Krisis Uang Tunai di Gaza, Warga Terhambat Bertransaksi Digital

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 02:29:00 WIB

DAILYENERGI.COM — Otoritas Moneter Palestina mencatat serangan Israel telah menghancurkan lebih dari 50 cabang bank dan puluhan anjungan tunai mandiri (ATM) di seluruh Gaza sejak perang meletus pada 7 Oktober 2023. Sejumlah besar uang tunai juga masih terperangkap di brankas bank yang rusak atau hancur.

Meski gencatan senjata Oktober 2025 memungkinkan beberapa bank membuka kembali cabangnya, layanan yang diberikan masih terbatas pada transaksi administratif. Perbankan belum mampu menyuntikkan likuiditas baru yang sangat dibutuhkan warga.

Warga Tak Punya Identitas, Rekening Bank Sulit Dibuka

Firas Zaqloul, seorang warga Gaza City, mengaku kesulitan setiap kali hendak membeli kebutuhan. Rumahnya hancur saat perang dan menimbun kartu identitas Palestinanya di bawah puing-puing. Tanpa dokumen itu, ia tidak bisa membuka rekening bank atau dompet elektronik.

"Saya menderita setiap hari ketika ingin membeli sesuatu. Penjual menolak uang kertas usang, jadi saya harus mencari cara lain untuk membayarnya," kata Zaqloul. "Saya hanya berharap para pedagang di Gaza mau menerima uang dari kami. Pada akhirnya, ini semua uang."

Warga Gaza lainnya juga kesulitan membuka rekening baru menggunakan dokumen identitas pengganti yang diterbitkan setelah 2023. Ribuan orang pun kehilangan akses ke sistem perbankan elektronik di tengah meningkatnya ketergantungan pada pembayaran digital.

Transaksi Harian Penuh Rintangan

Israa Najm, mahasiswi berusia 23 tahun, harus menunggu dua jam di sebuah toko pakaian hanya untuk menunggu ibunya mentransfer uang dari rumah. Ia membawa dokumen identitas yang diterbitkan selama perang, namun bank tidak menerimanya sehingga rekening Bank of Palestine miliknya tidak bisa dioperasikan.

"Setiap kali ingin pergi ke pasar, saya harus menelepon ibu saya dan meminta dia mentransfer uang. Kadang dia tidak punya internet, jadi kami berdua kesulitan hanya untuk melakukan pembayaran," ujar Najm. "Ada krisis kepercayaan antara penjual dan pembeli. Saya ingin bertransaksi tunai, tetapi terakhir kali saya menerima uang tunai setahun lalu, tidak ada yang mau menerimanya karena uangnya usang."

Najwa Kahil, 45 tahun, menghadapi kendala berbeda. Ponselnya terlalu tua untuk menjalankan aplikasi perbankan sehingga ia kerap mengajak anaknya untuk membantu transfer ke pedagang. "Saya merasa seperti berumur 100 tahun, bukan 45. Semuanya menderita, dari membeli makanan, memasak di atas api, sampai mengisi air," katanya.

Pembayaran Elektronik dan Gangguan Internet

Mohammed Awida, penjual kacang berusia 22 tahun, mengatakan berbelanja kini butuh persiapan matang. Ia harus mengisi daya ponsel sehari sebelumnya dan memastikan akses ke semua metode pembayaran elektronik karena setiap penjual bisa menuntut cara berbeda.

Gangguan internet menjadi kendala tambahan. Sebagian pedagang lebih memilih transfer melalui layanan telepon seluler yang menghasilkan konfirmasi SMS karena aplikasi perbankan membutuhkan koneksi internet yang bisa hilang sewaktu-waktu.

"Tanpa pesan itu, penjual tidak yakin bahwa Anda sudah membayar. Mereka mulai memandang Anda seolah mencoba mencuri," kata Awida.

Terkini