BYD Catat Penurunan Laba dan Pendapatan Paruh Pertama 2026, Saham Terkoreksi di Hong Kong

Senin, 31 Agustus 2026 | 16:25:00 WIB

DAILYENERGI.COM — PT BYD Indonesia memang tidak terdampak langsung, namun kabar ini penting bagi konsumen yang menantikan model-model listrik terbaru dari pabrikan asal Tiongkok tersebut. Secara global, kondisi pasar domestik Tiongkok yang lesu menjadi beban utama, di tengah gempuran perang harga kendaraan listrik yang masih berlangsung hingga pertengahan tahun ini.

Laba Bersih Terkoreksi Lebih Dalam daripada Pendapatan

Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis akhir pekan lalu, pendapatan BYD tercatat 344,8 miliar yuan atau setara Rp850 triliun pada periode Januari-Juni 2026. Angka ini menyusut 7,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham bahkan lebih dalam, terkoreksi 20,5 persen menjadi USD1,8 miliar. Kondisi ini langsung direspons pasar dengan pelemahan saham BYD di bursa Hong Kong hingga lebih dari empat persen pada Senin (31/8/2026).

Kuartal II-2026 Mulai Membaik, Pendapatan Masih Turun

Jika dilihat per kuartal, kinerja BYD menunjukkan titik terang. Pada kuartal kedua 2026, laba bersih berhasil tumbuh 30 persen dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu, menjadi USD1,22 miliar. Kendati demikian, pendapatan kuartalan masih tercatat turun 3,0 persen ke level USD29,2 miliar.

Artinya, efisiensi biaya mulai terasa pada periode April-Juni, tetapi daya dorong penjualan dari pasar domestik belum sepenuhnya pulih. BYD sendiri mengakui bahwa permintaan di dalam negeri masih lemah, sehingga strategi ekspansi ke luar negeri menjadi faktor penentu utama pertumbuhan.

Ekspor Jadi Penopang Utama dengan Pertumbuhan Hampir 68 Persen

Di tengah lesunya pasar domestik, performa ekspor justru menjadi penyelamat. Sepanjang paruh pertama 2026, BYD mengirimkan 792.000 unit kendaraan ke berbagai negara, melonjak 67,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pasar luar negeri kini menjadi kontributor utama pertumbuhan volume penjualan BYD secara global. Capaian ini sekaligus menunjukkan bahwa permintaan terhadap kendaraan listrik buatan Tiongkok di kawasan Asia Tenggara, Eropa, dan Amerika Latin tetap solid meskipun ada kebijakan tarif impor di sejumlah negara.

Bagi pasar Indonesia, kabar ini bisa dibaca sebagai sinyal positif. Dengan tekanan pasar domestik Tiongkok, BYD kemungkinan akan semakin agresif menggenjot penjualan di negara berkembang, termasuk Indonesia, yang menjadi salah satu basis produksi dan pasar terbesarnya di Asia Tenggara.

Terkini