliki tingkat paparan gula yang sangat berbeda, baik saat masih di dalam rahim maupun selama masa kanak-kanak awal," jelas Zhang.

Riset bertajuk "Early-life sugar restriction causally reduces adult cancer incidence and slows biological aging" (2026) ini menganalisis 64.000 data warga Inggris yang lahir antara tahun 1951 dan 1956.

Kelompok yang lahir lebih awal menghabiskan sebagian besar periode 1.000 hari pertama kehidupannya pada era pembatasan gula. Fase awal ini sangat krusial karena organ, metabolisme, dan sistem imun tubuh anak sedang berkembang pesat.

Berdasarkan analisis data kesehatan UK Biobank, peneliti menemukan bahwa mereka yang mengalami pembatasan gula pada usia dini memiliki risiko lebih rendah terhadap serangan kanker payudara, prostat, hati, rektum, dan paru-paru.

"Efek paling kuat terlihat pada kanker hati, di mana tingkat kejadiannya sekitar 69 persen lebih rendah. Efek yang paling lemah, meski tetap berdampak, ada pada kanker payudara dengan risiko 36 persen lebih rendah," tutur Zhang.

Selain mencegah kanker, pembatasan asupan manis turut memengaruhi penuaan biologis yang diukur melalui panjang telomer, yakni struktur pelindung kromosom yang akan memendek seiring bertambahnya usia.

Orang dengan tingkat konsumsi gula yang minim pada masa bayinya ternyata memiliki telomer lebih panjang, setara dengan perlambatan penuaan biologis selama 2,2 tahun.

Kelompok ini juga mencatatkan tingkat protein granzyme B yang signifikan lebih rendah, menjadi penanda tambahan bahwa sel-sel tubuh mereka menua jauh lebih lambat.

Temuan menarik lain dari riset ini adalah bagaimana paparan gula di awal kehidupan mampu terus memengaruhi pola makan seseorang bahkan hingga 50 tahun kemudian.

"Kami menemukan bahwa orang-orang ini tetap mengonsumsi lebih sedikit gula di masa dewasa. Mereka juga makan lebih sedikit secara keseluruhan, dan pola makannya jauh lebih sehat serta beragam," ungkap Zhang.

Temuan ini membuktikan bahwa rasa manis yang dikenalkan pada usia dini akan menetap dan membentuk preferensi selera lidah seseorang hingga dewasa.

Hal tersebut didorong oleh mekanisme biologis tempat nutrisi awal membentuk organ tubuh, serta mekanisme perilaku yang membuat lidah terbiasa dengan menu makanan yang tidak manis.

Riset serupa juga mendeteksi rendahnya risiko diabetes tipe dua, demensia, alzheimer, hingga penyakit jantung pada kelompok anak tersebut.

Tentu saja, hasil pengamatan ini bukan berarti anak dilarang mengonsumsi gula sama sekali. Bukti sejarah ini menegaskan bahwa selisih kecil pada paparan gula anak dapat meninggalkan jejak kesehatan yang sangat panjang bagi tubuhnya kelak.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index