JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meneruskan agenda Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) ke area Kabupaten Berau untuk menekan lonjakan titik api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang saat ini paling dominan di Kalimantan Timur, setelah sebelumnya menuntaskan langkah serupa di Ibu Kota Nusantara.
Kepala Pusat Standardisasi Instrumen Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (PSIMKG) BMKG Rahmat Triyono di Samarinda, Senin, menerangkan bahwa aksi penyemaian awan itu digelar sebagai langkah tanggap darurat merespons tingginya temuan titik panas di kawasan tersebut.
"Operasi mulai dilakukan atas permintaan Bupati Berau kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BMKG, karena wilayah ini memiliki titik panas tertinggi di Kalimantan Timur," ujar Rahmat.
Rahmat menguraikan bahwasanya modifikasi cuaca tidak secara mendadak memicu hujan apabila kondisi langit bersih dari tutupan awan.
"Operasi udara ini mengoptimalkan potensi awan yang sudah tersedia di atmosfer. Jika kelembapan dan ketinggian awan memenuhi persyaratan teknis, penyemaian akan dilakukan guna mempercepat proses terjadinya hujan dan memperluas area cakupan pembasahan lahan," paparnya.
Upaya taktis membasahi area rawan karhutla tersebut, menurutnya, sangat krusial mengingat wilayah Kalimantan Timur sedang berada pada puncak musim kemarau selama bulan Agustus.
Tingkat kekeringan kawasan diprediksi semakin intens akibat pengaruh anomali iklim El Nino berkategori kuat, dengan indeks ENSO menembus angka 2,9. Angka indeks ini bahkan melampaui kondisi ketika insiden karhutla dahsyat merebak pada 2015 lalu.
Selain menyasar Kabupaten Berau, Rahmat menyampaikan bahwa pergerakan OMC telah berlangsung dari 22 Agustus di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) guna menanggulangi persoalan susutnya cadangan air Waduk Sepaku Semoi, yang mana langkah tersebut terbukti efektif menurunkan hujan.
Pihaknya menegaskan bahwa jangkauan penyemaian hujan buatan ini berpeluang terus ditambah bergantung pada eskalasi dinamika karhutla di kawasan lain.
"Operasi modifikasi cuaca ini berpotensi diperluas ke daerah lain jika kondisinya separah Berau," paparnya menambahkan.
Sebagai langkah mitigasi pembesaran dampak karhutla secara menyeluruh, Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji turut mengonfirmasi bahwa jajarannya rutin memantau sebaran 200 titik api per hari, dengan Kabupaten Berau memegang angka terbanyak.
Mengacu pada pemetaan pemerintah daerah, di samping wilayah Berau, titik rawan karhutla yang masuk fokus pemantauan serta pemadaman tim satgas darat saat ini dipusatkan di Kabupaten Paser, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, dan Kutai Barat.