Pertalite Tak Naik sampai Desember 2026, Pembelian Orang Kaya Dibatasi

Senin, 31 Agustus 2026 | 20:24:00 WIB

DAILYENERGI.COM — Pernyataan itu disampaikan Bahlil di kompleks DPR, Jakarta, Senin (31/8). Ia tengah menghitung ulang kebutuhan kuota subsidi setelah lonjakan harga Pertamax mendorong sebagian konsumen beralih ke Pertalite. Bila peralihan itu cukup besar, alokasi subsidi BBM bisa bertambah — tetapi harga jual Pertalite tetap dikunci.

Harga Pertalite Terkunci, BBM Nonsubsidi Ikuti Pasar

Bahlil menegaskan pemerintah tidak akan menaikkan harga jual Pertalite paling lambat hingga Desember 2026. Penyesuaian baru akan dievaluasi setelah melihat perkembangan harga minyak global.

"Tapi apapun yang terjadi saya menyampaikan bahwa harga minyak atau harga BBM subsidi khususnya subsidi itu tidak akan kita naikkan. Sampai dengan 2026 Desember sambil kita melihat perkembangan global," ujarnya.

Berbeda dengan Pertalite, harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax akan dibiarkan bergerak mengikuti harga pasar. Artinya, jika harga minyak dunia terus bergejolak, konsumen BBM nonsubsidi yang akan menanggung dampaknya.

Pembatasan untuk Desil 9-10 Masih Digodok

Rencana membatasi pembelian Pertalite bagi kelompok masyarakat desil 9 dan 10 belum final. Bahlil mengakui data pembagian desil yang dipakai saat ini masih dikeluhkan karena dianggap tidak sesuai kondisi perekonomian sebenarnya.

"Itu masih di-exercise. Karena apa? Kita ingin subsidi itu harus tepat sasaran. Nah salah satu cara untuk membuat tepat sasaran data kita harus valid," kata Bahlil.

Pemerintah tidak ingin kebijakan pembatasan malah menyulitkan warga miskin. Jika data desil keliru, orang yang berhak menerima subsidi justru terpotong aksesnya.

"Nah desilnya ini yang kita lagi ngecek terus jangan sampai harapan kita baik, tapi ternyata implementasinya karena datanya yang tidak valid membuat sesuatu yang tidak sesuai harapan kita," terangnya.

Kuota Subsidi Berpotensi Ditambah

Kenaikan harga Pertamax dalam beberapa bulan terakhir membuat sebagian pemilik kendaraan beralih ke Pertalite yang lebih murah. Bahlil menyebut perpindahan konsumsi dari RON 92 ke RON 90 itu sedang dihitung dampaknya terhadap kuota subsidi.

"Kita lagi tetap menghitung potensi kelebihannya berapa. Memang kan waktu ketika terjadi kenaikan harga BBM dunia itu ada sebagian yang RON 92 rakyat yang lain masuk untuk mengisi ke RON 90 sehingga terjadi kenaikan," jelasnya.

Kenaikan kuota yang diputuskan nanti akan disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan. Yang pasti, tambahan alokasi tidak akan mengubah harga beli Pertalite di pompa bensin.

Keputusan ini menjadi kunci bagi jutaan pengguna Pertalite, termasuk angkutan umum, ojek daring, dan usaha mikro yang menggantungkan operasionalnya pada BBM bersubsidi. Pembatasan yang adil dan data yang valid akan menentukan apakah subsidi benar-benar dinikmati yang berhak.

Terkini