Pacu Diversifikasi Bisnis UNTR Targetkan Tambang Doup Beroperasi 2029

Pacu Diversifikasi Bisnis UNTR Targetkan Tambang Doup Beroperasi 2029
PT United Tractors Tbk.

JAKARTA — PT United Tractors Tbk (UNTR) mempercepat langkah pemulihan Tambang Martabe serta memacu proyek anyar PT Arafura Surya Alam (ASA) demi mengamankan diversifikasi bisnis non-batu bara.

Presiden Direktur United Tractors Iwan Hadiantoro menjelaskan bahwa diversifikasi ke sektor mineral, terutama komoditas emas, menjadi fokus utama perseroan untuk mengantisipasi penurunan bertahap pada permintaan batu bara termal (thermal coal).

Mengenai Tambang Emas Martabe yang dikelola oleh PT Agincourt Resources, Iwan mengungkapkan fasilitas tersebut resmi beroperasi kembali sejak akhir Mei 2026 setelah sempat mengalami suspensi selama lima bulan.

“Saat ini diharapkan di tahun 2026 kami terus bisa produksi dan menjual emas. Perkiraan kami mungkin ada di level 65.000 ons [emas] untuk 2026,” ujar Iwan dalam Public Expose Live 2026, Senin (7/9/2026).

Hingga periode Juli 2026, penjualan setara emas UNTR tergerus menjadi 32.000 ons dari posisi periode yang sama tahun lalu sebesar 143.000 ons akibat penghentian sementara Tambang Emas Martabe. Namun, perseroan optimistis volume produksi bakal kembali optimal pada 2027 seiring kesiapan infrastruktur.

Pada saat bersamaan, UNTR turut memperkuat portofolio emas melalui akuisisi 100% saham PT Arafura Surya Alam (ASA) pada 11 Februari 2026 lewat PT Danusa Tambang Nusantara dan PT Energi Prima Nusantara.

ASA merupakan pemegang Izin Usaha Pertambangan-Operasi Produksi (IUP-OP) atas Tambang Doup yang berlokasi di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara, dengan total luas area mencapai sekitar 4.000 hektare.

Iwan membeberkan bahwa pada rentang 2026–2028, perseroan berfokus menyelesaikan perizinan studi kelayakan dan AMDAL, engineering design pabrik pengolahan, serta pembebasan lahan secara bertahap.

“Fokus kami hingga 2028 menyelesaikan pembangunan infrastruktur dan processing plant di ASA. Kami harapkan tambang ini mulai berproduksi, menghasilkan, dan menjual emas pada 2029 nanti,” kata Iwan.

Langkah percepatan ini dilakukan di tengah tekanan terhadap kinerja keuangan perseroan. Sepanjang paruh pertama 2026, pendapatan bersih konsolidasian UNTR terkoreksi 15% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp58,28 triliun.

Sementara itu, perolehan laba bersih di luar non-recurring items mencapai Rp4,3 triliun atau mengalami penurunan sebesar 48% YoY.

Penurunan kinerja keuangan tersebut dipicu oleh lesunya tingkat penjualan alat berat serta penurunan produksi batu bara akibat kebijakan pengetatan kuota RKAB nasional.

Volume penjualan alat berat Komatsu hingga Juli 2026 mencatatkan penurunan sebesar 23% YoY menjadi 2.393 unit, terutama didorong oleh anjloknya penjualan produk big machine sektor pertambangan hingga 49%.

Di segmen batu bara, penjualan PT Tuah Turangga Agung tergerus 18% YoY menjadi 6,5 juta ton. Sementara pada segmen kontraktor penambangan (PAMA), overburden removal turun 10% menjadi 573 juta BCM dan produksi batu bara klien mengalami penurunan 3% menjadi 80 juta ton.

UNTR juga membukukan beban non-recurring sebesar Rp3,3 triliun pada semester I 2026, yang didominasi full impairment atas investasi di Supreme Energy Rantau Dadap akibat kapasitas di bawah estimasi, serta pembayaran terkait pemanfaatan kawasan hutan (PPKH) di tambang nikel Stargate.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index