Soal Bantuan Jepang Atasi Karhutla, Menhan Sebut Diplomasi Pertahanan

Soal Bantuan Jepang Atasi Karhutla, Menhan Sebut Diplomasi Pertahanan
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin [FOTO: NET].

JAKARTA - Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin memaparkan bahwasanya dukungan Jepang dalam pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan perwujudan dari diplomasi pertahanan.

“Kerja sama pertahanan, kalau ada teman yang susah, dia balik membantu,” ujar Sjafrie saat Rapat Kerja bersama Komisi I DPR RI, dikutip dari siaran pers Kemhan RI, Selasa (1/9/2026).

Menurut penjelasan Sjafrie, skema kerja sama pertahanan tak cuma berkisar pada penguatan kapasitas militer semata, tetapi turut mencakup uluran bantuan kala salah satu negara dihantam bencana.

Sjafrie menyebutkan, bantuan tersebut menjadi bagian dari sinergi Indonesia-Jepang pada sektor bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana atau Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR).

Dalam operasi penanggulangan karhutla, pihak Jepang menerjunkan tiga unit helikopter CH-47 Chinook.

Rombongan tim pendahulu dari Jepang juga sudah mendarat di Tanah Air guna melangsungkan koordinasi bersama TNI serta satuan tugas penanganan karhutla.

Operasional helikopter tersebut ke depannya bakal ditopang oleh Pangkalan Udara (Lanud) Supadio, Kalimantan Barat. Penggunaannya diselaraskan menurut kebutuhan operasi penanggulangan karhutla yang berada di bawah komando TNI.

Indonesia tetap mampu tangani bencana sendiri

Sjafrie menegaskan, Indonesia sejatinya memiliki daya dan kemampuan untuk mengatasi bencana secara mandiri. Akan tetapi, uluran tangan dari negara sahabat dipandang krusial guna memperkokoh penanganan di lapangan.

Pelaksanaan beserta durasi dukungan tersebut juga disebut bakal menyesuaikan tingkat kebutuhan serta dinamika kondisi karhutla.

Berbekal mekanisme itu, dukungan dari Jepang berkedudukan sebagai pelengkap demi memperkuat dan mengakselerasi ikhtiar nasional dalam melindungi warga dan daerah terdampak.

Sjafrie kembali menekankan bahwa Indonesia tetap mengantongi kapasitas nasional untuk menanggulangi bencana. Namun demikian, dalam koridor hubungan pertahanan bilateral terdapat ikatan rasa tanggung jawab bersama atau sense of responsibility untuk saling menopang sewaktu negara sahabat dilanda kesulitan.

Sjafrie juga memosisikan upaya penanganan bencana sebagai bagian dari tugas-tugas dinamis yang diemban Kemhan beserta TNI untuk kepentingan nasional dan keselamatan rakyat.

Dalam konteks penanggulangan karhutla, mobilisasi potensi nasional yang dipadukan dengan dukungan negara sahabat menjadi bagian dari langkah kolektif demi mempercepat penanganan situasi darurat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index