JAKARTA - Kalangan ekonom memprediksi bank sentral bakal kembali mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di kisaran 5,75 persen dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada Rabu (19/8/2026).
Kepala Ekonom PT Bank Danamon Tbk. (BDMN) Irman Faiz menilai belum terdapat urgensi mendesak bagi BI untuk menaikkan suku bunga, terutama karena sejumlah indikator moneter mengalami perbaikan dalam sebulan terakhir.
"Inflasi Juli turun menjadi 2,88% secara tahunan, sementara pertumbuhan ekonomi mulai termoderasi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya," jelasnya kepada Bisnis, Selasa (18/8/2026).
Menurut Irman, selama tekanan terhadap rupiah masih sanggup diredam lewat bauran intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), Surat Berharga Negara (SBN), serta instrumen moneter lain, BI diyakini lebih memilih menahan suku bunga acuan.
Kendati demikian, tertahannya laju BI Rate bukan menandakan ruang pengetatan moneter telah tertutup rapat. Irman meyakini fokus utama BI saat ini tetap berpusat pada menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Irman mengingatkan bahwasanya berbagai risiko eksternal masih mengintai, mulai dari tingkat suku bunga global yang tetap tinggi, arah kebijakan bank sentral AS The Fed yang belum memberi ruang penuh bagi pasar berkembang untuk beralih ke kebijakan akomodatif, hingga eskalasi tensi geopolitik dan gejolak harga minyak mentah.
Atas dasar itu, Irman menyimpulkan bahwa bank sentral akan menahan suku bunga pada RDG Agustus ini sembari memberikan sinyal pengetatan kebijakan moneter ke depan guna menjaga stabilitas rupiah.
"Kami masih mempertahankan pandangan bahwa BI Rate berpotensi naik menuju 6,25% pada akhir 2026 apabila tekanan terhadap rupiah kembali persisten," jelas Irman.
Senada, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David Sumual memproyeksikan BI akan kembali menahan suku bunga acuan pada RDG Agustus 2026. Kondisi pasar keuangan global yang berangsur kondusif menjadi salah satu pendorong proyeksi tersebut.
David mencermati hadirnya sentimen risk-on dari investor yang kembali menempatkan dana mereka di negara berkembang (emerging market), termasuk Indonesia.
"Kondisi market relatif kondusif di mana investor kembali risk-on ke emerging market, yang ditandai dengan yield [imbal hasil obligasi] turun dan rupiah menguat," ungkap David kepada Bisnis, Selasa (18/8/2026).
Lebih lanjut, David menjelaskan bahwa kembalinya arus modal asing ini banyak dipengaruhi oleh rilis data ketenagakerjaan serta tingkat inflasi di Amerika Serikat yang menunjukkan tren melandai. Pada saat bersamaan, data sektor riil dalam negeri juga mengindikasikan kelesuan.