Penjelasan Ahli Soal Mitos Minum Air Saja Bisa Bikin Berat Badan Naik

Penjelasan Ahli Soal Mitos Minum Air Saja Bisa Bikin Berat Badan Naik
Ilustrasi Obesitas.

JAKARTA - Anggapan bahwa seseorang bisa mengalami kenaikan berat badan meski merasa hanya sedikit makan atau bahkan sekadar minum air masih kerap dijumpai di masyarakat.

Namun, pakar kesehatan menjelaskan bahwa fenomena tersebut tidak dapat langsung disimpulkan sebagai dampak dari gangguan hormon maupun metabolisme.

Ketua Perhimpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI), Prof. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D., menyampaikan keluhan itu mesti dicermati secara menyeluruh, termasuk kebiasaan mengonsumsi makanan yang kerap tidak disadari.

"Jadi makan itu tanda petik ya bukan sekeder udara terus langsung gemuk. Sebenarnya ada aspek lain tapi biasanya yang mengeluh kayaknya saya makannya sedikit deh. Tapi di luar itu yang tadi serabutan camilan-camilannya mungkin perlu diperhitungkan," ujar Dante dalam diskusi edukasi obesitas di Jakarta Pusat, Jumat (14/8/2026).

Camilan Tetap Perlu Diperhatikan

Menurut Dante, seseorang yang merasa hanya mengonsumsi sedikit makanan tetap perlu memperhatikan asupan yang masuk di luar jam makan utama.

Kebiasaan ngemil secara tidak sadar dapat membuat total asupan kalori harian jauh lebih besar dari perkiraan.

Di samping pola makan, Dante menerangkan bahwa setiap individu memiliki laju metabolisme yang berbeda-beda.

Ia menggambarkan individu dengan tingkat metabolisme tinggi dan rendah akan merespons jumlah kalori yang masuk secara berbeda.

"Level metabolisme yang tinggi itu berarti makanan yang masuk banyak dibakar untuk pencernaan. Nah, kalau yang rendah itu sebenarnya disimpan," kata Dante.

Dante menambahkan, perbedaan tersebut menyebabkan sebagian kalori lebih banyak dibakar atau justru ditimbun oleh tubuh.

Oleh sebab itu, klaim minum air saja dapat memicu kegemukan tidak cukup untuk menjelaskan akar penyebab obesitas, sehingga pemeriksaan menyeluruh sangat dibutuhkan.

Diet Bukan Perlombaan Menurunkan Berat Badan

Selain persoalan pola makan, para ahli turut menyoroti tren penurunan berat badan secara drastis yang marak di media sosial.

Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI), Dr. Erwin Kristianto, M.Gizi, SpGK, mengingatkan agar diet tidak dijalankan dengan prinsip mengejar hasil secepat mungkin.

"Diet itu jangan diasamakan dengan lomba lari ya. Semakin cepat mencapai finish semakin bagus," ujar Erwin.

Menurut Erwin, diet pada hakikatnya adalah pengaturan pola makan, bukan sekadar melarang seseorang mengonsumsi jenis makanan tertentu.

"Diet itu adalah mengatur kapan kami boleh makan, kapan kami tidak boleh makan, dan berapa banyak yang kami boleh makan," katanya.

Erwin menjelaskan, penurunan berat badan yang terlampau pesat dapat memicu gangguan kesehatan karena tubuh tetap membutuhkan pasokan energi untuk beraktivitas.

"Kalau terlalu cepat berat badan turun, semakin banyak keluhan yang akan dirasakan oleh si orang itu," ujar Erwin.

Ia menyebut tubuh memiliki mekanisme keseimbangan alami. Ketika asupan makanan dipangkas sementara beban aktivitas tetap berjalan, kondisi tersebut memicu efek samping seperti lemas dan pegal.

Oleh karena itu, metode penurunan berat badan harus disesuaikan dengan profil setiap individu dan tidak bisa diseragamkan untuk semua penderita obesitas.

Penanganan Obesitas Perlu Disesuaikan

Erwin juga menekankan bahwa penanganan obesitas tidak cukup hanya dengan memotong porsi makanan, mengingat faktor penyebab pada tiap orang berbeda-beda.

Dalam pemaparannya, ia mencontohkan ada orang yang merasa tidak makan banyak namun gemar mengonsumsi kudapan dalam jumlah tertentu, atau orang yang jarang makan tetapi mengambil porsi sangat besar sekali makan.

Sementara itu, Ketua Umum Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD-KEMD., mengimbau masyarakat agar tidak menunggu datangnya penyakit baru mulai memedulikan berat badan.

Ia menyarankan masyarakat aktif mengamati perubahan fisik, rutin mengukur berat badan dan lingkar perut, serta memanfaatkan sarana pemeriksaan kesehatan.

Dengan demikian, penanganan obesitas tidak sebatas berfokus pada target angka timbangan, melainkan mempertimbangkan kondisi fisik, kebiasaan makan, aktivitas, serta faktor pendukung kesehatan lainnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index