Ilmuwan: Silia Mikroskopis di Karang Berisiko Rusak di Laut yang Menghangat

Ilmuwan: Silia Mikroskopis di Karang Berisiko Rusak di Laut yang Menghangat
Ilmuwan: Silia Mikroskopis di Karang Berisiko Rusak di Laut yang Menghangat

DAILYENERGI.COM — Penelitian terbaru mengungkap bahwa struktur mikroskopis mirip rambut di permukaan karang memainkan peran vital dalam memasok oksigen ke jaringan hewan tersebut. Ketika suhu laut naik, silia ini justru bisa berbalik melawan karang dan mempercepat kematiannya.

Karang selama ini dipandang sebagai makhluk pasif yang hanya mengandalkan arus laut untuk mendapatkan nutrisi. Pandangan itu berubah sejak 2014, ketika tim dari Massachusetts Institute of Technology dan Weizmann Institute of Science menemukan bahwa silia—struktur halus seperti rambut di permukaan karang—aktif menciptakan pusaran air untuk mengalirkan oksigen ke jaringan karang.

Temuan itu mematahkan asumsi lama bahwa lapisan batas air di sekitar karang hanya bekerja lewat difusi pasif. Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Science pada Mei 2026 kini memperdalam pemahaman tentang bagaimana organisme tanpa otak dan sistem otot ini mengatur proses tersebut—dan apa yang terjadi saat air di sekitarnya menghangat.

Silia Bekerja Seperti Pompa Oksigen di Malam Hari

Pada siang hari, polip karang mendapat pasokan oksigen melimpah dari alga simbiotik yang berfotosintesis di dalam jaringannya. Saat malam tiba, proses itu berhenti, dan satu-satunya sumber oksigen adalah air di sekitar karang.

Di titik inilah silia mengambil alih. Struktur mikroskopis itu bergerak cepat menghasilkan vorteks air yang mengalirkan oksigen ke lapisan luar jaringan karang. Gerakan yang sama juga membantu menjaga koloni dari endapan sedimen.

Selama ini, para peneliti menggunakan mitra alga simbiotik sebagai indikator kesehatan karang. Silia menawarkan sinyal yang lebih langsung. "Detail yang lebih halus inilah yang bisa membantu kita memahami mengapa sebagian karang memutih dan yang lain tidak, bahkan ketika mereka berada tepat bersebelahan," kata Rachel Alderdice, ahli biologi kelautan dari University of Konstanz, Jerman, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

Ketika Suhu Naik, Sistem Pertahanan Berbalik Arah

Air yang lebih hangat secara alami mengandung lebih sedikit oksigen. Kondisi ini memicu silia bergerak semakin cepat, seolah berjuang mencari napas. Namun di atas ambang suhu tertentu, sistem itu mulai bekerja melawan karang itu sendiri.

Gerakan silia yang semakin kencang justru menghabiskan oksigen yang seharusnya diserap jaringan. Polip pun berisiko mati lemas di air yang kadar oksigennya makin tipis. Fenomena ini menjelaskan mengapa karang bisa mengalami pemutihan dan kematian massal secara tiba-tiba meski berada di lingkungan yang tampak sama.

Difusi, jalur default perpindahan nutrisi di air, berlangsung sangat lambat. Oksigen butuh waktu hingga empat menit hanya untuk menempuh jarak satu milimeter. Karena itu, aliran cepat yang diciptakan silia menjadi krusial—terutama ketika air di dekat permukaan karang melambat akibat gesekan.

Pergeseran Paradigma di Bidang Biologi Karang

Orr Shapiro, ahli mikrobiologi dan teknik lingkungan yang memimpin penelitian 2014 di MIT, awalnya tertarik pada cara mikroba penyebab penyakit karang mengikuti gradien konsentrasi. Di bawah mikroskop, ia menyadari ada sesuatu yang aneh: partikel di lapisan batas berputar dan bercampur, bukan berdifusi pasif seperti yang ia perkirakan.

"Itu bagi saya, dan saya pikir kemudian bagi seluruh bidang, semacam pergeseran paradigma," kata Shapiro, yang kini menjadi peneliti di Volcani Institute, Israel.

Lapisan batas air di sekitar karang ternyata bukan zona statis, melainkan wilayah dinamis tempat silia menciptakan turbulensinya sendiri. Penemuan itu mendorong tim Shapiro memetakan aliran oksigen ke jaringan karang lewat silia.

"Ini benar-benar mengubah cara kami memahami lingkungan mikro ini, karena tiba-tiba difusi tidak lagi terlalu penting," ujarnya.

Kolaborasi Lintas Disiplin untuk Memahami Nasib Karang

Ahli biofisika, biologi kelautan, matematika, dan pemodel kini bekerja sama untuk memahami gaya fisiologis dan hidrodinamik yang bekerja pada silia. Mereka juga meneliti korelasinya dengan pola pemutihan karang, penyakit, dan kematian massal.

Pemahaman baru ini membuka peluang prediksi yang lebih akurat tentang karang mana yang bertahan dan mana yang runtuh di laut yang terus menghangat. Bagi Indonesia, negara dengan kawasan terumbu karang terluas di dunia, temuan ini menjadi sinyal penting untuk memperkuat pemantauan kesehatan karang di wilayah seperti Raja Ampat, Wakatobi, dan Bunaken.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index