DAILYENERGI.COM — Penuaan sehat sering cuma dikaitkan dengan kulit dan tubuh, padahal gigi dan rongga mulut ikut mengalami perubahan seiring bertambahnya usia. Dokter gigi spesialis konservasi gigi Christine Hendriono menyebut kesehatan gigi semestinya jadi bagian dari konsep healthy aging, karena menyangkut kemampuan mengunyah sampai kepercayaan diri.
Selama puluhan tahun, gigi terus terpapar makanan, minuman, kebiasaan kebersihan mulut, riwayat gigi berlubang, sampai perawatan yang pernah dijalani. Akumulasi inilah yang membuat gigi lebih rentan bermasalah saat usia bertambah, bukan karena proses menua tiba-tiba.
Lapisan email bisa aus perlahan akibat pemakaian sehari-hari. Gusi yang berubah juga membuat sebagian akar gigi terekspos, sehingga gigi jadi lebih sensitif.
Perubahan yang Sering Terjadi pada Gigi
Warna gigi termasuk yang paling kentara berubah. Struktur bagian dalam gigi ikut berubah, ditambah noda dari kopi, teh, dan kebiasaan merokok, membuat gigi tampak lebih kekuningan atau gelap.
Yang perlu dicatat, kehilangan gigi bukan hal yang pasti dialami semua orang di usia lanjut. Menurut Christine, banyak masalah gigi pada usia lanjut sebenarnya akumulasi persoalan yang tidak ditangani sejak muda.
"Menjadi lebih tua tidak otomatis berarti harus kehilangan gigi. Banyak masalah gigi pada usia lanjut sebenarnya merupakan akumulasi masalah yang tidak ditangani sejak usia lebih muda," kata Christine.
Gigi Goyang Bukan Berarti Tanda Penuaan
Gigi yang mulai goyang atau bergeser kerap dianggap wajar pada orang yang lebih tua. Padahal, kondisi ini tidak selalu bagian normal dari proses penuaan.
Masalah pada jaringan penyangga gigi, termasuk penyakit periodontal, bisa membuat gigi kehilangan dukungan dan lebih mudah bergerak. Kehilangan satu gigi pun berdampak ke susunan lainnya. Ketika gigi pengunyah hilang, beban kunyah berpindah ke gigi lain dan dalam jangka panjang memengaruhi keseimbangan gigitan.
Masalah gigi dan gusi juga tidak selalu menimbulkan rasa sakit di tahap awal. Gigi berlubang, penyakit gusi, hingga masalah jaringan sekitar akar gigi bisa berkembang diam-diam sebelum akhirnya menimbulkan keluhan. Kebiasaan memeriksakan gigi hanya saat sakit membuat masalah yang masih bisa ditangani jadi lebih rumit.
"Pemeriksaan rutin penting karena dokter dapat menemukan masalah sebelum kondisinya berkembang lebih jauh. Prinsipnya sama seperti menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan: pencegahan dan deteksi dini jauh lebih baik daripada menunggu masalah menjadi berat," ujar Christine.
5 Kebiasaan Sederhana buat Jaga Gigi Tetap Sehat
Merawat gigi dalam jangka panjang tidak butuh prosedur rumit. Beberapa kebiasaan dasar berikut bisa jadi fondasi utama.
1. Sikat Gigi Dua Kali Sehari
Gunakan teknik menyikat yang benar dan pasta gigi berfluoride untuk mengendalikan plak serta menurunkan risiko gigi berlubang.
2. Jaga Kesehatan Gusi
Gusi yang mudah berdarah, bengkak, atau berubah sebaiknya diperiksakan karena bisa jadi tanda masalah periodontal.
3. Batasi Makanan dan Minuman Manis serta Asam
Paparan yang terlalu sering meningkatkan risiko kerusakan gigi.
4. Jangan Abaikan Gigi Retak, Berlubang, atau Sensitif
Semakin dini ditangani, semakin besar peluang gigi bisa dipertahankan.
5. Periksa Gigi Secara Berkala
Pemeriksaan rutin membantu dokter memantau kondisi gigi, gusi, dan jaringan pendukungnya, sekaligus menentukan perawatan yang dibutuhkan.
Gigi Asli Tetap Prioritas
Teknologi kedokteran gigi kini menawarkan makin banyak pilihan perawatan, termasuk perawatan saluran akar dan rehabilitasi dengan implan. Meski begitu, tindakan tetap disesuaikan dengan kondisi tiap pasien.
Jika gigi masih bisa dipertahankan dengan prognosis baik, mempertahankan gigi asli tetap jadi prioritas. Jadi, mulailah rawat gigi dari sekarang, bukan setelah muncul keluhan.