Wamendagri Ajak Mahasiswa Muhammadiyah Surabaya Jadi Generasi Kosmopolitan Berkarakter Kuat

Rabu, 16 September 2026 | 21:42:00 WIB

DAILYENERGI.COM — Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto mengajak mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Surabaya membangun wawasan global tanpa melepas akar kebangsaan. Dalam talkshow Orientasi Dinamika Kampus, Selasa (15/9), ia menekankan kompetensi membawa seseorang ke puncak, tetapi karakter yang membuatnya bertahan di sana.

Menurut Bima, generasi kosmopolitan bukan sekadar mereka yang bisa beradaptasi dengan perkembangan dunia. Yang ia maksud adalah generasi yang mampu menyeimbangkan kapasitas dan karya global dengan karakter serta kecintaan terhadap tanah air.

Mental Aktivis dan Semangat Fastabiqul Khairat

Bima mendorong mahasiswa memiliki mental aktivis agar terus berkarya dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitar. Semangat itu, katanya, sejalan dengan nilai fastabiqul khairat yang menjadi salah satu pilar penting Muhammadiyah.

"Insyaallah mental kalian adalah mental aktivis. Punya karya global dan hati nasionalis," kata Bima.

Ia menilai Muhammadiyah memiliki ekosistem pendidikan, sosial, dan pengabdian yang luas. Lingkungan itu, menurutnya, bisa menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda untuk mengembangkan diri sekaligus memperluas kontribusi.

Kompetensi Membawa ke Puncak, Karakter yang Menahan di Sana

Bima menekankan karakter sebagai fondasi keberhasilan. Kompetensi memang dibutuhkan untuk mengantar seseorang mencapai puncak karier, tetapi karakter yang membuat pencapaian itu bertahan lama.

"Yang membawa Anda ke puncak itu kompetensi. Tapi membuat Anda bertahan di puncak itu karakter," tegasnya.

Karakter, lanjut Bima, tercermin dari ketekunan, kemampuan memanfaatkan waktu, kemauan mendengarkan orang lain, serta kesediaan menghadapi tantangan. Semua itu tidak terbentuk instan, melainkan lewat proses panjang yang sering tak terlihat dari luar.

Ibarat Gunung Es dan Pentingnya Lingkaran Pertemanan

Ia mengibaratkan kesuksesan seperti fenomena gunung es. Masyarakat kerap hanya melihat hasil akhir berupa kekayaan, popularitas, atau pengaruh. Padahal di baliknya ada proses panjang berisi kesabaran, disiplin, doa, dan kemampuan menghadapi tantangan.

Dalam perjalanan itu, Bima mengingatkan mahasiswa agar tidak mengabaikan peran orang-orang di sekitar. Dukungan dan doa dari orang lain, ujarnya, membantu seseorang mencapai keberhasilan sekaligus menjaga agar tidak mudah terjatuh saat menghadapi masalah.

Ia lalu memperkenalkan konsep circle of esteem, yakni lingkaran persahabatan yang berisi orang-orang saling mendorong, menolong, mendoakan, menguatkan, dan mengingatkan.

"Berteman bisa dengan siapa saja. Tapi bersahabat harus dengan yang saling memberikan maslahat," kata Bima.

Bima berpesan agar mahasiswa tetap berada dalam lingkungan yang kondusif bagi perkembangan diri. Mereka boleh berteman dengan siapa saja dan menekuni bidang apa pun, tetapi perlu membangun lingkaran terdekat yang memberi pengaruh positif dalam perjalanan menjadi pemimpin.

Terkini