IEA: Pasokan Minyak Dunia Turun 5,7 Juta Barel per Hari pada 2026

Sabtu, 19 September 2026 | 10:00:00 WIB

DAILYENERGI.COM — International Energy Agency (IEA) memperkirakan pasokan minyak dunia pada 2026 turun sekitar 5,7 juta barel per hari akibat gangguan produksi dan distribusi di kawasan Timur Tengah. Tekanan pasokan itu membuat harga bahan bakar naik dan memunculkan pertanyaan besar soal apa yang terjadi jika minyak bumi benar-benar habis.

Kondisi itu baru gangguan sementara. Namun bayangan soal minyak yang benar-benar habis memunculkan pertanyaan serius soal dampaknya ke transportasi, industri, hingga barang sehari-hari.

Harga Energi Berpotensi Melonjak

Dampak paling cepat terasa adalah terganggunya pasokan energi. Ketika jumlah minyak yang tersedia tidak mampu memenuhi permintaan, harga minyak dan produk olahannya berpotensi meningkat.

Pola ini sudah terlihat ketika pasokan dunia terganggu meski cadangan belum habis. Jika minyak benar-benar tidak tersedia dalam jangka panjang, tekanan terhadap harga energi akan jauh lebih besar.

Transportasi Harus Berganti Teknologi

Bensin dan solar masih menjadi bahan bakar penting untuk berbagai kendaraan. Tanpa minyak, kendaraan bermesin pembakaran internal harus beralih ke bahan bakar atau teknologi lain.

Kendaraan listrik menjadi salah satu alternatif untuk transportasi darat. Hidrogen dan biofuel juga dapat dipakai di sektor tertentu, meski masing-masing punya tantangan sendiri.

Peralihan itu tidak bisa dilakukan dalam semalam. Dunia membutuhkan jaringan listrik, stasiun pengisian, kendaraan baru, dan infrastruktur pendukung dalam jumlah besar.

Penerbangan Paling Sulit Lepas dari Minyak

Sektor penerbangan menjadi salah satu bidang yang cukup sulit sepenuhnya meninggalkan minyak. Pesawat saat ini masih sangat bergantung pada bahan bakar berbasis minyak.

IEA mencatat penerbangan termasuk sektor yang berperan dalam permintaan minyak dunia. Dalam berbagai proyeksinya, kebutuhan minyak untuk penerbangan sulit digantikan dalam waktu singkat.

Karena itu, pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan dan teknologi alternatif menjadi semakin penting jika minyak semakin terbatas.

Bukan Cuma Bensin, Ini Bahan Baku Plastik

Banyak orang mengira minyak bumi hanya berkaitan dengan bahan bakar kendaraan. Padahal, minyak juga menjadi bahan baku industri petrokimia.

Produk petrokimia digunakan untuk membuat plastik, kemasan, tekstil sintetis, ban, deterjen, hingga komponen produk elektronik. IEA menyebut bahan baku petrokimia menyumbang sekitar 12 persen permintaan minyak global.

Jika minyak tidak tersedia, industri harus mencari bahan baku alternatif. Beberapa produk dapat dibuat menggunakan sumber lain, tetapi prosesnya butuh perubahan teknologi dan rantai produksi.

Rantai Pasok dan Harga Barang Ikut Terdampak

Minyak juga berperan dalam rantai pasok global. Truk, kapal, dan berbagai mesin industri selama ini menggunakan bahan bakar minyak dalam jumlah besar.

Jika pasokannya hilang, perusahaan harus mengganti kendaraan, mesin, dan sistem logistik dengan teknologi berbasis sumber energi lain. Dampaknya merembet ke harga barang.

Ketika biaya produksi dan distribusi meningkat, harga produk yang sampai ke konsumen juga berpotensi ikut naik.

Energi Alternatif Ada, Tantangannya Menggantikan Fungsi Minyak

Habisnya minyak bukan berarti manusia kehabisan energi. Matahari, angin, air, panas bumi, nuklir, dan berbagai sumber energi lain tetap dapat digunakan.

Namun, tantangannya adalah menggantikan fungsi minyak secara menyeluruh. Tidak semua kebutuhan energi dapat digantikan dengan teknologi yang sama.

IEA menilai transformasi sistem energi dapat dilakukan tanpa ketergantungan pada industri minyak dan gas. Proses itu menjadi lebih sulit dan mahal jika tidak disiapkan dengan baik.

Karena itu, pengembangan energi alternatif, teknologi penyimpanan energi, kendaraan listrik, dan bahan bakar alternatif menjadi bagian penting dari transisi energi.

Data IEA menunjukkan pertumbuhan permintaan minyak dunia sudah melambat. Pada 2025, permintaan minyak meningkat sekitar 0,65 juta barel per hari atau 0,7 persen, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan sebelumnya.

Artinya, perubahan besar kemungkinan terjadi sebelum seluruh minyak bumi di dalam tanah benar-benar habis. Tekanan pasokan, harga, dan target iklim akan lebih dulu memaksa dunia beralih.

Terkini