DEN sebut Manfaat Hilirisasi Harus Lebih Adil bagi Daerah Penghasil

DEN sebut Manfaat Hilirisasi Harus Lebih Adil bagi Daerah Penghasil
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan.

JAKARTA - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menilai bahwa keberlanjutan manfaat dari kebijakan hilirisasi patut didistribusikan secara adil kepada wilayah penghasil beserta masyarakat di sekitar kawasan industri.

Walau hilirisasi telah menorehkan beragam capaian positif, Luhut melihat masih ada jajaran tugas rumah yang mesti diselesaikan, mulai dari pemerataan dampak ekonomi, penguatan peran pelaku usaha lokal, hingga perbaikan aspek kelestarian lingkungan dan keselamatan kerja.

"Manfaat hilirisasi harus lebih adil bagi daerah dan masyarakat sekitar industri. Pengusaha nasional dan pengusaha daerah harus naik kelas dalam rantai nilai. Teknologi harus dikuasai anak bangsa dan standar lingkungan serta keselamatan tidak bisa ditawar," ujar Luhut saat peluncuran '10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia' di Jakarta, Jumat.

Ia memaparkan bahwa pangsa pasar internasional kini kian menuntut kejelasan rantai pasok yang bersih serta ramah lingkungan. Oleh karena itu, pemenuhan standar ekologi bukan lagi opsi pelengkap, melainkan kriteria utama demi menjaga daya saing.

"Pasar dunia semakin menuntut pasok yang bersih. Jadi ini bukan lagi pilihan, ini syarat berdaya saing," katanya.

Dalam momen tersebut, Luhut turut menyinggung rekam jejak penerapan kebijakan hilirisasi komoditas mineral yang sempat menuai gelombang kritik, terutama sewaktu pemerintah memberlakukan larangan ekspor mentah bijih nikel hingga berujung gugatan di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

"Saya masih ingat masa-masa awal larangan ekspor bijih nikel, kami dicibir, kami ditekan dari berbagai arah, kami digugat sampai ke WTO dan banyak yang bilang Indonesia tidak akan sanggup," ujarnya.

Akan tetapi, keputusan tegas tersebut kini terbukti sanggup melipatgandakan nilai tambah komoditas tambang nasional. Keberhasilan ini tecermin dari melesatnya angka ekspor olahan nikel serta melesatnya laju pertumbuhan ekonomi di berbagai kawasan industri.

"Hasilnya kami bisa lihat dengan angka, bukan retorika. Ekspor produk nikel dan turunannya melonjak berlipat ganda. Morowali dan Halmahera Tengah yang dulu nyaris tidak tercatat dalam peta ekonomi nasional, sekarang tumbuh dua digit dan menjadi bagian dari rantai pasok industri dunia," kata Luhut.

Lewat pidatonya, Luhut melayangkan apresiasi atas terbitnya 10 buku tulisan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang dinilai sanggup membedah kondisi lapangan secara transparan, termasuk rentetan tantangan yang tengah dihadapi.

Ia menambahkan, poin-poin penting yang disampaikannya telah terangkum secara runtut di dalam karya buku tersebut.

"Buku ini berbeda. Pak Bahlil menulis sendiri dengan data-data yang sangat kaya. Bahwa pekerjaannya belum selesai tentunya. Bagian untuk daerah penghasil belum adil, pengusaha lokal masih banyak menjadi penonton di rumahnya sendiri. Ada persoalan lingkungan, ada persoalan keterampilan pekerja, dan ini ditulis oleh Pak Bahlil secara terbuka," ujar Luhut.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index