Haji Isam Akuisisi 10 Miliar Saham Bayan Resources, Ini Rinciannya

Jumat, 18 September 2026 | 06:42:00 WIB

DAILYENERGI.COM — PT Jhonlin Baratama milik Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam sepakat membeli 10.000.000.500 saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dari pendiri perusahaan, Dato' Dr Low Tuck Kwong dan anaknya Elaine Low. Perjanjian jual beli saham bersyarat (CSPA) diteken 16 September 2026, dengan laporan resmi disampaikan ke Bursa Efek Indonesia pada Kamis (17/9/2026). Jika tuntas, transaksi ini menjadi salah satu akuisisi terbesar di sektor batu bara tahun ini.

PT Bayan Resources Tbk membenarkan adanya pengalihan kepemilikan dalam jumlah besar. Direktur Bayan, Jenny Quantero, menyampaikan laporan tersebut ke Bursa Efek Indonesia.

"Setelah penyelesaian transaksi dan terpenuhinya seluruh syarat pendahuluan, Pembeli akan memiliki 10.000.000.500 saham biasa Perseroan," tulis Jenny dalam keterbukaan informasi.

Syarat Transaksi Belum Dibuka

Manajemen Bayan belum mengungkap syarat apa saja yang harus dipenuhi Jhonlin Baratama untuk merampungkan akuisisi. Namun perusahaan menegaskan transaksi ini tidak mengganggu operasional, hukum, keuangan, maupun kelangsungan usaha perseroan.

Jumlah saham yang dialihkan setara dengan porsi signifikan dari total saham beredar Bayan. Berdasarkan data Shareholders Information per 31 Maret 2026, Low Tuck Kwong menguasai 13.406.921.870 saham (40,22%), Elaine Low 7.333.833.700 saham (22,00%), PT Sumber Suryadaya Prima 3.333.380.000 saham (10,00%), dan publik 9.259.199.430 saham (27,78%).

Siapa Dua Taipan di Balik Transaksi

Low Tuck Kwong dikenal sebagai pendiri Bayan Group, salah satu produsen batu bara terbesar di Indonesia. Haji Isam membangun kerajaan bisnisnya lewat PT Jhonlin Baratama yang bergerak di sektor pertambangan dan energi.

Pertemuan kedua taipan ini menandai pergeseran peta kepemilikan di industri batu bara nasional. Bayan sendiri tercatat sebagai produsen batu bara peringkat lima teratas di Indonesia.

Target Produksi Tabang Capai 60 Juta Ton

Bayan Group menargetkan Proyek Tabang/Pakar memproduksi lebih dari 60 juta ton per tahun pada 2026. Perusahaan terus menilik metode dan teknologi baru untuk mempertahankan posisinya sebagai produsen batu bara berbiaya terendah.

Bayan menjadi perusahaan tambang pertama di Indonesia yang memakai through-seam blasting di tambang Wahana. Perusahaan juga mengoperasikan beberapa truk pengangkutan batu bara terbesar di Indonesia dengan kapasitas hingga 250 ton.

Di lokasi tambang Tabang, Bayan menerapkan Fleet Management System untuk meningkatkan akurasi dan efisiensi operasi tongkang.

Infrastruktur Angkut Batu Bara Sepanjang 101 Km

Bayan Group memiliki sejumlah infrastruktur batu bara, termasuk Balikpapan Coal Terminal, Dermaga Perkasa dan Wahana, serta dua Floating Transfer Barge. Fasilitas ini mampu membongkar muatan, menimbun batu bara, dan memuat kapal dengan kecepatan 3.000 sampai 8.000 ton per jam.

Perusahaan juga membangun jalan pengangkutan batu bara atau overland conveyor sepanjang 101 km yang menghubungkan Proyek Tabang dengan fasilitas pemuatan tongkang Muara Pahu. Fasilitas baru itu akan memiliki tiga unit pemuat tongkang untuk mengakomodasi peningkatan produksi hingga lebih dari 60 juta ton per tahun.

Jalan pengangkutan batu bara sepanjang 101 km tersebut disejajarkan dengan jalan umum sepanjang 85 km untuk memperbaiki akses masyarakat setempat.

Rampungnya akuisisi ini akan menentukan arah baru kepemilikan salah satu produsen batu bara terbesar Indonesia. Pasar menantikan detail syarat pendahuluan yang belum dibuka manajemen Bayan.

Terkini