JAKARTA — Platform media sosial memberikan kemudahan akses untuk mengamati penampilan orang lain secara luas.
Hanya lewat guliran layar gawai, berbagai unggahan bentuk tubuh ideal, aktivitas olahraga, hingga konten diet serta penurunan berat badan begitu mudah ditemukan.
Paparan visual tersebut tak jarang memicu seseorang secara tidak sadar membandingkan kondisi fisiknya dengan orang lain.
American Psychological Association (APA) mengimbau agar kelompok remaja membatasi penggunaan media sosial untuk perbandingan sosial, khususnya terkait aspek kecantikan dan penampilan fisik.
Langkah-langkah untuk mengurangi kebiasaan membandingkan bentuk tubuh di media sosial dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan:
Menyadari konten media sosial bukan cerminan kenyataan utuh
Langkah awal yang perlu ditanamkan adalah memahami bahwa setiap unggahan di media sosial telah melewati proses kurasi dan seleksi.
Setiap orang cenderung hanya menampilkan momen foto atau video yang dinilai paling menawan.
Faktor pencahayaan, sudut pengambilan gambar, proses penyuntingan, hingga filter bawaan sangat menentukan tampilan akhir seseorang.
Oleh sebab itu, menyandingkan bentuk tubuh pribadi dengan foto orang lain di linimasa tidak pernah menjadi perbandingan yang sepadan.
Mengevaluasi akun yang memicu dampak emosional negatif
Cermati kembali reaksi perasaan seusai menyaksikan konten tertentu di media sosial.
Apakah unggahan tersebut memberikan inspirasi dan edukasi, atau justru memicu rasa rendah diri serta dorongan diet ketat?
Apabila sebuah akun terus menyalurkan efek negatif terhadap persepsi tubuh, pertimbangkan untuk segera berhenti mengikuti akun tersebut.
Elizabet Altunkara, LMSW, dari National Eating Disorders Association mengimbau pentingnya menyaring akun yang mempromosikan pola hidup tak sehat.
Langkah ini membuat pengguna tidak perlu menghapus aplikasi media sosial secara total, melainkan cukup membenahi jenis asupan kontennya.
Membatasi konsumsi konten standar tubuh tertentu
Riset terbitan jurnal Body Image pada 2025 menunjukkan bahwa kecenderungan melakukan perbandingan sosial secara daring berbanding lurus dengan masalah citra tubuh dan gangguan makan.
Hasil analisis terhadap 83 penelitian dengan total 55.440 responden ini mempertegas pentingnya menyaring konten yang dikonsumsi.
Masyarakat diimbau tidak menjadikan tolok ukur di media sosial sebagai standar tunggal untuk menilai kondisi fisik yang sehat.
Mengalihkan fokus pada fungsi dan manfaat tubuh
Pendekatan lain guna menekan habitus membandingkan tubuh adalah dengan mengubah sudut pandang terhadap diri sendiri.
Daripada berfokus pada visual tubuh kurus atau berotot, mulailah mengapresiasi kegunaan tubuh dalam menopang aktivitas harian.
Cynthia M. Bulik, PhD, dari University of North Carolina Center of Excellence for Eating Disorders merekomendasikan metode body inventory.
"Metode ini mengajak pengguna mengapresiasi organ tubuh, seperti kaki yang membantu kami berjalan, paru-paru untuk bernapas, serta tangan untuk beraktivitas," tuturnya.
Melalui cara ini, perhatian tidak lagi terus-menerus tertuju pada kekurangan aspek penampilan fisik luar semata.
Tidak menjadikan olahraga sebagai sarana hukuman fisik
Aktivitas olahraga pada dasarnya menyimpan beragam manfaat kesehatan bagi tubuh manusia.
Kendati demikian, niat dan dorongan di balik kegiatan fisik tersebut tetap perlu dievaluasi kembali.
Jika olahraga dilakukan semata demi mengubah bentuk tubuh karena merasa tertekan oleh unggahan media sosial, tujuan esensialnya akan terdistorsi.
Kembalikan tujuan olahraga pada esensi dasarnya, seperti menjaga kebugaran, mendongkrak stamina, serta meningkatkan kesehatan fisik.
Membangun pola pikir kritis saat menerima informasi
Perbandingan sosial memang menjadi hal yang cukup sulit untuk dihindari secara keseluruhan.
Meskipun demikian, setiap individu dapat melatih diri untuk senantiasa mempertanyakan standar visual yang disajikan di media sosial.
APA merekomendasikan penguatan literasi media sosial agar masyarakat memiliki kecakapan dalam menganalisis serta mengevaluasi setiap konten penampilan secara bijak.